AS pertimbangkan agresi besar rebut uranium diperkaya dari Iran
Moskow (ANTARA) - Amerika Serikat sedang mengkaji kemungkinan operasi besar, dengan melibatkan ribuan personel militer, untuk merebut persediaan uranium diperkaya dari fasilitas nuklir Iran, menurut laporan The New York Post pada Sabtu (25/7).
"Saya benci mengatakannya, tetapi saya pikir cara terbaik untuk menyingkirkan material nuklir Iran, sekurangnya dengan apa yang mereka kuasai sekarang, adalah melalui operasi militer karena negosiasi saat ini mandek," kata seorang sumber militer kepada surat kabar konservatif Amerika itu.
Operasi tersebut akan meliputi penyerbuan fasilitas nuklir Iran oleh ribuan personel darat yang akan menjinakkan jebakan-jebakan, mengerahkan tim teknis, serta mendirikan garis pertahanan mengelilingi lokasi target mereka.
Sebuah tim kecil dari pasukan khusus kemudian akan mengambil langsung uranium yang ada di sana. Menurut laporan tersebut, fase itu akan menjadi bagian paling berbahaya dari seluruh agresi militer itu.
Baca juga: Trump sebut Iran kian serius, AS belum putuskan agresi militer
Apabila rencana tersebut benar dilaksanakan, maka personel AS harus membersihkan puing-puing pintu masuk fasilitas yang mereka hancurkan sembari mempertahankan posisi mereka dari serangan pasukan Iran.
Selain itu, AS juga harus memegang kendali penuh terhadap koridor lalu lintas udara agar pesawat militernya dapat mendarat di lokasi aman untuk operasi tersebut.
Sebelumnya, pada Kamis (23/7), sumber dari militer Iran menyampaikan angkatan bersenjata mereka telah melakukan pelatihan terhadap sejumlah skenario serangan militer AS dan bersiap menghadapi invasi darat AS.
Pada 18 Juni lalu, AS dan Iran telah menandatangani memorandum perdamaian untuk menghentikan konflik yang pecah sejak 28 Februari. Akan tetapi, pasukan AS kembali melancarkan serangan ke Iran mulai 8 Juli.
Komando Pusat AS (CENTCOM) berdalih serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Pasukan Iran pun merespons serangan AS dengan melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Presiden Trump kemudian mengatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran tak lagi berlaku.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Araghchi ancam Trump jika gunakan aset Iran untuk ganti rugi
Baca juga: Pentagon bantah sengaja hapus data kematian prajurit
Baca juga: Iran tuding AS manfaatkan isu nuklir untuk hancurkan negaranya
Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.