Korea Selatan Gagal di Piala Dunia 2026, Petinggi Sepak Bola Dicecar Parlemen
Setelah Korea Selatan tersingkir dari Piala Dunia, kementerian olahraga membentuk Komite Inovasi K-Football. Komite tersebut bertugas membahas berbagai langkah untuk memperbaiki tata kelola KFA dan persoalan lain dalam sepak bola negara itu.
Dua ketua bersama komite baru itu, mantan kapten Korea Selatan Park Ji-sung dan Presiden Komite Olahraga dan Olimpiade Korea Ryu Seung-min, dipanggil sebagai saksi ahli dalam sidang. Namun, hanya Ryu yang hadir.
Dalam sesi berikutnya, Kim Jin-kyu, yang menjadi asisten Hong pada Piala Dunia, membantah kabar mengenai perselisihan antara Hong dan sejumlah pemain selama turnamen.
Anggota parlemen dari DP, Choi Min-hee, mengatakan sebagian pendukung menduga Hong sengaja mencadangkan dua pemain senior, kapten Son Heung-min dan gelandang Lee Jae-sung, pada awal pertandingan terakhir Grup A melawan Afrika Selatan karena persoalan pribadi.
Ketika Choi menyebut sebagian pendukung menilai absennya kedua pemain itu sejak awal turut menyebabkan Korea Selatan kalah 0-1, Kim mengatakan dirinya dan jajaran pelatih tidak sependapat dengan penilaian tersebut.
Choi kemudian kembali mendesak Kim menjelaskan alasan Korea Selatan kalah dari tim yang tidak diunggulkan itu.
"Sulit bagi saya untuk mengatakan mengapa kami kalah," jawab Kim.
Choi pun menimpali, "Sikap seperti inilah yang membuat sepak bola kita mengalami berbagai persoalan, padahal kita memiliki banyak pemain hebat."
Dalam sesi sidang pada sore hari, para anggota komite mendesak KFA mencabut banding atas putusan pengadilan yang mendukung tuntutan Kementerian Olahraga agar Chung dan sejumlah petinggi KFA lainnya dikenai sanksi disiplin.
Kementerian sebelumnya meminta KFA menjatuhkan sanksi kepada Chung dan sejumlah pejabat lainnya atas berbagai penyimpangan yang ditemukan dalam audit pada 2024.
KFA kemudian memperoleh putusan sela pengadilan yang menangguhkan sementara tuntutan pemberian sanksi tersebut. Putusan itu membuka jalan bagi Chung untuk terpilih menjalani masa jabatan keempat sebagai Presiden KFA pada Februari 2025.
Ketika kementerian kembali meminta KFA mengambil tindakan pada awal tahun ini, federasi tersebut justru memilih melanjutkan proses hukum.
Anggota parlemen dari PPP, Yun Yong-keun, mengatakan KFA seharusnya mengakui kesalahannya dan mencabut banding sebagai bukti kesediaan organisasi itu untuk berbenah.
Namun, Wakil Presiden KFA Lee Yong-soo, yang saat ini menjalankan tugas sebagai pemimpin sementara federasi, menolak desakan tersebut.
"Bukan berarti kami menolak menerima seluruh temuan. Kami menilai masih ada beberapa hal yang perlu diperdebatkan," beber Lee Yong-soo.
"Dalam rapat dewan, kami telah memutuskan untuk melanjutkan perkara ini ke persidangan berikutnya dan kemudian menerima dengan lapang dada apa pun hasilnya. Tidak tepat apabila kami kembali menggelar rapat dewan hanya untuk mencabut banding."
"Apabila pemimpin dan jajaran dewan yang baru nantinya memutuskan untuk mencabut banding, keputusan itu menjadi kewenangan mereka."
Lee Yong-soo membantah tudingan Lee Jae-jung bahwa dirinya bersikap keras kepala.
"Kami mengambil langkah ini karena ada beberapa bagian dari temuan kementerian yang belum dapat kami terima," ujarnya.
Di tengah polemik tersebut, Menteri Olahraga Chae Hwi-young mengatakan kementeriannya tengah mempersiapkan satu lagi audit khusus terhadap KFA.