Pemkab Manggarai Barat siap rehabilitasi rumah korban gempa

Pemkab Manggarai Barat siap rehabilitasi rumah korban gempa

Pemkab Manggarai Barat siap rehabilitasi rumah korban gempa

Rabu, 2 September 2026 04:56 WIB

Image Print

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas (kanan) mendengar penjelasan warga penyintas bencana terkait bangunan rumahnya yang rusak akibat guncangan gempa bumi 7,7 magnitudi di Mbeliling, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Selasa (1/9/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, menegaskan komitmennya bersama Pemerintah Pusat untuk bertanggung jawab penuh atas rekonstruksi dan rehabilitas seluruh rumah warga yang rusak akibat bencana gempa bumi.

Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengatakan bahwa perbaikan hunian warga yang didahului oleh pendataan intensif di lapangan menjadi prioritas jangka menengah penanganan pascabencana.

"Kami pastikan bahwa rumah warga kami bertanggung jawab penuh atas bangunan-bangunan yang rusak karena gempa. Pemerintah daerah yang dibantu Pemerintah Pusat bertanggung jawab penuh atas rumah warga yang terdampak," kata dia, di sela menerima kunjungan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas di Mbeliling, Selasa.

Edistasius memaparkan tim verifikasi dan kaji cepat saat ini telah diterjunkan ke 164 desa dan 5 kelurahan untuk melakukan asesmen tingkat kerusakan rumah. Proses pendataan tersebut ditargetkan rampung paling lambat akhir pekan ini, sehingga langkah fisik rekonstruksi dapat dimulai secepat mungkin.

Untuk penanganan jangka panjang, Pemkab Manggarai Barat mengidentifikasi potensi relokasi bagi pemukiman yang berada di zona rentan pergerakan tanah. Dua wilayah yang telah ditinjau langsung untuk opsi pemindahan kampung yakni Kampung Wae Dangka di Desa Racang Welak dan Kampung Robo di Desa Robo, Kecamatan Welak.

"Harus dipindahkan ke wilayah baru yang aman dari dampak bencana kemudian hari," kata Edistasius.

Setelah pemukiman warga tertangani, dia memastikan bahwa pemda akan melanjutkan perbaikan fasilitas umum yang rusak, mencakup gedung sekolah, fasilitas kesehatan, akses jalan, jembatan, serta suplai air bersih.

Demikian pula dengan kebutuhan jangka pendek seperti bahan pangan, obat-obatan penanganan ISPA, dan pasokan vitamin pengungsi yang dipastikan stok daerah masih mencukupi.

"Namun, kami memang masih memerlukan dukungan tambahan berupa terpal dari total kebutuhan 10.757 unit serta pasokan selimut untuk menghadapi penurunan suhu cuaca," kata dia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan per 30 Agustus 2026, pukul 07.00 WIB pengungsi gempa NTT menjadi 188.161 orang. Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Manggarai dan Nagekeo. Selain itu, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Ende.

BNPB juga mencatat korban meninggal dunia mencapai 111 orang sejak gempa pertama 15 Agustus 2026, dengan total korban luka mencapai 1.631 orang, terdiri atas 223 orang luka berat dan 1.408 orang luka ringan.

Kerusakan rumah mencapai 95.567 unit, dengan rincian 46.161 rumah rusak ringan, 21.992 rumah rusak sedang, dan 27.414 rumah rusak berat.

Dari jumlah tersebut Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mencatat 36.102 warga setempat terdampak yang berasal dari 7.777 kepala keluarga.

Selain itu, 10.757 rumah mengalami kerusakan dengan kategori ringan, sedang, dan berat. Tercatat 152 rumah rusak di antaranya milik warga Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling yang sekaligus menjadi wilayah yang menerima manfaat bantuan dari PT Freeport Indonesia.

Pewarta : M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.