Didik Rachbini Urai Tugas Berat NU Usai Muktamar ke-35

Didik Rachbini Urai Tugas Berat NU Usai Muktamar ke-35

Menurut ekonom senior ini, perkembangan di lingkungan pesantren saat ini sudah mengalami kemajuan pesat jika dibandingkan dengan kondisi setengah abad lalu. Kendati demikian, berbagai ketimpangan dan ketertinggalan masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup lebar di lapangan.

Oleh karena itu, ia menilai gagasan modernisasi pesantren yang pernah digagas oleh tokoh LP3ES seperti Dawam Rahardjo dan Gus Dur pada dekade 1980-an tetap sangat relevan untuk direkonstruksi kembali saat ini.

"Inilah sesungguhnya menurut saya tugas berat dan paling utama dari elite pimpinan NU yang baru," kata Didik, melalui keterangannya, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: Prabowo: Muktamar NU Rukun, Minta Semua Terima Perbedaan

Ia menambahkan bahwa peran dan arah gerak jajaran pimpinan organisasi tersebut harus bergeser dari dinamika politik kekuasaan menuju penguatan internal warganya.

"Elite NU ke depan seharusnya mengedepankan program untuk modernisasi pesantren sebagaimana ide dasar program LP3ES di waktu yang lalu," ujarnya.

Lebih lanjut, Didik mengingatkan agar jajaran kepemimpinan organisasi bersama entitas politiknya dapat bersinergi demi kemaslahatan umat serta melepaskan kepentingan kelompok tertentu.

"Sebaiknya elite NU dan PKB bersatu dengan solid untuk kepentingan masyarakatnya dengan menghindari politik praktis jangka pendek kepentingan orang per orang dan segeintir kelompok kecil di dalamnya," tuturnya.

Ia menilai bahwa potensi besar yang dimiliki warga nahdliyin harus diposisikan secara strategis dalam pembangunan nasional tanpa harus terjebak dalam kepentingan politik praktis.

Baca Juga: Gus Ipul Jawab Isu Cawe-cawe Istana di Muktamar ke-35 NU

"Menjadikan NU sebagai obyek politik dan kekuasaan patut dihentikan," kata Didik.

Didik menjelaskan bahwa pesantren memiliki potensi sosial yang sangat mengakar di tengah masyarakat sehingga mampu menjadi penggerak perubahan mandiri.

"Pesantren memiliki modal sosial yang sangat kuat dan sangat berakar pada budaya bangsa (indigenous social capital) Indonesia," ungkapnya.

Dalam hal transformasi pendidikan, ia menekankan pentingnya penyesuaian kurikulum di dalam internal lembaga pendidikan NU agar mencakup sektor kehidupan yang lebih luas.

"Karena itu, di dalam sistem internal pesantren sendiri harus ada perubahan substansial tidak hanya mengajarkan fikih agama, Al-Qur'an dan hadis," ujar Didik.

Baca Juga: Akbar Faizal Sebut Muktamar NU Mirip Kongres Parpol, Singgung Perebutan Ketum

Ia memaparkan bahwa agenda prioritas pimpinan organisasi ke depan terletak pada penguatan kapasitas ekonomi, ilmu pengetahuan, serta teknologi.

"Agenda NU yang utama seharusnya bukan di wilayah politik praktis kekuasaan, tetapi konsolidasi pembangunan, menjadikan kekuatan sosial dan politik yang dimiliki untuk mempercepat transformasi pesantren dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat nahdliyin," jelas Didik.