Ketegangan Meningkat, Iran Ancam Batalkan MoU Islamabad jika AS Terus Ingkar

Ketegangan Meningkat, Iran Ancam Batalkan MoU Islamabad jika AS Terus Ingkar

Pelanggaran berulang yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) Islamabad dapat mendorong Teheran untuk membatalkan perjanjian damai tersebut.

Bagikan:

JAKARTA - Pelanggaran berulang yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) Islamabad dapat mendorong Teheran untuk membatalkan perjanjian damai tersebut.

Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, setelah menghadiri pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York.

"Iran tetap berkomitmen untuk setia terhadap implementasi MoU tersebut, dengan syarat AS juga setia dan sepenuhnya mematuhi kewajibannya sendiri. Namun, jika AS terus melanggar kewajibannya, maka Iran tidak lagi terikat untuk memenuhi kewajibannya di MoU itu," ujar Iravani kepada wartawan, Jumat (10/7/2026).

Iravani menyoroti dimulainya kembali aksi militer oleh AS sebagai bentuk pelanggaran besar terhadap Piagam PBB dan poin utama MoU Islamabad. Dalam perjanjian tersebut, Washington sebenarnya telah berkomitmen untuk menghentikan permusuhan dan menahan diri dari penggunaan kekuatan militer terhadap Iran.

"AS memikul tanggung jawab internasional secara penuh atas semua konsekuensi hukum dan politik yang timbul dari tindakannya yang melanggar hukum," tegasnya.

BACA JUGA:


Kronologi Konflik: Saling Serang di Selat Hormuz dan Pangkalan Militer

Situasi di Timur Tengah kembali memanas hanya beberapa minggu setelah kedua negara menyepakati penghentian konflik. Berikut adalah garis waktu runtuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran:

  • 18 Juni 2026: AS dan Iran menandatangani MoU Islamabad dari jarak jauh untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
  • 8-9 Juli 2026: Pasukan AS melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim serangan ini adalah respons atas tindakan Iran yang membatasi lalu lintas maritim di kawasan strategis Selat Hormuz.
  • Aksi Balasan Iran: Menanggapi serangan AS, pasukan Iran meluncurkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Iran menuduh Washington secara terang-terangan mengkhianati kesepakatan damai.

Rencana Negosiasi Baru di Swiss dan Respons Donald Trump

Di tengah situasi yang kritis, secercah jalur diplomasi dikabarkan masih terbuka. Menurut laporan media Axios, kedua negara dijadwalkan akan melakukan putaran baru pembicaraan pada pekan depan yang kemungkinan besar bertempat di Swiss.

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa pihaknya telah sepakat untuk melanjutkan proses negosiasi dengan Iran. Namun, Trump mengklaim bahwa kelanjutan dialog ini terjadi atas permintaan pihak Teheran. Ia juga menegaskan posisi Washington saat ini terkait status konflik tersebut.

"Gencatan senjata telah berakhir," ujar Donald Trump.

Dunia kini menanti apakah pertemuan di Swiss pekan depan mampu meredam perang terbuka, atau justru Timur Tengah akan kembali terseret ke dalam konflik bersenjata yang lebih luas.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+