Menari Gratis di Museum, Cara Asyik Kenal Budaya Nusantara

Menari Gratis di Museum, Cara Asyik Kenal Budaya Nusantara

Jakarta -

Jakarta punya banyak cara untuk menghabiskan akhir pekan. Salah satunya dengan mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional dan belajar menari seperti tari-tarian tradisional secara gratis.

Kelas tari gratis tersebut merupakan bagian dari program Yayasan Belantara Budaya Indonesia yang didirikan oleh Diah Kusumawardani. Program itu bermula 13 tahun lalu dan pertama kali dicetuskan di Museum Kebangkitan Nasional.

Founder Belantara Budaya Indonesia, Diah Kusumawardani, kepada detikTravel Minggu (6/9/2026), menceritakan program tersebut awalnya lahir dari kegelisahannya melihat anak muda yang mulai kurang tertarik dengan tari tradisional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, ia membuat program tari dan musik tradisional secara gratis agar generasi muda kembali mengenal budayanya. "Saya buatlah program gratis tari dan musik tradisional gratis," ujar Diah.

Respons dari peserta ternyata cukup antusias. Di awal program, sekitar 50 anak bergabung setelah informasi disebarkan melalui media sosial dan lingkungan sekitar museum. Dalam waktu sekitar satu setengah hingga dua bulan, jumlah peserta terus bertambah hingga museum menjadi lebih ramai.

Kini program tersebut telah berkembang menjadi 22 sekolah gratis dengan lebih dari 9.000 siswa. Kelasnya tersebar di sejumlah daerah seperti Jakarta, Bogor hingga Cirebon. Khusus di Museum Kebangkitan Nasional, kelas tari digelar setiap Minggu dengan durasi sekitar dua jam.

Dalam satu sesi, jumlah peserta bahkan bisa mencapai 200 orang ketika sedang ramai. Tarian yang diajarkan juga tidak terpaku pada satu daerah. Awalnya, kelas di Jakarta banyak mengajarkan tari Betawi karena menyesuaikan diri dengan kearifan lokal. Setelah berjalan bertahun-tahun, materi kemudian berkembang ke berbagai tari Nusantara.

Menariknya, kelas ini tidak mengenal batas usia yang ketat. Peserta di Museum Kebangkitan Nasional dapat berusia 3 tahun hingga 70 tahun. Ada pula kelas intermediate dengan materi yang lebih sulit yang umumnya diikuti oleh peserta usia 13 tahun ke atas.

Program ini juga membuka ruang bagi peserta difabel. Diah menceritakan bahwa salah satu pengalaman yang membuatnya kemudian mengembangkan kelas khusus adalah ketika seorang anak dengan down syndrome bergabung dan perlahan mampu menghafal gerakan tari hingga mengajarkannya kembali di SLB.

Kini Belantara Budaya Indonesia memiliki dua sekolah gratis khusus difabel dan dua sekolah inklusi. Menurut Diah, seluruh kelas tersebut tetap gratis karena ia ingin semakin banyak generasi muda mengenal budaya sekaligus memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan.

"Program kami memang gratis karena kami pengen sekali generasi emas Indonesia mengenal budayanya dan di kemudian hari mereka berdampak secara ekonomi," katanya.

Bagi traveler yang ingin mencari aktivitas berbeda di akhir pekan, belajar tari di museum bisa menjadi pilihan. Bukan cuma bergerak mengikuti irama, peserta juga diajak mengenal budaya Indonesia dari gerakan yang dipelajari.