Meski Inflasi Naik, Imbal Hasil Riil dari Obligasi Dinilai Lebih Atraktif Karena Hal Ini |Republika Online

Meski Inflasi Naik, Imbal Hasil Riil dari Obligasi Dinilai Lebih Atraktif Karena Hal Ini |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Data inflasi Indonesia pada Juni 2026 bergerak meninggi hingga hampir menyentuh level teratas dari target pemerintah, sehingga berpotensi menurunkan imbal hasil riil yang diperoleh in...

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Data inflasi Indonesia pada Juni 2026 bergerak meninggi hingga hampir menyentuh level teratas dari target pemerintah, sehingga berpotensi menurunkan imbal hasil riil yang diperoleh investor dari instrumen obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN). Kendati data inflasi naik, ASEAN Economist UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja berpandangan, imbal hasil riil dari obligasi bakal lebih atraktif, seiring dengan proyeksi terkendalinya nilai tukar rupiah imbas dari kenaikan suku bunga acuan/BI Rate.Β 

β€œRiil yield adalah patokan yang gamblang. Misalnya inflasi 3,48 persen, yield (obligasi) 7 persen, maka riil yield-nya 3,52 persen. Ini kan yang dibandingkan (dipertimbangkan investor). Tetapi ke depannya, kami melihat rupiah merupakan salah satu faktor penentu kenapa BI masih harus menaikkan suku bunga. Jadi bukan serta-merta inflasi,” kata Enrico dalam acara UOB Media Literacy Circle bertajuk β€˜Navigating Market Volatility: Building Portofolio Resilience with ORI030’ yang digelar Bank UOB di Teras Ramayana, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026).

Diketahui, tingkat inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat mencapai 3,48 persen secara tahunan/year on year (yoy), melonjak dari bulan sebelumnya sebesar 3,08 persen (yoy). Realisasi tersebut hampir menyentuh level atas target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.Β 

Secara ekonomi, kenaikan tingkat inflasi bisa menekan minat terhadap obligasi dengan kupon tetap. Sebab semakin tinggi inflasi, selisih atau spread imbal hasil yang diterima investor menjadi lebih kecil. Investor tidak hanya melihat kupon atau yield saja, tetapi juga berapa keuntungan riil yang masih tersisa setelah inflasi.Β Β 

Sebagai gambaran, inflasi saat ini berada di 3,48 persen, dengan Obligasi Negara Ritel atau Obligasi Ritel Indonesia seri terbaru yakni 030 (ORI030) membeli imbal hasil 7 persen untuk tenor enam tahun, artinya investor hanya memperoleh keuntungan riil 3,5 persen dari selisih antara inflasi dan yield. Jika inflasi turun menjadi 3 persen, keuntungan riil yang diperoleh investor semakin besar yakni sekitar 4 persen, sebaliknya jika inflasi melonjak ke level 3,8 persen (misalnya), keuntungan riil hanya sebesar 3,2 persen.Β 

Adapun, naik atau turunnya imbal hasil sangat dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga acuan/BI Rate yang diputuskan oleh Bank Indonesia (BI). Inflasi merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan di dalam memutuskan BI Rate, namun bukan satu-satunya. Menurut Enrico, fluktuasi rupiah lebih menjadi sorotan utama.Β 

β€œKita perlu kasih catatan, inflasi yang didorong oleh supply side shock biasanya tidak bisa di-handle oleh kenaikan suku bunga. Tapi Indonesia berbeda, karena kalau rupiah melemah terus, inflasi akan meningkat, jadi harus dicegah,” terangnya.

Menurut penjelasan Enrico, Indonesia memiliki karakteristik tersendiri, yaitu ketergantungan terhadap impor. Akibatnya, rupiah mengalami pelemahan, dan kemudian inflasi bisa semakin tinggi melalui kenaikan harga barang impor. Oleh sebab itu, BI tetap perlu menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah, sementara pemerintah menggunakan kebijakan fiskal untuk mengatasi gangguan pasokan.Β 

β€œKalau rupiah melemah terus, dia akan fit in. Fiskal bisa absorb schock, ada batasnya. Jadi maksud saya, kita mesti lihat ke depannya seperti apa. Prediksi kami, inflasi masih akan di bawah 3 persen rata-rata. Riil yield harusnya stabil atau bahkan meningkat. Jadi istilah kata, ketertarikannya itu masih ada,” ujar dia.Β