Jelang Muktamar, Gus Yahya: Jabatan di NU Adalah Amanah, Bukan untuk Dibanggakan
AKURAT.CO Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengingatkan seluruh pengurus NU agar memandang jabatan organisasi sebagai amanah dengan tanggung jawab besar. Ia menegaskan, posisi dalam struktur NU tidak seharusnya dijadikan sarana untuk mencari pengakuan atau membangun kedekatan dengan tokoh tertentu.
Gus Yahya menyampaikan hal tersebut saat berada di Gedung PCNU Kotawaringin Barat, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (22/7/2026). Menurutnya, siapa pun yang dipercaya memegang jabatan di NU harus menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh dan mengutamakan kepentingan jam'iyah.
"Ini adalah tanggung jawab dengan beban yang luar biasa besar bagi kita semua," kata Gus Yahya.
Baca Juga: Hasto Ingatkan Keutuhan NU Jelang Muktamar ke-35
Ia mengaku turut merasakan beratnya amanah sebagai Ketua Umum PBNU. Karena itu, ia mengajak seluruh pengurus NU di berbagai tingkatan untuk menjalankan tugas dengan ikhlas, penuh tanggung jawab, dan berorientasi pada pelayanan kepada organisasi.
Gus Yahya mengatakan perbedaan pandangan dan dinamika internal merupakan hal yang wajar dalam organisasi. Namun, kepentingan pribadi tidak boleh mengalahkan kepentingan bersama, khususnya dalam menjaga persatuan dan kemaslahatan NU.
"Kepentingan pribadi, keberatan-keberatan pribadi, keinginan-keinginan pribadi harus ditinggalkan demi kepentingan bersama jam'iyah Nahdlatul Ulama yang kita cintai ini," ujarnya.
Ia juga mengajak warga NU menghidupkan kembali pesan Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari sebagaimana tertuang dalam Muqaddimah Qanun Asasi. Menurutnya, kasih sayang, kerukunan, dan persatuan harus tetap dijaga di tengah berbagai dinamika organisasi.
"Apa pun keadaannya, apa pun masalahnya, kita tidak boleh kehilangan kasih sayang dan saling mencintai di antara sesama warga, sesama kader, dan sesama pengurus jam'iyah Nahdlatul Ulama," kata Gus Yahya.
Selain ikatan secara lahiriah, Gus Yahya menilai warga NU perlu memperkuat ikatan ruhani. Salah satu amalan yang dianjurkannya adalah membaca Surah Al-Fatihah setiap hari dan menghadiahkan pahalanya kepada para muassis, ulama, pimpinan, serta warga NU sebagai bentuk doa dan upaya memperkuat ikatan spiritual.
Gus Yahya juga menegaskan bahwa setiap pengurus yang telah dilantik harus memberikan manfaat bagi organisasi. Ia mengingatkan agar tidak ada pengurus yang hanya menyandang jabatan tanpa memberikan kontribusi nyata bagi jam'iyah.
"Tidak boleh ada pengurus yang sudah dilantik lalu membiarkan dirinya tidak menyumbangkan manfaat kepada jam'iyah. Setiap orang harus berguna, karena perjuangan kita adalah perjuangan peradaban," tegasnya.
Baca Juga: Di Mana Muktamar NU Pertama Kali Digelar?
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya turut menyoroti pentingnya kaderisasi untuk memperkuat keberlanjutan organisasi. PBNU, kata dia, terus mengembangkan program Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak NU (PDPKPNU) dan Pendidikan Menengah Kepemimpinan NU (PMKNU).
Hingga kini, PDPKPNU telah dilaksanakan lebih dari 1.000 angkatan dan meluluskan lebih dari 130.000 kader. Sementara itu, PMKNU telah mencapai lebih dari 80 angkatan dengan jumlah lulusan lebih dari 4.000 kader.
Meski demikian, Gus Yahya menilai proses kaderisasi masih harus terus diperkuat. PBNU menargetkan dapat mencetak 2,5 juta kader terlatih di lingkungan NU sebagai bagian dari upaya memperkuat estafet perjuangan dan pengabdian organisasi pada masa mendatang.
"Kita akan terus melakukan pelatihan kader ini sampai tercapai target 2,5 juta kader terlatih di lingkungan jam'iyah Nahdlatul Ulama," ujarnya.