DEN sebut perguruan tinggi berperan penting pada percepatan transisi energi di Indonesia

DEN sebut perguruan tinggi berperan penting pada percepatan transisi energi di Indonesia

DEN sebut perguruan tinggi berperan penting pada percepatan transisi energi di Indonesia

Selasa, 8 September 2026 20:31 WIB

Image Print

Anggota DEN Surono memberikan keterangan kepada wartawan di Solo, Jawa Tengah, Selasa (8/9/2026). ANTARA/Aris Wasita

Solo (ANTARA) - Dewan Energi Nasional (DEN) menyebut perguruan tinggi berperan penting pada percepatan transisi energi di Indonesia, termasuk salah satunya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Anggota DEN Surono pada kegiatan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Kampus UNS Surakarta, Jawa Tengah, Selasa mengatakan di Indonesia sudah banyak yang mengembangkan energi terbarukan, di antaranya energi yang disediakan oleh alam.

“Ini berkah Tuhan. Indonesia memiliki gunung api terbanyak di dunia, 13 persen gunung api ada di Indonesia dan Indonesia juga dikaruniai potensi panas bumi terbesar di dunia,” katanya.

Ia mengatakan saat ini pengembangannya sudah mencapai 40 persen. Beberapa daerah yang memanfaatkan potensi panas bumi, yakni Jawa Barat dan saat ini sedang dalam pengembangan di Sulawesi Utara.

Untuk di daerah Solo Raya, ia menilai potensi Gunung Lawu layak dikembangkan. Oleh karena itu, diperlukan peran dari akademisi, salah satunya dari UNS.

“UNS tuh punya segalanya untuk berkolaborasi dengan masyarakat di sekitarnya, mengajak masyarakat untuk bersama membangun energi terbarukan,” katanya.

Menurut dia, UNS perlu mengkaji potensi tersebut.

“Saya kira UNS bisa terjun ke sana melihat bukan panas buminya saja, lingkungannya dan masyarakatnya harus secara heuristik digarap bersama. Masyarakat dua bagian dari Lawu itu sendiri,” ujarnya.

Terkait dengan anggapan bahwa panas bumi mengganggu lingkungan, ia mengatakan justru panas bumi harus menjaga lingkungan mengingat perlu ketersediaan sumber air untuk menghasilkan panas bumi.

“Sistem panas bumi itu ada masukan dari air, ada keluaran. Nah masukan ini harus dijaga, caranya dengan menjaga lingkungan. Kalau enggak ya kita nggak bisa apa-apa,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa proses transisi energi perlu memperhitungkan ketahanan ekonomi dan kesiapan teknologi secara matang. Penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara mendadak akan berdampak luas pada sektor ketenagakerjaan, khususnya para pekerja tambang batu bara.

“Transisi energi harus dilakukan secara perlahan. Selain kesiapan teknologi dan riset yang masih berjalan, kita harus menjaga stabilitas sektor yang selama ini bergantung pada energi fosil,” katanya.

Terkait hal itu, Ketua Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) Teknologi Penyimpanan Energi Listrik UNS Agus Purwanto menyampaikan riset tentang panas bumi belum banyak dilakukan UNS. Selama ini lebih banyak terkait solar sistem, dan penyimpanan energi (energi storage).

Meski demikian katanya panas bumi di Gunung Lawu menarik untuk dikaji guna mewujudkan kemandirian energi.

“Menarik juga ya untuk dikaji lebih jauh. Tetapi secara fakta kita sudah punya banyak sebenarnya pembangkit dari panas bumi. Sebenarnya itu bisa dijadikan satu studi kasus, dan di sana masyarakatnya tidak masalah,” ujarnya.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.