DPRD Kotim dorong solusi jangka panjang atasi krisis air bersih wilayah selatan
DPRD Kotim dorong solusi jangka panjang atasi krisis air bersih wilayah selatan
Kamis, 10 September 2026 05:45 WIB
Anggota DPRD Kotim dari Daerah Pemilihan (Dapil) III Eddy Mashamy. ANTARA/Devita Maulina
Sampit (ANTARA) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mendorong pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan distribusi air bersih saat musim kemarau, tetapi mulai menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan krisis air yang berulang di wilayah selatan.
“Untuk wilayah selatan, dari empat kecamatan itu, satu kecamatan syukur alhamdulillah sudah cukup terbantu, yaitu Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Namun tiga kecamatan lainnya sampai saat ini masih berjibaku mendapatkan air bersih,” kata Anggota DPRD Kotim dari Daerah Pemilihan (Dapil) III Eddy Mashamy di Sampit, Rabu.
Ia menjelaskan, persoalan ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan serius bagi masyarakat di Dapil III Kotim, yang meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Pulau Hanaut, Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Utara.
Menurutnya, pemerintah daerah selama ini memang telah berupaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat melalui pendistribusian air bersih.
Namun, pelayanan tersebut dinilai belum sepenuhnya menjangkau seluruh warga, terutama permukiman yang belum terhubung jaringan Perumdam Tirta Mentaya. Kondisi tersebut semakin terasa ketika musim kemarau berlangsung panjang.
Sejumlah sumber air masyarakat seperti sumur dan danau mengalami penurunan debit, sementara air sungai di kawasan pesisir berpotensi terpengaruh intrusi air laut sehingga tidak dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Permintaan bantuan air bersih masih datang dari sejumlah wilayah yang belum menerima bantuan air bersih dari pemerintah, di antaranya Samuda Kecil, Handil Sohor dan Lampuyang yang mengarah ke Dusun Serangas.
“Makanya, kami terus meminta perhatian pemerintah daerah untuk melakukan distribusi ke daerah sana. Alhamdulillah mendapat respons positif, informasinya segera dikirimkan bantuan air bersih ke Handil Sohor dan Samuda Kecil, insyaallah untuk Serangas juga,” ungkapnya.
Baca juga: DPRD Kotim dorong PBS bantu hidupkan kembali TPS3R di kecamatan
Ia menegaskan, distribusi air bersih merupakan langkah penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama kondisi kekeringan masih berlangsung.
Akan tetapi, pola penanganan tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya solusi karena persoalan yang sama terus berulang setiap tahun.
Oleh sebab itu, Eddy menilai sudah saatnya pemerintah daerah bersama DPRD menyusun strategi penyediaan air bersih yang mampu menjangkau masyarakat dalam jangka panjang, khususnya wilayah yang secara geografis sulit mendapatkan sumber air baku.
Ia mengaku telah menyampaikan gagasan tersebut kepada pihak eksekutif agar persoalan kekeringan yang terus berulang tidak hanya ditangani melalui bantuan darurat setiap musim kemarau.
“Seharusnya memang sudah dipikirkan. Hal itulah yang memicu iktikad dan perencanaan kami pribadi untuk ke depan mengajak pihak eksekutif memikirkan kejadian yang terus berlanjut setiap tahun dan mengarahkannya kepada pembangunan jangka panjang,” tuturnya.
Salah satu rencana yang dinilai potensial adalah memperluas layanan air bersih menuju Kecamatan Pulau Hanaut melalui jaringan pipa dari sumber air baku yang dikelola Perumdam Tirta Mentaya.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyebut, rencana itu telah dibahas dan dikaji bersama pihak Perumdam. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penyaluran air melalui pipa bawah laut dari jaringan yang bersumber dari kawasan Sungai Lepeh.
“Insyaallah untuk jangka ke depan sudah ada planning untuk disalurkan melalui pengkajian melalui saluran bawah laut. Itu tadi sudah ada studi, disampaikan oleh Direktur Perumdam, lebih efisien kita menyalurkan lewat pipa daripada membangun produk penyediaan air bersih tersendiri di Kecamatan Pulau Hanaut,” bebernya.
Baca juga: Pemkab Kotim permudah pembuatan PBG dukung Program 3 Juta Rumah
Pembangunan jaringan dari sumber air yang telah tersedia dinilai lebih efisien dibandingkan membangun instalasi pengolahan baru di Pulau Hanaut. Selain pertimbangan biaya, ketersediaan sumber air baku di wilayah tersebut juga menjadi persoalan tersendiri.
Sejumlah sumber air yang sempat dipertimbangkan di Pulau Hanaut telah dikaji dan dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam skala yang memadai, termasuk danau di sebelah barat Desa Hanaut.
“Pertama efisiensi biaya, kemudian sumber bahan bakunya di Pulau Hanaut belum memadai untuk bisa diolah menjadi air bersih. Danau yang di sebelah barat Desa Hanaut itu sudah dipelajari tidak akan cukup,” sebutnya.
Dengan kondisi tersebut, pengembangan sumber air dari jaringan Perumdam Tirta Mentaya dinilai menjadi pilihan yang lebih realistis untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat Pulau Hanaut secara berkelanjutan.
Persoalan ini dinilai semakin penting karena wilayah selatan Kotim memang menjadi salah satu kawasan yang berulang kali terdampak kekeringan.
Eddy memastikan DPRD Kotim akan mendukung upaya pemerintah daerah merealisasikan program jangka panjang tersebut, termasuk melalui dukungan penganggaran sesuai kemampuan keuangan daerah.
“Insyaallah DPRD akan selalu mendukung kegiatan itu. Karena kegiatan ini bukan setahun, dua tahun, bahkan sudah berlanjut lebih dari 10 tahun. Mestinya dari kemarin sudah harus terpikirkan,” demikian Eddy.
Baca juga: TNI kerahkan 10 mobil tangki perkuat pemadaman karhutla di Kotim
Baca juga: GSI ajang pembuktian tim terbaik wakil Kalteng ke tingkat nasional
Baca juga: Kumpulkan pelaku transportasi, KSOP Sampit tegaskan tidak ada kompromi untuk keselamatan
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.