Bupati Kotim resmikan operasional Sekolah Rakyat Terintegrasi 01
Bupati Kotim resmikan operasional Sekolah Rakyat Terintegrasi 01
Kamis, 30 Juli 2026 17:45 WIB
Bupati Kotim Halikinnor memasangkan tanda peserta MPLS sekaligus menandai mulai dioperasikannya gedung baru Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 01 Kotim, Kamis (30/7/2026). ANTARA/Devita Maulina
Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, meresmikan operasional gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 01 melalui kegiatan open house dan pra-Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Pra-MPLS), sebagai penanda dimulainya pemanfaatan fasilitas pendidikan berasrama tersebut.
“Hari ini kita mengikuti kegiatan open house sekaligus pra-MPLS Sekolah Rakyat mulai jenjang SD, SMP sampai SMA. Kita bersyukur Kotawaringin Timur menjadi salah satu daerah yang dinilai memenuhi syarat oleh Kementerian Sosial untuk memiliki Sekolah Rakyat ini,” kata Bupati Kotim Halikinnor di Sampit, Kamis.
Tahun 2026/2027 merupakan tahun kedua program sekolah rakyat di Kotim berjalan. Sebelumnya, seluruh kegiatan Sekolah Rakyat dilaksanakan di lokasi sementara, yakni di eks asrama haji Kompleks Islamic Center Kotim, yang disebut SRT rintisan 55 Kotim.
Selanjutnya, kegiatan Sekolah Rakyat akan dipindahkan secara bertahap ke gedung baru SRT 01 Kotim berlokasi di Jalan Wengga Metropolitan, Kecamatan Baamang.
Halikinnor menjelaskan, kehadiran Sekolah Rakyat merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam memastikan setiap anak memperoleh hak pendidikan tanpa terkendala kondisi ekonomi keluarga.
Sekolah Rakyat bukan sekadar menjadi tempat belajar, tetapi menjadi simbol kehadiran negara dalam memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anak untuk meraih masa depan yang lebih baik.
“Sekolah Rakyat hadir bukan sekadar sebagai tempat belajar. Sekolah ini merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama atas pendidikan, tanpa memandang latar belakang ekonomi, sosial maupun kondisi kehidupannya,” jelasnya.
Ia melanjutkan, sekolah tersebut diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kategori desil 1 hingga desil 5 atau masyarakat miskin sehingga mereka tetap dapat mengembangkan potensi dan mengejar cita-cita melalui pendidikan yang berkualitas.
Seluruh kebutuhan peserta didik selama menempuh pendidikan ditanggung pemerintah, mulai dari tempat tinggal, makan tiga kali sehari, makanan selingan dua kali, hingga perlengkapan belajar, termasuk penyediaan satu unit laptop bagi setiap siswa.
“Semuanya ditanggung oleh negara. Makan, tidur, tinggal di sini. Bahkan orang tuanya juga diberikan stimulan untuk usaha. Program ini bukan hanya peningkatan sumber daya manusia, tetapi sekaligus pengentasan kemiskinan ekstrem," ucapnya.
Selain mengenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru, kegiatan open house dan Pra-MPLS juga memberikan kesempatan kepada orang tua untuk melihat langsung fasilitas yang tersedia sekaligus membangun komunikasi dengan pihak sekolah.
Menurutnya, keterbukaan tersebut penting untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap program Sekolah Rakyat, terutama bagi keluarga kurang mampu yang masih ragu menyekolahkan anaknya di lembaga tersebut.
“Melalui kegiatan ini orang tua dapat mengenal lingkungan sekolah, melihat fasilitas dan membangun komunikasi dengan para pendidik. Saya yakin setelah melihat langsung, masyarakat akan semakin percaya dan peminatnya akan bertambah,” ujarnya.
Baca juga: Diskominfo Kotim dorong pemanfaatan media sosial yang produktif
Ia menambahkan, untuk tahap awal baru jenjang SMA yang menempati fasilitas gedung baru, sedangkan jenjang lainnya akan dipindahkan secara bertahap setelah pembangunan fisik rampung.
Pemkab Kotim berharap keberadaan SRT 01 mampu menekan angka putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi sekaligus mencetak generasi yang berkarakter, berdaya saing dan menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan daerah.
“Karena kemajuan daerah pada akhirnya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang dibangun melalui pendidikan yang bermutu, berkarakter, serta didukung sinergi pemerintah, sekolah, keluarga, dunia usaha dan masyarakat,” pungkasnya.
PIC Sekolah Rakyat Terintegrasi dari Kementerian Sosial, Taufik Ridwan mengatakan program Sekolah Rakyat merupakan arahan langsung Presiden agar masyarakat kurang mampu memperoleh kesempatan mengubah taraf hidup melalui pendidikan.
“Saya menyampaikan pesan dari Presiden bahwa Sekolah Rakyat ini ditujukan agar masyarakat iso ngguyu (bisa tertawa). Kami berharap anak-anak yang bersekolah di sini mampu mencerahkan masa depan dan meningkatkan derajat hidup keluarganya," ucap Taufik.
Ia menegaskan keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat, tetapi merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak mulai dari Kementerian Sosial, pemerintah daerah, tenaga pendidik hingga masyarakat.
Para guru dan tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif karena semangat mereka akan menjadi energi bagi peserta didik selama menjalani pendidikan di sekolah berasrama tersebut.
“Program Sekolah Rakyat bukanlah program Kemensos semata. Ini merupakan kolaborasi kita semua sehingga Sekolah Rakyat dapat hadir memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 01 Kotim Nikkon Bhastari menyampaikan pada tahun ajaran 2026/2027 sekolah menerima 270 peserta didik baru, terdiri atas 50 siswa SD, 117 siswa SMP dan 103 siswa SMA, di luar peserta didik cadangan.
Sebelumnya Sekolah Rakyat telah memiliki 100 siswa angkatan pertama yang terdiri atas 50 siswa SD dan 50 siswa SMA, sehingga jumlah peserta didik terus bertambah seiring pengembangan program.
“Sekolah ini bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan kawah candradimuka bagi pembentukan karakter, mentalitas, dan keterampilan hidup agar anak-anak memiliki growth mindset menghadapi masa depan,” tuturnya.
Baca juga: Kotim tetapkan status tanggap darurat bencana karhutla dan kekeringan
Nikkon mengatakan proses pembinaan peserta didik didukung tiga pilar pengasuhan, yakni pendidik yang bertanggung jawab pada akademik, wali asrama yang mengelola kehidupan di asrama sekaligus mencegah perundungan, serta wali asuh yang mendampingi perkembangan dan kebutuhan pribadi setiap siswa.
Selain itu, sekolah menerapkan sistem apresiasi dan disiplin untuk membentuk karakter peserta didik, sekaligus membuka peluang bagi siswa berprestasi melanjutkan pendidikan ke Sekolah Garuda maupun perguruan tinggi terbaik.
“Kami berkomitmen memberikan pelayanan pendidikan terbaik, namun keberhasilan Sekolah Rakyat tidak dapat diwujudkan oleh sekolah saja. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar cita-cita besar program ini benar-benar terwujud,” ujarnya.
Di kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sosial Kotim Hawianan menyebut seluruh calon peserta didik direkrut secara aktif menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), khusus bagi keluarga desil 1 hingga desil 5.
"Kami tidak membuka pendaftaran. Kami mendatangi langsung keluarga berdasarkan data DTSEN desil 1 sampai 5 dan menawarkan Sekolah Rakyat agar bantuan ini benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan," katanya.
Hawianan menambahkan keberadaan Sekolah Rakyat juga memberi dampak ekonomi bagi daerah karena seluruh kebutuhan operasional, mulai dari konsumsi hingga tenaga pendidik, menggunakan anggaran pemerintah pusat yang berputar di Kotawaringin Timur.
Ia mengungkapkan kebutuhan konsumsi ratusan siswa mencapai sekitar Rp25 juta per hari sehingga turut menggerakkan usaha pedagang lokal, sedangkan belanja untuk tenaga pendidik juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Tanpa kolaborasi dan sinergitas semua pihak, Sekolah Rakyat tidak mungkin bisa berjalan sampai hari ini. Karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung program ini,” ucapnya.
Salah seorang orang tua siswa asal Kecamatan Baamang, Mastika mengaku program Sekolah Rakyat sangat membantu keluarga kurang mampu karena seluruh biaya pendidikan ditanggung pemerintah.
Menurutnya, selain meringankan beban ekonomi, sistem pendidikan berasrama juga mampu membentuk kedisiplinan anak melalui pengawasan, pembatasan penggunaan gawai, serta pembinaan karakter dan keagamaan.
“Harapan saya setelah lulus mereka menjadi generasi penerus bangsa yang beriman, bertanggung jawab, dan bila kelak menjadi pemimpin mampu menjalankan amanah dengan baik serta menjauhi korupsi,” demikian Mastika.
Baca juga: Perbaikan server selesai, layanan Disdukcapil Kotim kembali normal
Baca juga: Pemkab Kotim raih Predikat Optimal dan nilai terbaik pengelolaan JDIH Kalteng 2025
Baca juga: Sekolah di Sampit batasi aktivitas luar ruangan karena kabut asap
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.