Mahasiswa penerima beasiswa KIP-K harus cerdas kelola biaya hidup
Mahasiswa penerima beasiswa KIP-K harus cerdas kelola biaya hidup
Sabtu, 15 Agustus 2026 15:45 WIB
Mahasiswa Prodi Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UMBY penerima beasiswa KIP-K. (ANTARA/HO-Dok foto UMBY)
Yogyakarta (ANTARA) - Haninnaja Kevina Shenaya, mahasiswa Prodi Sistem Informasi, Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UMBY menyatakan meskipun menjadi penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), mahasiswa harus tetap cerdas dalam mengelola bantuan biaya hidup yang diterima.
Hanin sapaan akrabnya di Yogyakarta, Sabtu, mengatakan, ekspektasi awal tentang biaya kuliah ternyata meleset, sebab sebelum menjadi mahasiswa UMBY dengan dukungan beasiswa KIP-K, dia mengira beban terberat ada pada SPP atau uang gedung.
Akan tetapi, menurut dia, pengeluaran terbesar justru terletak pada kebutuhan operasional harian dan penunjang tugas perkuliahan, karena itu sebagai mahasiswa KIP-K, harus dituntut untuk cerdas mengelola bantuan biaya hidup yang ia terima.
"Selama bisa menjaga gaya hidup tetap terukur dan tidak tergiur perilaku konsumtif, pengeluaran bulanan masih sangat bisa dikendalikan. Keinginan untuk ikut tren atau gaya hidup tertentu itu wajar di usia mahasiswa, tapi saya selalu ingat batas dan prioritas kebutuhan utama," katanya.
Menurut dia, beban untuk mempertahankan beasiswa dengan syarat IPK minimal 2.75 justru dia ubah menjadi bahan bakar motivasi, agar tekanan tersebut membuatnya lebih disiplin dalam manajemen waktu belajar.
Bahkan Anin turut partisipasi menjadi tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dan lomba inovasi digital lainnya, hingga membuktikan ketika semester empat, dia mendapatkan IPK 3.88.
Meski belum mengambil pekerjaan purna waktu demi fokus akademik dan organisasi, Hanin tetap produktif mencari penghasilan tambahan yang sejalan dengan jurusannya, seperti menjadi asisten dosen yang sekaligus kesempatan memperdalam materi kuliah.
"Dari situ saya sadar, memaksakan diri berlebihan justru bikin hasil merosot. Kuncinya kembali ke skala prioritas dan menyusun jadwal harian agar kesehatan serta nilai kuliah tidak dikorbankan," katanya.
Menurut dia, seorang mahasiswa diukur dari karya dan pencapaian, bukan dari barang yang dipakai, dan untuk menghindari jebakan finansial, ada dua strategi utama yakni, yang pertama mencatat arus keuangan menggunakan aplikasi di ponsel agar selalu terpantau.
Kemudian menerapkan aturan Jeda tujuh Hari, jadi kalau setelah seminggu keinginan membeli barang non-esensial itu hilang, berarti barang itu memang tidak benar-benar dibutuhkan.
Lebih lanjut, dia mengatakan, definisi paling realistis dari 'Merdeka Keuangan Pendidikan Kuliah' adalah ketika seorang mahasiswa bisa sepenuhnya fokus menuntut ilmu dan mengejar mimpi tanpa harus terhenti oleh kendala biaya.
"Bisa kuliah tenang tanpa memikirkan tagihan SPP atau uang gedung adalah bentuk kemerdekaan belajar yang sangat nyata buat saya," katanya.
Bagi calon mahasiswa yang masih ragu melangkah karena kendala biaya, dia memberikan saran aplikatif yaitu beasiswa bukanlah jalan pintas yang menanggung seluruh urusan hidup, mahasiswa tetap harus berjuang keras dan bertanggung jawab mengelola biaya hidup sehari-hari.
"Jadi, mulailah bergerak dari sekarang. Rajin cari informasi beasiswa, asah manajemen waktu, dan terus upgrade kapasitas diri. Jangan cuma menunggu, karena doa yang kuat harus diimbangi dengan aksi nyata," katanya.
Ke depan, dia berharap dapat lulus dengan IPK memuaskan dan menerapkan ilmunya untuk masyarakat. Dan berharap agar kelak makin sedikit anak muda yang harus memendam mimpi kuliah hanya karena urusan biaya.
Pewarta : HRI
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026