Hamas desak Dewan Perdamaian hentikan serangan Israel ke Gaza - ANTARA News Bangka Belitung

Hamas desak Dewan Perdamaian hentikan serangan Israel ke Gaza - ANTARA News Bangka Belitung

Moskow (ANTARA) - Gerakan pejuang Palestina Hamas mengatakan telah berkonsultasi dengan para mediator dan Perwakilan Tinggi Dewan Perdamaian untuk Gaza, Nickolay Mladenov, setelah terjadi serangan di Gaza yang menewaskan warga sipil.

"Gerakan Hamas mengecam keras operasi militer Zionis di Kota Gaza hari ini yang mengakibatkan jatuhnya korban di kalangan warga sipil Palestina," kata Hamas dalam pernyataan, Selasa.

Dalam komunikasi dengan mediator dan Mladenov, Hamas mengecam berbagai serangan dan penembakan yang "menyebabkan sejumlah warga gugur dan terluka."

Hamas juga mendesak para mediator dan negara-negara penjamin untuk memberikan tekanan maksimal kepada pemerintah Israel agar menghentikan serangan dan memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Angkatan bersenjata Israel (IDF) pada Selasa (1/9) mengatakan, pihaknya menyerang sejumlah target di Gaza dengan dalih menghilangkan ancaman. Otoritas Gaza awalnya melaporkan satu orang tewas dan beberapa warga terluka.

Direktur Rumah Sakit Al-Shifa Mohammed Abu Salmiya kemudian mengatakan tiga orang tewas dan delapan lainnya terluka dalam serangan tersebut.

Israel dan Hamas pada 9 Oktober 2025 mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Gaza dengan mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turki. Kesepakatan itu kemudian difinalisasi dalam KTT Sharm el-Sheikh pada 13 Oktober.

Kesepakatan tersebut mencakup gencatan senjata, pembebasan sandera di Gaza sebagai imbalan tahanan Palestina, peningkatan bantuan kemanusiaan, serta penarikan pasukan Israel secara bertahap.

Namun, implementasi kesepakatan belum sepenuhnya selesai. Kedua pihak terutama berselisih mengenai urutan langkah berikutnya dalam pelaksanaannya.

Israel menuntut Hamas dilucuti terlebih dahulu sebelum penarikan pasukan lebih lanjut, sedangkan Hamas menuntut penghentian serangan Israel, penarikan pasukan, dan pemenuhan bantuan kemanusiaan terlebih dahulu.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan
Uploader : Rustam Effendi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.