Pakar nilai penting perkuat sistem pencegahan kebakaran di Bromo
Jakarta (ANTARA) - Dewan Pakar Bidang Pariwisata BA Centre Taufan Rahmadi menilai mitigasi dan sistem pencegahan kebakaran perlu diperkuat dalam pengelolaan destinasi wisata Gunung Bromo untuk memastikan keselamatan wisatawan dan mencegah kejadian serupa kembali berdampak pada aktivitas pariwisata.
“Pemulihan destinasi itu tidak hanya cukup dengan membuka kembali kawasan wisata. Tetapi, yang paling penting adalah harus memastikan bahwa kawasan tersebut benar-benar aman dan layak dikunjungi,” kata Taufan kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Menurut dia, kebijakan penanganan dan pemulihan pariwisata perlu dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah daerah sebagai pengelola kawasan, pelaku usaha, asosiasi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Baca juga: Asap tebal jadi tantangan pemadaman karhutla di Gunung Bromo dan Butak
Koordinasi tersebut diperlukan antara lain untuk memetakan dampak kebakaran terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk menyampaikan informasi mengenai status kawasan serta mekanisme pengembalian atau penjadwalan ulang tiket apabila terjadi penutupan.
Selain itu Taufan menilai perlu disiapkan alternatif produk destinasi wisata yang tetap aman dan dapat dikunjungi sehingga wisatawan tetap memperoleh kepastian dan perlindungan, sementara masyarakat serta pelaku pariwisata yang terdampak masih memiliki ruang untuk mempertahankan aktivitas ekonominya.
Terkait pemicu kebakaran, Taufan mengatakan penyebab spesifik perlu menunggu hasil pemeriksaan dari pihak yang memiliki kewenangan dan kompetensi terkait.
Baca juga: BPBD Malang pastikan kobaran api di Jemplang, Bromo telah padam
Terlepas dari penyebab setiap kejadian, ia menilai perlu diperkuat sistem mitigasi atau pencegahan serta tindakan cepat tanggap apabila terjadi kebakaran maupun musibah lainnya.
“Bromo itu merupakan destinasi dengan karakter alam dan ekosistem yang sangat sensitif. Sehingga, menurut saya pendekatan keselamatan dan mitigasi risikonya memang harus menjadi bagian integral dari pengelolaan destinasi,” ujarnya.
Taufan juga menekankan bahwa program keselamatan berwisata tidak cukup hanya berupa imbauan kepada wisatawan, tetapi perlu mencakup sistem keselamatan destinasi secara menyeluruh.
Baca juga: TNBTS sebut titik asap di Bromo berhasil dilokalisasi petugas gabungan
Wisatawan perlu mendapatkan informasi yang mudah dipahami, sementara pengelola harus memiliki standar operasional dan prosedur tanggap darurat yang jelas. Petugas juga perlu memiliki kapasitas respons yang memadai serta didukung koordinasi antar para pihak.
Bagi pengelola destinasi, dia mengimbau agar kewaspadaan dan pengawasan terhadap aktivitas wisatawan terus ditingkatkan, termasuk memastikan informasi tersampaikan secara optimal, melakukan pembatasan aktivitas bila diperlukan, serta memperjelas mekanisme pelaporan.
“Yang penting itu, jangan menunggu api membesar ya, dalam mitigasi bencana, kecepatan mendeteksi, melaporkan, dan merespons pada masa awal sangat menentukan,” kata Taufan.
Baca juga: BPBD Jatim: "Water Bombing" kebakaran di Bromo terkendala cuaca
Sebelumnya, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim Satriyo Nurseno membenarkan bahwa kawasan Gunung Bromo kembali terbakar lagi setelah sempat padam beberapa waktu lalu.
Satriyo menjelaskan bahwa kebakaran terjadi pada Kamis (10/9) sore sekitar pukul 16.00 WIB, tepatnya di kawasan Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Kebakaran dipicu oleh angin kencang dan meluas hingga ke arah Lembah Watangan atau Bukit Teletubbies.
Baca juga: TNBTS sebut kebakaran di kawasan Bromo meluas ke Jemplang Malang
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.