Badan Geologi nyatakan erupsi Anak Krakatau kembali ke fase Strombolian

Badan Geologi nyatakan erupsi Anak Krakatau kembali ke fase Strombolian

Badan Geologi nyatakan erupsi Anak Krakatau kembali ke fase Strombolian

Selasa, 8 September 2026 16:59 WIB

Image Print

Kepala Badan Geologi Lana Saria saat memberikan keterangan di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/9/2026). (ANTARA/Rubby Jovan)

Kota Bandung (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali memasuki fase Strombolian dengan durasi serta amplitudo letusan relatif pendek.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan karakter erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini telah kembali seperti kondisi normalnya.

“Sekarang sudah kembali kepada fase sesuai karakter Gunung Anak Krakatau, yaitu fase Strombolian. Erupsi terjadi dengan amplitudo yang tidak terlalu luas, tidak terlalu panjang, dan durasi letusannya hanya beberapa detik,” kata Lana di Bandung, Selasa.

Ia menjelaskan berdasarkan pemantauan seismik pos pengamatan gunung api, penurunan getaran seismik telah terekam secara konsisten sejak 5 September.

“Pada pengamatan mutakhir per 8 September, terekam delapan kali letusan kecil dengan durasi berkisar antara 10 hingga 15 detik. Sebaran material letusan dan abu vulkanik terpantau hanya terkonsentrasi di sekitar lereng dan tubuh kawah,” ujarnya.

Ia memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan erupsi pada Desember 2018 yang memicu tsunami akibat runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut.

“Sementara saat ini, analisis data deformasi menunjukkan tidak adanya pergeseran dinding kawah yang berpotensi memicu longsoran lereng ke perairan,” katanya.

Lana mengatakan membaiknya kondisi atmosfer setelah sebaran kolom abu berkurang turut berdampak positif terhadap operasional penerbangan komersil.

Sejumlah bandara yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik telah kembali beroperasi setelah aspek keselamatan penerbangan dinyatakan terpenuhi.

“Sementara bagi nelayan di pesisir Selat Sunda, aktivitas melaut telah dapat kembali berjalan normal dengan imbauan tetap mengenakan pelindung mata dan masker untuk mengantisipasi paparan abu tipis,” ujarnya.

Meski aktivitas vulkanik mulai melandai, Badan Geologi masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

“Meskipun aktivitas vulkanik mulai melandai sejak 5 September, status tetap Siaga (Level III) dengan radius aman tiga kilometer,” kata Lana.

Pewarta : Rubby Jovan Primananda
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026