Kemenkes kirim 314 nakes-logistik ke tujuh provinsi terdampak karhutla
Kemenkes kirim 314 nakes-logistik ke tujuh provinsi terdampak karhutla
Senin, 24 Agustus 2026 05:20 WIB
Petugas melakukan pemadaman kebakaran lahan di wilayah Kota Palangka Raya. (ANTARA/Aulia Rahman.)
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengerahkan mengerahkan 314 tenaga medis/tenaga kesehatan dan ratusan ribu logistik kesehatan ke tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan merespons krisis kualitas udara yang memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan," kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Agus Jamaludin di Jakarta, Minggu.
Dia menyebutkan, lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda tujuh provinsi di Indonesia.
Berdasarkan data Kemenkes per Jumat (21/8), tujuh provinsi yang terdampak karhutla meliputi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Enam di antaranya telah menetapkan status siaga darurat bencana seiring kemarau panjang yang berlangsung sejak awal 2026.
Lonjakan kasus ISPA dilaporkan terjadi secara signifikan di sejumlah wilayah. Di Kalimantan Tengah, kasus ISPA melonjak dari 402 kasus menjadi 716 kasus dalam waktu 1 minggu (78,1 persen).
Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151 ribu kasus sejak Januari 2026, dengan lonjakan tertinggi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah. Tren serupa, yang juga disertai kasus asma dan iritasi, turut dilaporkan di Riau dan Kalimantan Selatan.
Meski demikian, belum ada laporan korban jiwa akibat bencana asap ini.
"Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan," terang Agus di Jakarta (21/8).
Selain pengerahan SDM kesehatan, Agus menjelaskan bahwa Kemenkes juga secara masif mendistribusikan perlengkapan medis dan obat-obatan.
Secara keseluruhan logistik yang telah disalurkan meliputi 278.940 buah masker, 56 unit Oxygen Concentrator (OC), 40 buah face shield, 1.000 pasang sarung tangan medis (handscoon), 36 tabung Oxycan, 8 set alat pelindung diri (APD), 33 dus pemberian makanan tambahan (PMT), serta obat-obatan dan vitamin.
Di titik-titik rawan seperti Kabupaten Barito Utara, Barito Timur, dan Kota Palangkaraya, pemerintah telah mendirikan pos kesehatan dan ruang oksigen. Selain itu, program "Oase Udara" juga dijalankan di fasilitas kesehatan Kalimantan Barat untuk memastikan ketersediaan oksigen bagi warga yang mengalami sesak napas.
Puncak musim kemarau diprediksi masih akan berlangsung hingga September 2026. Oleh karena itu, Kemenkes mengimbau masyarakat di zona merah karhutla untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, memakai masker ketika di luar ruangan, rutin memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, memperbanyak konsumsi air putih, dan segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan pernapasan.
Baca juga: Polda Kalteng manfaatkan ribuan sumur bor untuk atasi karhutla
Baca juga: Kapolda Kalteng uji ATV percepat pemadaman karhutla di Petuk Ketimpun
Baca juga: Karhutla mengancam, Pemerintah andalkan modifikasi cuaca di Kalimantan
Baca juga: Petugas terus berjibaku padamkan karhutla di Palangka Raya
Baca juga: Polisi ringkus dua pelaku diduga pembakar lahan di Palangka Raya
Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Rajib Rizali
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.