Maruarar Sirait Minta Pengembang Jaga Kepercayaan Konsumen
Maruarar, biasa disapa dengan Ara, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri agenda organisasi pengembang. Ia mengatakan seluruh pengembang tentu menginginkan nama baik perusahaan tetap terjaga sehingga komitmen kepada konsumen harus menjadi prioritas.
Baca Juga: Korupsi Batu Bara PLTU, Pushep: Isu Pengadaan Belum Tentu Jadi Penyebab Utama Blackout di Sumatra
"Kepercayaan melahirkan reputasi. Baik sebagai organisasi maupun sebagai pribadi yang mengelola perusahaan," ujar Ara dalam pertemuan bersama APERSI di Wisma Mandiri, dikutip Sabtu (11/7/2026).
Menurut Ara, ukuran reputasi pengembang dapat dilihat dari kesesuaian antara janji dengan realisasi di lapangan. Hal itu mencakup penyelesaian rumah tepat waktu, kualitas konstruksi, hingga penyediaan lingkungan hunian yang layak.
"Saya yakin tidak ada pengembang yang mau namanya tidak baik. Pasti semuanya ingin namanya harum. Salah satu indikatornya adalah menepati janji kepada konsumen dan kepada rakyat," katanya.
Politikus Partai Gerindra ini juga merinci sejumlah aspek yang menjadi perhatian masyarakat ketika membeli rumah. Di antaranya jalan lingkungan yang baik, bangunan yang tidak bocor, ketersediaan air bersih, keamanan kawasan, pencahayaan lingkungan, hingga pengelolaan sampah yang memadai.
"Mengenai waktu, jalannya bagus, rumahnya tidak bocor, airnya bersih, keamanannya, lingkungannya tidak gelap, pengelolaan sampahnya yang baik," ucap Ara.
Ara berharap asosiasi pengembang dapat menjaga kredibilitas anggotanya melalui pengawasan yang profesional. Menurutnya, kewenangan yang dimiliki organisasi harus dimanfaatkan untuk memastikan seluruh anggota menjalankan komitmen kepada konsumen.
"Gunakan kewenangan itu dengan penuh tanggung jawab dan adil. Kalau kontrolnya benar dan ketat, harusnya tidak ada lagi pengembang yang bermasalah," tegasnya.
Meski demikian, Ara mengakui menjalankan organisasi tidak pernah lepas dari tantangan. Menurutnya, kepemimpinan akan diuji ketika harus mengambil keputusan secara profesional, termasuk terhadap anggota sendiri.
"Itu tantangannya. Bisa tidak tegas sama anggota sendiri? Di situlah leadership, kepemimpinan, kebijakan, kematangan, dan keberanian kita diuji dalam memimpin sebuah organisasi," ujarnya.
Ara juga menekankan pembangunan sektor perumahan tidak dapat dilakukan secara sendiri.
Kementerian PKP, kata dia, selama ini menggandeng berbagai kementerian, lembaga negara, perbankan, aparat penegak hukum, hingga pemerintah daerah untuk mempercepat penyediaan hunian bagi masyarakat.
"Kita tidak bisa kerja sendirian. Banyak stakeholder yang membantu kita, mulai dari kementerian, Bank Indonesia, OJK, perbankan, TNI, Kepolisian, Kejaksaan, BPK hingga BPKP. Kita harus bekerja sama," katanya.
Ara juga mengingatkan bahwa setiap organisasi pasti menghadapi persoalan. Namun tantangan tersebut dapat dilalui melalui kolaborasi, optimisme, serta komitmen menjaga kepercayaan publik.
"Tidak ada jalan yang selalu mulus. Tapi kita bisa melewati jalan yang berkelok dan berlubang dengan bekerja bersama, saling menghargai, optimistis, dan tentu dengan doa," ujar Ara.