Ibas Dorong Indonesia Terkoneksi dengan Transportasi Aman dan Inklusif
Jakarta, VIVA – Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menekankan pentingnya membangun sistem perhubungan nasional yang terintegrasi, aman, terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan sebagai salah satu fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Baca Juga
Hal tersebut diungkapkan Ibas dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk “Konektivitas, Teknologi, dan Mobilitas Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045”.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menegaskan bahwa karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang luas, jumlah penduduk besar, serta pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar membutuhkan sistem konektivitas yang mampu menjembatani berbagai wilayah secara efektif.
Baca Juga
Kemudian, kata dia, pembangunan konektivitas harus dilakukan dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya fiskal negara serta kebutuhan pembiayaan sektor lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, pertahanan, energi, pangan, dan infrastruktur.
Karena itu, menurut Ibas, tantangan pembangunan transportasi nasional tidak semata-mata terletak pada pembangunan infrastruktur baru, tetapi juga bagaimana menciptakan arsitektur pembiayaan jangka panjang yang memungkinkan pembangunan konektivitas dilakukan secara konsisten.
Baca Juga
“Kalau kita serius membangun konektivitas menuju 2045, kita tidak bisa berpikir hanya dalam siklus satu tahun anggaran. Kita membutuhkan pembiayaan multiyears,” kata Ibas dalam keterangan tertulis, Kamis, 17 September 2026.
Ia menyebut APBN dan APBD perlu berperan sebagai pemicu, sementara BUMN, skema KPBU, investasi swasta, serta pembiayaan pembangunan dapat menjadi bagian dari ekosistem pembiayaan konektivitas nasional.
Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian bukan sekadar besarnya anggaran, tetapi bagaimana setiap rupiah yang diinvestasikan menghasilkan nilai ekonomi dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ibas juga menyoroti pentingnya perubahan cara pandang dalam pembangunan infrastruktur transportasi.
Indonesia, kata dia, perlu bergeser dari pendekatan yang berorientasi pada proyek menuju pendekatan yang berorientasi pada sistem.
“Bukan hanya bertanya, berapa kilometer jalan yang kita bangun? Tetapi berapa waktu yang kita hemat untuk rakyat,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Demikian pula dengan pembangunan pelabuhan. Ia menambahkan ukuran keberhasilannya tidak hanya pada jumlah pelabuhan yang dimiliki, tetapi juga seberapa cepat dan efisien barang dapat bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Pendekatan serupa juga perlu diterapkan terhadap seluruh moda transportasi, termasuk jalan raya, kereta api, pelabuhan, dan bandara.
Halaman Selanjutnya
“Jalan tidak boleh berdiri sendiri. Pelabuhan tidak boleh berdiri sendiri. Bandara tidak boleh berdiri sendiri. Kereta api tidak boleh berdiri sendiri. Semuanya harus menjadi satu sistem perhubungan nasional,” tegasnya.