Banyak Sentimen Membebani, Rupiah Ditaksir Turun ke Rp17.980

Banyak Sentimen Membebani, Rupiah Ditaksir Turun ke Rp17.980

Esha Tri Wahyuni | 24 Juli 2026, 08:10 WIBIlustrasi rupiah melemah atas dolar ASAKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/...

Esha Tri Wahyuni

| 24 Juli 2026, 08:10 WIB

Banyak Sentimen Membebani, Rupiah Ditaksir Turun ke Rp17.980

Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/7/2026).

Pelaku pasar diproyeksikan akan mencermati sejumlah sentimen global, mulai dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah hingga rilis data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini.

Baca Juga: Rupiah Ditaksir Lanjutkan Pelemahan ke Rp17.920-Rp17.970

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp17.930 hingga Rp17.980 per USD," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).

Pada perdagangan Kamis (23/7/2026), rupiah ditutup melemah 19 poin menjadi Rp17.936 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.920 per USD.

Menurut Ibrahim, salah satu faktor yang masih membebani pergerakan rupiah berasal dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Sentimen tersebut kembali menguat setelah dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah dilaporkan diserang kelompok militan Houthi.

Ibrahim menjelaskan, insiden tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya distribusi energi global.

Jika gangguan terus berlanjut, kapal-kapal pengangkut minyak berpotensi mengalihkan jalur pelayaran melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan yang berdampak pada bertambahnya waktu tempuh dan biaya logistik.

Selain sentimen geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat.

"Pelaku pasar juga bersiap mencermati data Initial Jobless Claims Amerika Serikat, S&P Global Flash PMI pada Jumat, serta keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang akan diumumkan pekan depan," ujar Ibrahim.

Dirinya menilai rangkaian data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi pasar mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS. Ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi berpotensi memperkuat dolar AS sekaligus menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% belum cukup menjadi katalis positif untuk mendorong penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Selain mempertahankan BI-Rate, Bank Indonesia juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Namun, dominannya sentimen eksternal diperkirakan masih akan menjadi penentu utama arah pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan akhir pekan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Esha Tri Wahyuni

Yosi Winosa

Timnas Indonesia Terancam Tanpa Marselino Ferdinan Saat Lawan Kamboja, John Herdman Tak Mau Ambil Risiko

Tips Top Up Free Fire Murah Tanpa Risiko, Hindari Diamond Ilegal dan Penipuan

John Herdman Percaya Diri, Timnas Indonesia Siap Tampil Maksimal pada Laga Perdana Piala AFF 2026

Boy Rafli Amar Beri Alasan Mengapa Musisi Indonesia Harus Go Internasional