BI: Ekonomi Jateng masih tunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian global

BI: Ekonomi Jateng masih tunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian global

BI: Ekonomi Jateng masih tunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian global

Kamis, 13 Agustus 2026 20:52 WIB

Image Print

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah M Noor Nugroho (tengah) saat Media Briefing BI se-Jateng, di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (14/8/2026). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Kota Pekalongan (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah menyampaikan bahwa perekonomian wilayah tersebut tetap menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng M Noor Nugroho di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis, menyebutkan ekonomi Jateng masih tumbuh kuat sebesar 5,71 persen (year on year/yoy) pada triwulan II 2026.

Capaian pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa sebesar 5,65 persen (yoy) dan nasional sebesar 5,29 persen (yoy).

Hal tersebut disampaikan saat Media Briefing Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) se-Jateng yang dihadiri KPwBI Provinsi Jateng, KPwBI Solo, KPwBI Tegal dan KPwBI Purwokerto.

Ia mengatakan bahwa kinerja positif tersebut didukung oleh tetap kuatnya permintaan domestik, berlanjutnya investasi, serta kinerja sektor utama daerah yang terjaga.

Pertumbuhan ekonomi Jateng dari sisi permintaan, yaitu konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,31 persen (yoy), ditopang mobilitas masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha dan libur panjang.

Investasi juga tumbuh kuat sebesar 8,84 persen (yoy) seiring berlanjutnya pembangunan kawasan industri dan Proyek Strategis Nasional, sementara konsumsi pemerintah juga masih tumbuh sebesar 15,69 persen (yoy).

Dari sisi lapangan usaha, kata dia, pertumbuhan terutama ditopang oleh Industri Pengolahan sebesar 5,03 persen (yoy), Perdagangan 7,52 persen (yoy), serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 12,80 persen (yoy).

Menurut dia, keberhasilan menjaga stabilitas harga tercermin pada inflasi Jateng pada Juli 2026 sebesar 2,60 persen (yoy), atay berada di dalam rentang sasaran 2,5 plus minus 1 persen (yoy) dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional 2,88 persen (yoy).

BI bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), baik di tingkat provinsi maupun seluruh 35 kota/kabupaten se-Jateng terus berkoordinasi dan bersinergi memperkuat pengendalian inflasi secara "end-to-end", terutama pada komoditas pangan strategis.

Implementasi strategi 4K (keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif) diarahkan tidak hanya untuk merespons gejolak harga dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur pasokan dan distribusi.

Ia mengatakan hasil liaison BI kepada pelaku usaha pada triwulan II 2026 menunjukkan bahwa pelaku usaha masih optimistis terhadap prospek ke depan.

Meski demikian, kata dia, masih diperlukan perhatian terhadap kenaikan biaya produksi, pembiayaan, keandalan energi, serta dinamika perdagangan global.

Di tengah capaian tersebut, ia juga mengingatkan berbagai risiko tetap perlu dicermati.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.