BRIN: Pemulihan pascabencana memerlukan pendekatan multidisiplin

BRIN: Pemulihan pascabencana memerlukan pendekatan multidisiplin

BRIN: Pemulihan pascabencana memerlukan pendekatan multidisiplin

Rabu, 16 September 2026 16:28 WIB

Image Print

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Najib Azca memberikan sambutan dalam acara Kick Off Meeting Task Force Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera BRIN yang digelar di Jakarta, Rabu (16/9/2026). ANTARA/Tri Meilani Ameliya.

Jakarta (ANTARA) - Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Najib Azca menyampaikan bahwa pemulihan pascabencana perlu pula dilakukan dengan pendekatan multidisiplin.

"Pemulihan pascabencana tidak dapat direduksi menjadi sekadar persoalan teknis dan administratif. Ia adalah proses sosial yang kompleks sehingga sangat diperlukan kolaborasi lintas sektor, pendekatan multidisiplin, lintas perspektif, serta sensitif terhadap konteks sosial, budaya, dan kearifan lokal," ujar Najib.

Hal itu dia sampaikan saat memberikan sambutan dalam acara Kick Off Meeting Task Force Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera BRIN yang digelar di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut, Najib menjelaskan bahwa perspektif ilmu sosial humaniora memandang bencana tidak hanya sebagai peristiwa alam yang datang tiba-tiba, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sosial yang telah terbentuk dalam jangka panjang. Ia kemudian mengatakan bahwa bencana dapat mencerminkan relasi sosial, tata kelola sumber daya, serta akumulasi kerentanan dalam dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan politik.

Dalam konteks bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 2025, Najib mengatakan dampak bencana tidak tersebar secara merata dan mengikuti garis ketimpangan yang telah ada sebelumnya.

"Kelompok rentan, baik karena faktor ekonomi, gender, usia, maupun akses terhadap sumber daya, seringkali menjadi pihak yang paling terdampak, sekaligus paling lambang pulih," kata dia.

Sejalan dengan itu, menurut Najib, Task Force PRR BRIN, juga memiliki tanggung jawab untuk menghubungkan hasil riset aksi dan inovasi teknologi dengan kebutuhan di lapangan bagi masyarakat terdampak bencana.

Sebelumnya dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat Muhammad Jusuf Kalla (JK) menyampaikan bahwa pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Sumatera dapat dicapai secara maksimal apabila dilakukan bersama-sama dengan melibatkan beragam pihak.

Pewarta : Tri Meilani Ameliya
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026