Aspebindo: Prospek pengembangan bionergi berbasis sawit
Aspebindo: Prospek pengembangan bionergi berbasis sawit
Minggu, 26 Juli 2026 12:35 WIB
Petugas menunjukkan contoh biodiesel berbahan baku sawit. ANTARA/Subagyo
Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menyatakan pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit memiliki prospek yang sangat menjanjikan.
Selain ketersediaan bahan baku yang melimpah, menurut Wakil Ketua Umum Aspebindo M Hadi Nainggolan, pemanfaatan kelapa sawit didukung oleh aspek keberlanjutan karena tanaman tersebut dapat diperbaharui (renewable energy) dengan produksi sepanjang tahun yang relatif stabil.
"Kelapa sawit ini akan menjadi sumber kekuatan energi hayati dengan didukung oleh 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Menurut dia, seluruh bagian tanaman kelapa sawit memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam pengembangan bioenergi, misalnya pemanfaatan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel selain itu biomassa kelapa sawit seperti tandan kosong, cangkang, hingga batang sawit dapat sebagai sumber energi terbarukan.
Saat ini, lanjutnya, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 16,8 juta hektare dengan potensi produksi biomassa mencapai 272 juta ton per tahun.
"Jadi, kelapa sawit kita ini bisa menjadi pilar untuk kekuatan energi nasional. Indonesia bisa menjadi negara nomor satu di dunia yang menghasilkan energi berbasis kekayaan hayati,” katanya.
Hadi menambahkan pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit akan memberi dampak positif terhadap negara Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil, mengurangi emisi gas rumah kaca dan memitigasi pemanasan global, hingga memperbaiki neraca perdagangan minyak dan gas nasional.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, implementasi program biodiesel selama periode 2015-2025 telah menghasilkan penghematan devisa sebesar Rp722,9 triliun, menciptakan nilai tambah sebesar Rp114,7 triliun melalui pengolahan CPO menjadi biodiesel,
Selain itu, juga mendukung penyerapan tenaga kerja hingga 10,9 juta orang di sektor sawit, serta berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 228,41 juta ton CO.
Salah satu upaya pengoptimalan potensi kelapa sawit dalam pengembangan bioenergi dilakukan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui program Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI).
Inovasi bioenergi dinilai menunjukkan kelapa sawit memiliki potensi besar sebagai bahan baku energi masa depan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mampu meningkatkan nilai tambah bagi komoditas sawit nasional.
Founder dan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung mengatakan pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit akan memberikan berbagai dampak positif baik secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Diversifikasi pemanfaatan kelapa sawit menjadi bioenergi akan memperluas pasar tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan petani sehingga mereka tidak lagi bergantung pada permintaan industri minyak goreng.
Ia mengungkapkan saat ini pasar bioenergi berbasis kelapa sawit di Indonesia telah melampaui pasar minyak goreng, sehingga berkontribusi terhadap stabilitas harga TBS di tingkat petani sehingga mampu meningkatkan pendapatan mereka.
Tungkot menilai bahwa pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit juga merupakan bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim.
Menurutnya, tanaman kelapa sawit mampu menyerap karbon dari atmosfer melalui proses fotosintesis sehingga berkontribusi terhadap penurunan konsentrasi emisi karbon.
Kemudian, bioenergi sawit mampu menggantikan energi fosil yang merupakan penyumbang emisi terbesar di dunia sehingga secara keseluruhan akan mampu mengurangi emisi global secara drastis.
Baca juga: Prabowo ingin petani jadi pihak paling diuntungkan dari program B50
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Aspebindo: Prospek pengembangan bionergi berbasis sawit menjanjikan
Pewarta : Subagyo
Editor:
Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026