Kementan pilih Koperasi Solok Rajo jadi lokasi studi tiru program UPLAND
Solok (ANTARA) - Koperasi Solok Radjo di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menjadi rujukan Kementerian Pertanian dalam pembelajaran pengelolaan koperasi melalui program The Development of Integrated Farming System in Upland Area (UPLAND).
Direktur Lahan dan Irigasi Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) RI Liferdi Lukman di Solok, Selasa mengatakan bahwa Kementan melalui program UPLAND terus fokus memperkuat kapasitas kelembagaan petani dengan menumbuhkan dan membina koperasi korporasi petani.
Menurut dia langkah tersebut diambil agar para petani di dataran tinggi tidak hanya fokus pada budidaya, tetapi juga mampu menguasai sektor pascapanen, pengolahan, hingga pemasaran agar bisa bersaing di pasar global.
Di samping itu, pemerintah juga memiliki program pengembangan komoditas di wilayah dataran tinggi sekaligus memperkuat kelembagaan petani.
Ia mengatakan Koperasi Solok Rajo menarik perhatian Kementerian Pertanian karena dikembangkan oleh anak muda dan telah mampu mengelola komoditas kopi mulai dari hulu hingga pemasaran.
"Komoditas akan berkembang kalau dikelola dengan manajemen yang bagus. Mereka harus mampu menghimpun kelembagaan," katanya.
Menurut dia, pengalaman Koperasi Solok Rajo dalam membangun rantai usaha kopi menjadi pembelajaran penting bagi koperasi peserta UPLAND untuk mengembangkan kelembagaan, meningkatkan nilai tambah, dan memperluas akses pasar.
Selain itu, Ketua Pelaksana Kegiatan Studi Tiru dan Pelatihan Manajemen Koperasi KPSU Solok Rajo, Elzafina mengatakan Koperasi Solok Rajo dipilih sebagai studi tiru karena memiliki pengalaman dalam mengembangkan usaha pertanian kopi kendati terkendala keterbatasan lahan.
"Petani sebenarnya tidak harus memiliki lahan sendiri, tetapi harus kreatif mencari celah. Salah satunya yang telah dilakukan oleh Koperasi Solok Rajo berkolaborasi dan bekerja sama dengan bidang kehutanan," katanya.
Ia menyebutkan bahwa koperasi Solok Rajo telah mengelola sekitar 3.200 hektare kawasan hutan untuk ditanami kopi dengan tetap mempertahankan pohon yang ada. Model tersebut dinilai dapat menjadi pembelajaran bagi koperasi lain dalam mengembangkan komoditas pertanian di tengah keterbatasan lahan.
Selain pengelolaan lahan, kata dia, Koperasi Solok Rajo juga memiliki manajemen usaha yang telah tertata, termasuk pencatatan dan perhitungan keuangan yang dilakukan setiap hari serta administrasi yang dinilai baik.
Koperasi tersebut juga melakukan diversifikasi usaha melalui pengembangan pariwisata, kuliner, pabrik kopi, kafe, restoran, dan tujuh gerai yang dikelola melalui badan usaha berbentuk perseroan terbatas.
"Pertanggungjawaban dari usaha tersebut tetap dilakukan kepada koperasi. Ini yang menjadi salah satu alasan kami menjadikan Solok Rajo sebagai tempat studi tiru," ujarnya.
Dia mengatakan program UPLAND telah berkembang di 14 kabupaten pada tujuh provinsi dengan total 47 koperasi. Dalam kegiatan studi tiru tersebut, sebanyak sembilan koperasi dari tiga kabupaten yang hadir untuk mempelajari pengelolaan Koperasi Solok Rajo.
Peserta merupakan koperasi produsen hasil pertanian dengan komoditas yang berbeda, di antaranya kopi, kapulaga, dan lada. Pembelajaran akan disesuaikan dengan karakteristik komoditas masing-masing koperasi.
Ia berharap para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut dapat mengadopsi praktik pengelolaan yang diterapkan Koperasi Solok Rajo dan menyesuaikannya dengan kondisi daerah masing-masing.
Sementara itu, Ketua Koperasi Solok Rajo Joni Sandika Putra mengapresiasi Kementerian Pertanian yang memilih koperasinya sebagai lokasi studi tiru dan pelatihan manajemen koperasi.
Menurut dia, kepercayaan tersebut menjadi tantangan bagi Solok Rajo untuk terus meningkatkan kemampuan dalam mengelola koperasi sekaligus menjadi momentum bagi organisasi untuk belajar dan berkembang.
"Solok Rajo masih merupakan organisasi yang terus bertumbuh. Ini menjadi momen bagi kami untuk belajar dan melihat peluang yang bisa dikembangkan ke depan," katanya.
Joni mengatakan Koperasi Solok Rajo berdiri pada 2012 dengan fokus utama pada pengolahan kopi dan penjualan bibit. Koperasi tersebut mulai mengekspor kopi sejak 2017 dan terus mengembangkan pemasaran kopi dari petani hingga konsumen.
Ia mengatakan pengembangan usaha dilakukan dengan membangun ekosistem kopi dari hulu hingga hilir agar keberadaan koperasi memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Salah satu dampaknya terlihat dari harga kopi di tingkat petani yang semakin kompetitif. Pada 2017, harga kopi ceri berada sekitar Rp6.000 per kilogram, sedangkan saat ini mencapai sekitar Rp15.000 per kilogram.
Ia menyebutkan saat ini Koperasi Solok Rajo membina sekitar 580 kepala keluarga petani. Jumlah tersebut menurun dari sekitar 800 kepala keluarga sebelum pandemi COVID-19.