Indonesia Rawan Bencana, Pengamat Dorong Sistem Peringatan Dini Terhubung ke HP
Jakarta -
Pengamat Dorong Indonesia Perkuat EWS, Tak Cukup Andalkan Peringatan Bencana Manual
Indonesia dinilai perlu memperkuat dan mengembangkan Early Warning System (EWS) sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana. Sistem peringatan dini dinilai semakin penting mengingat Indonesia berada di kawasan cincin api atau Ring of Fire.
Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, mengatakan ancaman bencana di Indonesia sangat beragam, mulai dari gunung meletus, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir hingga kebakaran hutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Intinya EWS sangat penting sebab kita adalah negara yang disebut Ring of Fire dan beragam bencana kerap menerjang Indonesia, dari gunung meletus, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan dan lainnya," ujar Heru kepada detikINET, Rabu (19/8/2026).
Disampaikan Heru, Indonesia sebenarnya telah memiliki mekanisme penyebaran informasi kebencanaan yang melibatkan sejumlah pihak. Pada tahap awal, lembaga terkait kebencanaan berkoordinasi dengan operator telekomunikasi dan penyelenggara penyiaran untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Salah satu penerapannya terlihat ketika terjadi gempa yang berpotensi memicu tsunami. Informasi peringatan dapat disampaikan langsung ke ponsel masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak. Informasi serupa juga dapat ditampilkan melalui running text di televisi.
Namun, Heru menilai mekanisme tersebut perlu ditingkatkan agar menjadi sistem yang lebih canggih dan terintegrasi.
"Di era awal-awal, sebenarnya sudah ada koordinasi antara pihak terkait yang menginformasikan kebencanaan dengan operator telekomunikasi dan juga penyelenggara penyiaran. Tapi sekarang agaknya perlu dikembangkan lebih canggih dan terintegrasi," katanya.
Mantan Komisioner BRTI ini mengatakan pengembangan EWS nasional tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Sistem tersebut membutuhkan kolaborasi antara kementerian/lembaga yang menangani kebencanaan, operator telekomunikasi, serta lembaga penyiaran.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar informasi dari sistem pemantauan bencana dapat diteruskan kepada masyarakat melalui berbagai kanal komunikasi secara cepat.
Dengan dukungan operator seluler, misalnya, peringatan dapat disebarkan kepada perangkat yang berada di wilayah berisiko. Sementara lembaga penyiaran dapat menjadi kanal tambahan untuk menjangkau masyarakat yang sedang menonton televisi.
"Perlu kolaborasi K/L terkait kebencanaan, operator telekomunikasi dan lembaga penyiaran," kata Heru.
Menurut dia, sistem peringatan dini juga perlu diarahkan agar mampu bekerja secara lebih terintegrasi, sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi setelah bencana terjadi, tetapi memperoleh peringatan sedini mungkin ketika terdapat indikasi ancaman.
Penguatan EWS, lanjut Heru, juga membutuhkan dukungan anggaran. Transformasi sistem kebencanaan nasional menjadi lebih cerdas dan terintegrasi tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur yang sudah tersedia.
"Ya harus juga disediakan anggaran untuk mentransformasikan sistem kebencanaan nasional lebih cerdas dan terintegrasi," tegasnya.
detikINET telah menghubungi Kementerian Komdigi terkait pengembangan EWS nasional. Namun, hingga berita ini ditayangkan belum ada jawaban dari pemerintah.
(agt/agt)
TAGSLIHAT LAINNYA