Isu letusan hebat anak Krakatau, BRIN ungkap fase aktivitasnya
Isu letusan hebat anak Krakatau, BRIN ungkap fase aktivitasnya
Senin, 14 September 2026 22:43 WIB
Warga berdiri dengan latar belakang Gunung Anak Krakatau yang mengeluarkan asap terlihat dari Pulau Sebesi di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Selasa (8/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan berdasarkan pantauan pada 7-8 September, Gunung Anak Krakatau mengalami dua kali gempa erupsi, empat kali gempa hembusan, 76 kali gempa frekuensi rendah, 100 kali gempa hybrid/fase banyak, gempa tremor menerus, delapan kali gempa vulkanik dangkal dan sembilan kali gempa vulkanik dalam. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/nym.
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aditya Pratama menyatakan bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada dalam fase inkubasi, sehingga potensi letusan dahsyat pembentuk kaldera masih cukup jauh.
"Pada (Gunung) Anak Krakatau, ini diperkirakan masih pada fase inkubasi begitu ya. Masih cukup jauh untuk menuju ke fase fermentation sebelum terjadinya caldera forming eruption," kata Aditya dalam diskusi kebencanaan yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan sistem gunung api di Selat Sunda ini secara historis terbagi dalam tiga periode utama, yaitu Krakatau tua, Krakatau muda, dan Anak Krakatau yang muncul perlahan pascaletusan 1883.
Pola letusan yang membentuk kaldera umumnya diawali oleh tahapan inkubasi, pematangan (maturasi), fermentasi, dan berpuncak pada letusan besar pembentuk kaldera itu sendiri.
Aditya memaparkan, berdasarkan riset terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Frontiers in Earth Science, dapur magma Anak Krakatau teridentifikasi berada di rentang kedalaman 7,4 hingga 26,6 kilometer.
Menurut dia, kondisi tersebut sangat berbanding terbalik dengan Krakatau tua dan Krakatau muda yang terbukti memiliki kantong dapur magma besar di kedalaman sangat dangkal menjelang masa kehancurannya.
"Jadi paling tidak sudah ada dua siklus pembentukan kaldera begitu ya di abad ke-5, abad ke-4, abad ke-6, dan 1883," ucap Aditya memberikan konteks sejarah letusan besar.
Melalui analisis petrografi dan geokimia terhadap belasan sampel batuan, tim peneliti juga menemukan bahwa karakteristik magma pada Anak Krakatau terus mengalami evolusi yang membedakannya dengan periode sebelumnya.
Aditya juga menyampaikan adanya kandungan mineral olivin pada sampel Anak Krakatau mempertegas indikasi bahwa kondisi dapur magma saat ini memiliki perbedaan komposisi kimia yang mendasar.
Meski potensi letusan besar tetap ada seiring berjalannya waktu, temuan ini memberikan ruang antisipasi yang lega bagi masyarakat karena proses pematangan tersebut diprediksi memakan waktu yang sangat lama.
Aditya berharap pemahaman mendalam mengenai dapur magma dan siklus gunung api polisiklik ini diharapkan dapat menjadi rujukan berharga bagi pemerintah untuk terus menyempurnakan strategi mitigasi kebencanaan.
Oleh Sean Filo Muhamad
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.