Kemenbud RI sebut keberadaan museum perkuat jati diri bangsa
Kemenbud RI sebut keberadaan museum perkuat jati diri bangsa
Sabtu, 25 Juli 2026 16:58 WIB
Penandatanganan prasasti pada soft opening Tahir Solo Museum di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026). ANTARA/Aris Wasita
Solo (ANTARA) - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI menyebut keberadaan museum mampu memperkuat identitas dan jati diri bangsa.
Direktur Sejarah dan Permuseuman Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kemenbud RI Agus Mulyana pada soft opening Tahir Solo Museum di Solo, Jawa Tengah, Sabtu mengatakan Indonesia adalah bangsa yang besar.
“Kita adalah bangsa yang punya masa lalu sangat besar. Bagaimana identitas ini kita bangun, kita kembangkan sehingga mampu menjadi modal besar di dalam membangun bangsa ini,” katanya.
Mengenai keberadaan Tahir Solo Museum, dikatakannya, merupakan salah satu bagian penting dari upaya membangun kemajuan kebudayaan.
“Kalau kita lihat kebudayaan yang kita miliki sangat kaya. Pak Menteri Kebudayaan, Pak Fadli Zon sering menyebutnya bukan lagi sangat beragam, tapi mega diversity, sangat super,” katanya.
Ia mengatakan hal ini akan menjadi kekuatan bagi Bangsa Indonesia untuk membangun upaya sebagai bangsa yang besar.
“Hadirnya museum ini dengan bangunan yang sangat megah, semoga ini mengembalikan memori kolektif Solo sebagai bagian penting dari pusat kebudayaan Jawa di Indonesia. Kita banyak belajar dalam sejarah, bagaimana Solo ini menjadi pusat kebudayaan yang penting,” katanya.
Ia mengatakan museum merupakan bagian dari upaya melestarikan warisan budaya.
“Jangan sampai kita terputus dengan masa lalu. Masa lalu adalah pelajaran, masa sekarang adalah kenyataan, masa depan adalah sebuah harapan. Inilah harapan kita untuk melihat Indonesia masa depan,” katanya.
Selain itu, museum juga menjadi sarana pendidikan. Menurut dia, maju dan mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan melalui pendidikan.
“Salah satu bagian di dalam menanamkan pendidikan, membangun karakter, yaitu dengan penanaman nilai-nilai sejarah, dan sejarah dapat dihadirkan di masa lalu salah satunya adalah hadirnya museum,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Tahir Foundation Datuk Sri Tahir menceritakan niatnya untuk berkontribusi bagi Kota Solo berawal dari pertemuannya dengan Wali Kota Surakarta pada saat itu, yakni Gibran Rakabuming Raka.
“Saya merasa sangat terhormat, tiga tahun yang lalu saya ketemu Mas Wali Gibran yang sekarang menjadi Wapres,” katanya.
Tahir Solo Museum terdiri lima fase. Fase pertama diorama yang terdiri dari antariksa, robotik, dan dinosaurus. Sedangkan fase kedua adalah presidential center dan auditorium. Untuk fase ketiga dan selanjutnya diserahkan ke Pemkot Surakarta.
“Infrastruktur sudah didirikan. Itu adalah tanggung jawabnya Pak Wali (Wali Kota Surakarta) untuk yang mengolah. Hanya usulan saya di sana bisa bangun rumah sakit, hotel, lalu satunya bisa untuk UMKM. Ya untuk memberikan cipta lapangan kerja untuk UMKM. Jadi, infrastruktur sudah kita bangun,” katanya.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi menyampaikan terima kasih kepada Datuk Sri Tahir dan Wali Kota Surakarta sebelumnya, Gibran Rakabuming Raka yang telah menginisiasi pembangunan museum tersebut.
Respati mengatakan kehadiran Tahir Solo Museum menjadi keberkahan bagi warga Solo. Menurutnya, museum ini menjadi langkah baru dalam pengembangan pusat pendidikan berbasis sains, teknologi, dan budaya di Kota Bengawan.
“Tentu ini berkah bagi warga Solo dan saya hari ini melanjutkan perjuangan dari yang sebelumnya, Mas Gibran. Finish-nya memang masih panjang, tapi ini awal mula berkah yang luar biasa dari Pak Tahir untuk warga Solo dan tentunya menjadi pusat pendidikan di Solo yang baru,” katanya.
Ia mengatakan Pemerintah Kota Surakarta juga akan menyiapkan mekanisme pemanfaatan Tahir Solo Museum sebagai ruang edukasi sekaligus wisata bagi masyarakat.
Ia mengaku terkesan dengan berbagai fasilitas dan koleksi yang ditampilkan di dalam museum. Menurutnya, konsep museum yang memadukan unsur sains, teknologi, dan budaya akan menjadi nilai tambah bagi Kota Solo sebagai destinasi pendidikan, wisata, dan kebudayaan.
“Hari ini kita mendapatkan Tahir Solo Museum dengan konsep art, science, dan culture. Tadi dimulai di lantai bawah ada teknologi STEM, di tengah ada fosil, tata surya, dan lain-lain, lalu di atas ada seni dan kebudayaan. Ke depan kami juga membuka peluang kerja sama lagi dengan tetangga di sini, yang spesial adalah UNS dan ISI, untuk pengembangan museum ini,” katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.