Kemendikdasmen: STEAM bekal murid SMK hadapi perubahan dunia kerja - ANTARA News Gorontalo
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengatakan pembelajaran sains, teknologi, engineering, seni (arts) dan matematika (STEAM) menjadi bekal bagi para murid SMK untuk menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja yang berlangsung cepat.
“Dunia kerja bergerak sangat cepat. World Economic Forum (WEF) memperkirakan 39 persen keterampilan yang dimiliki pekerja akan menjadi usang pada periode 2025-2030,” kata Staf Khusus (Stafsus) Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) dan Kompetensi Guru Maila Dinia Husni dalam webinar bertajuk "STEAM: Dari Imajinasi, Inovasi hingga Prestasi" di Jakarta pada Jumat.
Perubahan tersebut, kata dia, membuat kebutuhan terhadap kecakapan kecerdasan buatan (AI), literasi data dan teknologi, berpikir kreatif, ketangguhan, serta kemauan untuk terus belajar semakin meningkat.
Maila menambahkan siswa SMK kini tidak hanya harus menguasai kompetensi yang dibutuhkan saat ini, namun juga harus memiliki kemampuan belajar secara berkelanjutan mengingat teknologi dan cara kerja berubah sangat cepat.
Hal tersebut, lanjutnya, sejalan dengan laporan WEF yang menyebutkan 85 persen perusahaan akan memprioritaskan peningkatan keterampilan (upskilling) tenaga kerja hingga 2030.
“Bagi murid SMK, sertifikat kompetensi adalah bekal awal. Sementara pembelajaran dengan pendekatan STEAM melatih kebiasaan para murid dalam mempelajari alat baru, membaca data, menerima umpan balik, dan memperbaiki hasil,” imbuhnya.
Ia menuturkan pendekatan STEAM juga relevan dengan kebutuhan industri karena persoalan di dunia kerja tidak hadir dalam kotak-kotak mata pelajaran.
Kendaraan listrik, otomasi, pertanian cerdas, energi terbarukan, film, hingga teknologi Extended Reality (XR) misalnya, membutuhkan penguasaan berbagai bidang ilmu secara terintegrasi.
“Industri memerlukan lulusan yang mampu bekerja bersama dan menghasilkan solusi yang berfungsi, aman, efisien, serta sesuai dengan kebutuhan pengguna,” ucap Maila.
Karena itu ia menilai STEAM memiliki kedekatan dengan pendidikan SMK yang selama ini berbasis praktik dan karya.
Menurutnya, SMK bahkan telah memiliki laboratorium STEAM dalam bentuk nyata, seperti bengkel, dapur, studio, tempat praktek kerja lapangan, dan teaching factory.
Di dapur, misalnya, ia mengatakan murid dapat mengintegrasikan bahan, proses, takaran, teknologi, penyajian, hingga kebutuhan pasar. Sementara di bengkel, lanjutnya, sains bertemu dengan teknik, pengukuran, keselamatan, kreativitas, dan desain.
Pada bidang tata busana, fungsi bahan, ukuran, estetika, serta kebutuhan konsumen juga dipadukan untuk menghasilkan sebuah karya.
“Ketika semua unsur itu disatukan dalam karya, STEAM menjadi kemampuan untuk mencipta. Inilah kekuatan lulusan SMK,” ujarnya.
Ia menegaskan lulusan SMK memiliki keunggulan karena tidak hanya memahami konsep STEAM, namun juga mampu mempraktikkan dan menghasilkan karya berdasarkan keempat bidang tersebut.
“Teman-teman SMK memahami, mempraktikkan, dan membuat sains, teknologi, engineering, dan matematika dalam bentuk yang sesungguh-sungguhnya,” kata Maila.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemendikdasmen: STEAM bekal murid SMK hadapi perubahan dunia kerja
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.