Freeport Indonesia mengoptimalkan bantuan untuk korban gempa NTT

Freeport Indonesia mengoptimalkan bantuan untuk korban gempa NTT

Freeport Indonesia mengoptimalkan bantuan untuk korban gempa NTT

Rabu, 2 September 2026 04:50 WIB

Image Print

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas bercengkrama dengan anak-anak penyintas bencana gempa bumi di Mbeliling, Manggarai Barat, NTT, Selasa (1/9/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

Manggarai Barat (ANTARA) - Pengalaman menghadapi bencana longsor tambang serta keberadaan karyawan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong PT Freeport Indonesia (PTFI) merasa memiliki kedekatan emosional untuk hadir langsung membantu penyintas gempa bumi magnitudo 7,7 di wilayah tersebut.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas kepada ANTARA di Manggarai Barat, NTT, Selasa, mengatakan pernah merasakan musibah berat pada 8 September 2025 lalu yang membuat perusahaan sangat memahami kepedihan warga terdampak bencana, baik dari segi kehilangan harta benda maupun jiwa.

Kegiatan produksi PTFI harus dihentikan selama 27 hari setelah kejadian longsor tersebut untuk melakukan pencarian terhadap tujuh pekerja yang belum ditemukan.

Ketujuh pekerja akhirnya berhasil ditemukan setelah beberapa pekan berlalu, tetapi pengalaman menghadapi situasi tersebut membuat PTFI memahami kepedihan yang dirasakan masyarakat ketika bencana melanda.

"Jadi kami bisa merasakan bagaimana pedihnya kejadian yang terjadi di sini, yang tidak hanya mengorbankan harta benda tapi juga ada jiwa-jiwa yang harus terpanggil," kata Tony usai menyerahkan bantuan di Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat.

Atas dasar solidaritas dan kemanusiaan tersebut, pihaknya mengerahkan Tim Tanggap Darurat serta mengirimkan bantuan senilai total Rp2,5 miliar yang bersumber dari alokasi perusahaan dan donasi karyawan melalui skema double match.

Tim Tanggap Darurat PTFI terdiri atas dokter, paramedis, dan rescuer yang dimobilisasi dari Timika untuk menjalankan operasi pelayanan medis kepada sekitar 500 pasien, penanganan evakuasi, hingga program trauma healing di Manggarai Timur pada 22-29 Agustus 2026.

Selain aksi medis, paket bantuan kemanusiaan disalurkan bekerja sama dengan Human Initiative (HI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) mencakup kebutuhan dasar seperti tenda, bedding kits, hygiene kits, sembako, pembuatan lima hunian sementara (huntara), serta empat sekolah darurat.

Tony berharap dukungan bagi warga NTT tidak berhenti pada fase tanggap darurat semata, melainkan berlanjut hingga tahap pemulihan dengan melibatkan kolaborasi lebih banyak pihak.

Petugas menurunkan barang bantuan dari PT Freeport Indonesia untuk penyintas bencana gempa bumi di Mbeliling, Manggarai Barat, NTT, Selasa (1/9/2026) (ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Dukungan penanganan darurat-pemulihan pascabencana patut menjadi perhatian mengingat besarnya dampak gempa bumi 7,7 magnitudo yang mengguncang Pulau Flores, NTT, 15 Agustus 2026 itu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengemukakan per 30 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB pengungsi gempa NTT menjadi 188.161 orang. Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 50.556 orang dan Kabupaten Nagekeo 50.574 orang juga Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Ende.

BNPB juga melaporkan korban meninggal dunia mencapai 111 orang sejak gempa pertama, dengan total korban luka mencapai 1.631 orang, terdiri atas 223 orang luka berat dan 1.408 orang luka ringan.

Sementara itu kerusakan rumah akibat gempa di NTT hingga kini mencapai 95.567 unit, dengan rincian 46.161 rumah rusak ringan, 21.992 rumah rusak sedang, dan 27.414 rumah rusak berat.

Dari jumlah tersebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat melaporkan ada sebanyak 36.102 jiwa warga setempat yang terdampak yang berasal dari 7.777 kepala keluarga, sementara 10.757 rumah mengalami kerusakan dengan kategori ringan, sedang, dan berat.

Data saat ini, ada sekitar 9.000 warga yang terpaksa menempati tenda pengungsian.

Pewarta : M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.