Ilmuwan Ungkap Mengapa Kebakaran Hutan Makin Sulit Dikendalikan
Jakarta -
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda wilayah Kalimantan. Ribuan personel hingga armada udara dikerahkan untuk menangani kebakaran di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Situasi di Kalimantan mengingatkan sulitnya mengendalikan kebakaran ketika kondisi lingkungan mendukung api untuk terus menyebar. Persoalan serupa kini menjadi perhatian ilmuwan di berbagai belahan dunia, mengapa kebakaran hutan ekstrem semakin sulit dikendalikan?
Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications menemukan salah satu jawabannya. Dalam studi berjudul 'Climate change has increased the odds of extreme regional forest fire years globally' John T. Abatzoglou dan rekan-rekannya mengungkap perubahan iklim akibat aktivitas manusia ternyata telah meningkatkan kemungkinan munculnya kondisi cuaca yang sangat mendukung kebakaran atau extreme fire weather.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kondisi iklim saat ini, peluang munculnya cuaca kebakaran ekstrem diperkirakan 88-152% lebih tinggi dibandingkan pada era praindustri. Ketika kondisi seperti ini terjadi, kebakaran bukan hanya lebih mudah muncul dan menyebar, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi kebakaran berukuran sangat besar.
Bukan Sekadar Karena Suhu Panas
Para peneliti menggunakan indikator bernama Fire Weather Index (FWI) untuk melihat seberapa mendukung kondisi cuaca terhadap terjadinya dan meluasnya kebakaran. Indeks ini memperhitungkan sejumlah faktor meteorologis yang berkaitan dengan perilaku api. Dalam studi tersebut, tahun-tahun dengan kebakaran ekstrem umumnya bertepatan dengan kondisi fire weather yang juga ekstrem.
Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar Bumi yang semakin panas. Ketika kondisi atmosfer membuat vegetasi dan material mudah kehilangan kelembapan, api memiliki lebih banyak bahan bakar yang kering. Dalam situasi seperti itu, kebakaran dapat berkembang menjadi jauh lebih besar.
Penelitian menemukan bahwa pada tahun-tahun kebakaran ekstrem, jumlah kebakaran besar meningkat sekitar empat kali lipat, sedangkan emisi karbon dari kebakaran meningkat sekitar lima kali lipat dibandingkan tahun-tahun non-ekstrem.
Mengapa api makin sulit dikendalikan? Salah satu jawabannya adalah periode cuaca yang mendukung kebakaran dapat menjadi lebih ekstrem. Ketika kondisi panas dan kering berlangsung bersamaan dengan faktor meteorologis lain yang meningkatkan bahaya kebakaran, vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.
Api pun dapat menyebar lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk melakukan pemadaman. Para peneliti menemukan bahwa di sebagian besar kawasan hutan yang diteliti, tahun dengan kebakaran ekstrem berhubungan erat dengan kondisi fire weather yang sangat tinggi.
Dalam analisis global, tahun kebakaran ekstrem memiliki peningkatan median sekitar 73% dalam jumlah kebakaran dan sekitar 321% dalam jumlah kebakaran berukuran sangat besar dibandingkan tahun-tahun non-ekstrem. Emisi karbon dari kebakaran hutan dan deforestasi juga meningkat sekitar 405%.
Artinya, persoalannya bukan hanya lebih banyak api. Api yang muncul juga berpotensi menjadi lebih besar, dan perubahan iklim memperbesar peluangnya. Di sejumlah kawasan, peningkatannya bahkan lebih besar. Wilayah Amazon menjadi salah satu kawasan dengan kenaikan risiko paling tinggi. Penelitian menemukan kemungkinan terjadinya kondisi fire weather ekstrem di sejumlah ekoregion Amazon dapat meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan kondisi praindustri.
Karhutla di Kalimantan
Namun, para peneliti juga menekankan bahwa hubungan antara iklim dan kebakaran tidak sederhana. Kebakaran hutan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, termasuk iklim, kondisi vegetasi, penggunaan lahan, aktivitas manusia, dan karakteristik ekosistem.
Hal ini sangat penting ketika temuan penelitian global tersebut dikaitkan dengan kawasan tropis seperti Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Para peneliti menemukan bahwa sejumlah tahun kebakaran ekstrem di Amazon dan Asia Tenggara tidak selalu bertepatan dengan kondisi fire weather yang paling ekstrem.
Di wilayah tersebut, deforestasi dan pembukaan lahan menggunakan api turut memainkan peran penting. Artinya, perubahan iklim tidak dapat disebut sebagai satu-satunya penyebab kebakaran.
Namun, perubahan iklim dapat mengubah kondisi lingkungan sehingga kebakaran yang dipicu faktor lain menjadi lebih mudah berkembang. Kalimantan memiliki kawasan hutan tropis yang luas dan sejumlah wilayah dengan lahan gambut. Ketika kondisi menjadi kering, vegetasi dan material organik dapat lebih mudah terbakar.
Dalam konteks ini, penelitian tersebut tidak bisa digunakan untuk mengatakan bahwa setiap kebakaran di Kalimantan disebabkan oleh perubahan iklim. Tetapi temuan ilmiah ini memberikan gambaran mengenai mekanisme yang lebih luas: ketika kondisi iklim membuat cuaca kebakaran menjadi lebih ekstrem, pekerjaan pemadaman dapat menjadi semakin berat.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa pengendalian kebakaran menghadapi tantangan ketika kondisi fire weather ekstrem terjadi secara luas. Jika banyak wilayah mengalami kondisi serupa pada waktu yang bersamaan, kebutuhan terhadap sumber daya pemadaman dapat melonjak dan berpotensi melampaui kapasitas yang tersedia.
Penelitian ini menganalisis sejumlah contoh tahun kebakaran ekstrem, termasuk kebakaran Australia 2019-2020, kebakaran wilayah barat Amerika Serikat pada 2020, dan kebakaran Kanada pada 2023.
Para ilmuwan mendefinisikan extreme fire year sebagai tahun dengan luas area terbakar terbesar dalam catatan MODIS periode 2002-2023 di suatu wilayah. Dalam banyak ekoregion yang diteliti, luas hutan yang terbakar pada tahun ekstrem bahkan setidaknya lima kali lebih besar dibandingkan rata-rata tahun lainnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kebakaran ekstrem bukan sekadar versi 'lebih besar' dari kebakaran biasa. Ketika kondisi lingkungan dan cuaca berada pada titik yang sangat mendukung api, skala kebakaran dapat melonjak berkali-kali lipat.
Pada akhirnya, temuan ini menjelaskan mengapa menghadapi karhutla di masa depan bisa menjadi semakin menantang. Ketika iklim membuat kondisi fire weather ekstrem semakin mungkin terjadi, pemadaman cepat saja mungkin tidak cukup.
Upaya pencegahan, pengelolaan vegetasi dan lahan, pemantauan kondisi cuaca, sistem peringatan dini, serta kesiapan sumber daya pemadam menjadi semakin penting untuk menghadapi risiko kebakaran yang dapat berkembang jauh lebih cepat dan luas.
(rns/rns)
TAGSLIHAT LAINNYA