Kehamilan Ektopik di Bekas Luka Caesar: Gejala, Risiko, & Pentingnya Diagnosis Dini

Kehamilan Ektopik di Bekas Luka Caesar: Gejala, Risiko, & Pentingnya Diagnosis Dini

Jakarta - Umumnya kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim seperti di tuba fallopi. Namun, pernahkah Bunda mendengar k...

Jakarta -

Umumnya kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim seperti di tuba fallopi. Namun, pernahkah Bunda mendengar kehamilan ektopik di bekas luka caesar atau cesarean scar ectopic pregnancy (CSEP)? Kondisi tersebut memang jarang terjadi tapi perlu mendapat perhatian.

Kehamilan ektopik di bekas luka caesar dapat menyebabkan perdarahan hebat, robekan rahim (ruptur uteri) hingga mengancam keselamatan ibu jika tidak diketahui sejak dini.

Menurut ulasan yang diterbitkan di jurnal Radiographics, angka persalinan melalui operasi caesar terus meningkat di berbagai negara. Di Amerika Serikat, misalnya, sekitar 32,1 persen persalinan dilakukan dengan operasi caesar pada 2021, sementara di beberapa negara angkanya bahkan dilaporkan mendekati 50 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Seiring semakin banyaknya perempuan yang memiliki riwayat operasi caesar, kasus kehamilan ektopik di bekas luka caesar (CSEP) juga semakin sering dikenali dalam praktik klinis.

Meski demikian, kondisi ini masih sering terlambat didiagnosis karena gejalanya pada awal kehamilan sering kali menyerupai kehamilan normal atau bahkan tidak menimbulkan keluhan sama sekali.

Kehamilan ektopik bekas luka sesar (CSEP) adalah kondisi ketika embrio menempel pada jaringan parut bekas sayatan operasi caesar sebelumnya, bukan pada lapisan rahim yang normal.

Akibatnya, kantung kehamilan dan jaringan trofoblas berkembang pada area bekas luka operasi caesar yang dinding rahimnya lebih tipis sehingga meningkatkan risiko komplikasi.

Menurut Society for Maternal-Fetal Medicine (SMFM), CSEP termasuk salah satu bentuk kehamilan ektopik yang membutuhkan penanganan segera karena dapat berkembang menjadi placenta accreta spectrum, yaitu plasenta tumbuh terlalu dalam hingga sulit dilepaskan saat persalinan.

Diagnosis sejak trimester pertama sangat penting. Penanganan yang dilakukan lebih awal dapat mengurangi lama rawat inap, mempertahankan kesuburan, menurunkan biaya perawatan, serta mencegah berkembangnya kehamilan menjadi placenta accreta spectrum (PAS) yang berisiko menyebabkan perdarahan hebat.

Seberapa sering kehamilan ektopik di bekas luka caesar terjadi?

Kehamilan ektopik di bekas luka caesar tergolong sangat jarang. Ulasan di jurnal Radiographics menyebutkan bahwa sejumlah penelitian memperkirakan kejadiannya sekitar 1 dari 1.800 hingga 1 dari 2.656 kehamilan, atau sekitar 1 dari 500 hingga 1 dari 2.000 perempuan dengan riwayat operasi caesar.

Kondisi ini diperkirakan menyumbang sekitar 4–6 persen dari seluruh kehamilan ektopik.

Meski demikian, angka ini diperkirakan lebih rendah dari kondisi sebenarnya karena sebagian kasus tidak terdiagnosis atau baru diketahui setelah muncul komplikasi.

Siapa yang lebih berisiko alami kehamilan ektopik di bekas luka caesar?

Bunda yang memiliki riwayat operasi caesar berisiko mengalami CSEP. Semakin banyak jumlah operasi caesar yang pernah dijalani maka risiko terjadinya implantasi pada bekas luka diduga semakin meningkat.

Selain itu, beberapa penelitian juga mengaitkan peningkatan risiko dengan:

  • Pernah menjalani lebih dari satu operasi caesar.
  • Riwayat operasi lain pada rahim.
  • Program bayi tabung (IVF).
  • Pernah mengalami kehamilan ektopik.
  • Kelainan penyembuhan bekas luka rahim.
  • Riwayat CSEP sebelumnya.

Gejala kehamilan ektopik di bekas luka caesar

Ibu hamil dengan CSEP dapat menunjukkan berbagai gejala. Namun, sebagian perempuan tidak mengalami gejala apapun pada awal kehamilan.Β 

Melansir ScienceDirect, beberapa pasien dengan CSEP mengalami gejala seperti:

  • Perdarahan vagina.
  • Nyeri perut bagian bawah.
  • Kram.
  • Nyeri panggul.

Dalam sebuah tinjauan yang dimuat di Obstetrics and Gynecology Clinics of North America terhadap 57 pasien CSEP, 39 persen mengalami perdarahan vagina tanpa rasa sakit, 37 persen tidak menunjukkan gejala, dan 25 persen mengalami nyeri perut dengan atau tanpa perdarahan .

Pada kasus yang sudah mengalami komplikasi dapat muncul:

  • Perdarahan hebat.
  • Nyeri perut mendadak yang sangat berat.
  • Pusing hingga pingsan akibat perdarahan.

Karena itu, perempuan dengan riwayat operasi caesar dianjurkan segera melakukan USG saat awal kehamilan.

Mengapa diagnosis dini sangat penting?

Diagnosis paling ideal dilakukan pada usia kehamilan sekitar 6–7 minggu melalui USG transvaginal. Pada tahap ini lokasi implantasi masih lebih mudah dikenali sehingga dokter dapat menentukan penanganan sebelum kehamilan berkembang lebih jauh dan risiko komplikasi meningkat.

Karena jika terlambatΒ  diketahui, CSEP dapat menyebabkan:

  • Perdarahan hebat
  • Ruptur uterus
  • Placenta accreta spectrum
  • Persalinan prematur
  • Histerektomi
  • Kematian ibu (jarang tetapi dapat terjadi)

Kantung kehamilan yang letaknya rendah di atas ostium serviks internal pada pasien dengan riwayat operasi caesar seharusnya menimbulkan kecurigaan terhadap CSEP, dan ini harus memicu pemeriksaan diagnostik yang tepat.Β 

Bagaimana dokter mendiagnosis CSEP?

Pemeriksaan utama adalah USG transvaginal pada trimester pertama. Waktu optimal adalah pada 6–7 minggu, meskipun tanda-tanda yang dijelaskan dapat digunakan hingga 12 minggu

Dokter akan menilai:

  • Lokasi kantung kehamilan
  • Ketebalan dinding rahim pada bekas luka
  • Aliran darah menggunakan Doppler
  • Hubungan kantung kehamilan dengan kandung kemih.

Pada beberapa kasus, MRI dapat digunakan sebagai pemeriksaan tambahan jika hasil USG belum jelas.

Apakah kehamilan ini bisa dipertahankan?

Menurut rekomendasi Society for Maternal-Fetal Medicine, sebagian besar kasus CSEP dianjurkan mendapatkan penanganan aktif karena risiko komplikasinya sangat tinggi jika meneruskan kehamilan.

Penanganan dapat berupa operasi pengangkatan jaringan kehamilan, pemberian obat pada kondisi tertentu, atau kombinasi beberapa prosedur. Pilihan terapi akan disesuaikan dengan usia kehamilan, kondisi ibu, lokasi implantasi, serta keinginan pasien untuk mempertahankan kesuburan.

Karena itu, perempuan yang hamil lagi setelah operasi caesar sebaiknya melakukan pemeriksaan USG pada awal trimester pertama agar lokasi kantung kehamilan dapat dipastikan sejak dini.

Demikian penjelasan mengenai kehamilan ektopik di bekas luka caesar. Semoga informasinya membantu ya Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)