DPRD Kotim dorong PBS bantu hidupkan kembali TPS3R di kecamatan
DPRD Kotim dorong PBS bantu hidupkan kembali TPS3R di kecamatan
Kamis, 10 September 2026 05:28 WIB
Anggota Komisi II DPRD Kotim Hendra Sia. ANTARA/Devita Maulina
Sampit (ANTARA) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mendorong perusahaan besar swasta (PBS) ikut membantu menghidupkan kembali tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R) di kecamatan.
“Kami mendorong PBS itu bisa bekerja sama dengan TPS3R dan kelompok swadaya masyarakat (KSM) untuk bisa mengelola sampahnya supaya TPS3R yang punya pemerintah daerah bisa hidup,” kata Anggota Komisi II DPRD Kotim Hendra Sia di Sampit, Rabu.
Hendra menjelaskan, keberadaan sejumlah TPS3R yang dibangun pemerintah daerah belum memberikan manfaat maksimal karena terkendala biaya operasional. Kondisi tersebut membuat sebagian fasilitas bahkan nyaris tidak berfungsi atau mati suri.
Oleh sebab itu, ia menilai keterlibatan PBS menjadi salah satu alternatif untuk mendukung keberlanjutan operasional TPS3R, terutama perusahaan yang berada di sekitar wilayah fasilitas pengelolaan sampah tersebut.
Kerja sama dapat dilakukan melalui pola kemitraan yang memungkinkan PBS membantu kebutuhan operasional maupun sarana pendukung TPS3R.
Dengan begitu, perusahaan juga memiliki saluran yang lebih terarah dalam mendukung pengelolaan lingkungan di sekitar wilayah operasionalnya.
“Makanya, kami mendorong PBS-PBS ini, daripada mereka selama ini saya dengar ada yang bekerja sama dengan bank sampah swasta dan itu tidak diketahui oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH),” ujarnya.
Baca juga: Pemkab Kotim permudah pembuatan PBG dukung Program 3 Juta Rumah
Sebelumnya, Komisi II DPRD Kotim juga telah menggelar rapat koordinasi terkait pengelolaan sampah berbasis masyarakat bersama perwakilan PBS-PBS setempat dengan melibatkan KSM sebagai pihak ketiga.
Ia mengatakan Komisi II DPRD Kotim akan menindaklanjuti persoalan tersebut melalui rapat di sejumlah kecamatan yang memiliki TPS3R. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian awal adalah Kecamatan Parenggean.
“Untuk awal ini khususnya di perusahaan-perusahaan sekitar Kecamatan Parenggean dulu. Nanti ada TPS3R lain yang mana yang perlu atau kecamatan lain yang perlu dibangun TPS3R, kita akan coba lagi,” sebutnya.
Politisi Partai Perindo ini melanjutkan, Kecamatan Parenggean menjadi percontohan awal karena di lokasi tersebut sudah terdapat TPS3R namun telah lama tidak beroperasi karena keterbatasan anggaran.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan pihaknya mendorong perusahaan sekitar untuk membangun kerja sama dengan TPS3R agar fasilitas yang telah tersedia tidak terbengkalai.
Melalui cara ini pula, pihaknya ingin mendorong penguatan koordinasi terkait penanganan antara PBS maupun masyarakat dengan DLH.
Koordinasi menjadi penting agar berbagai kegiatan pengelolaan sampah yang dilakukan perusahaan tidak berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah daerah melalui DLH diharapkan dapat memastikan kerja sama tersebut terintegrasi dengan sistem pengelolaan sampah daerah.
Lebih jauh, ia berharap keberadaan TPS3R nantinya tidak hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan. Pengelolaan sampah harus diperluas hingga kecamatan-kecamatan lain sehingga masyarakat di wilayah pelosok juga memperoleh pelayanan yang layak.
“Jangan cuma bicara Kabupaten Kotawaringin Timur itu Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang saja sementara ini yang ada pengelolaan sampahnya. Sedangkan, 15 kecamatan lain kan belum ada,” ujarnya.
Baca juga: TNI kerahkan 10 mobil tangki perkuat pemadaman karhutla di Kotim
Diharapkan ke depan setiap kecamatan di Kotim memiliki fasilitas TPS3R yang dapat menjadi pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting untuk mengurangi sampah yang dibuang sembarangan sekaligus mendekatkan layanan kepada masyarakat.
Hendra menambahkan, pembangunan sistem pengelolaan sampah juga harus diikuti edukasi kepada masyarakat. Warga perlu diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari rumah agar sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan.
“Manfaatnya tentu sampah ini akhirnya menjadi terkendali dengan adanya TPS3R di masyarakat. Masyarakat pun nanti kita akan mulai edukasi ataupun penyuluhan bahwa pengelolaan sampahnya seperti apa yang bagus,” tambahnya.
Menurutnya, pemilahan sampah dari sumber merupakan bagian penting dalam membangun sistem persampahan yang berkelanjutan. Sampah organik dan anorganik dapat dipisahkan sejak rumah tangga sehingga proses pengolahan di TPS3R menjadi lebih mudah.
KSM dapat berperan sebagai pengelola di tingkat desa atau kelurahan, sementara pemerintah dan dunia usaha mendukung dari sisi fasilitas maupun pembiayaan.
Dengan pola kerja sama yang jelas, fasilitas yang sebelumnya tidak aktif dapat kembali dimanfaatkan dan secara bertahap memperluas pelayanan persampahan ke seluruh wilayah Kotim.
“Langkah ini juga diharapkan dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan sampah yang masih bernilai guna,” demikian Hendra.
Baca juga: GSI ajang pembuktian tim terbaik wakil Kalteng ke tingkat nasional
Baca juga: Kumpulkan pelaku transportasi, KSOP Sampit tegaskan tidak ada kompromi untuk keselamatan
Baca juga: Kasus ISPA di Kotim meningkat dampak kabut asap karhutla
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.