APPMI nilai jas
Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jakarta menilai jas dengan model slim fit yang dikenakan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka merepresentasikan semangat anak muda.
"Gaya ini secara langsung merujuk pada keinginan untuk mewakili generasi muda seperti gen Z dan milenial, simbol dinamisme dan efisiensi," kata Ketua APPMI Jakarta Dana Duriyatna saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Dana menilai Gibran ingin mempertegas posisinya sebagai jembatan bagi anak muda ke dalam sistem birokrasi yang tidak kaku dan kolot, sekaligus menjaga penampilannya tetap berada di dalam koridor formal tata krama kenegaraan.
Pemilihan warna navy disebut Dana melambangkan otoritas, formalitas, ketegasan, dan stabilitas kepemimpinan.
Adapun makna dari warna dasi biru muda melambangkan semangat kerja atau representasi elemen masyarakat yang lebih spesifik. Berbeda dengan dasi biru metalik yang lebih tua yang dikenakan Presiden Prabowo Subianto, yang menurut psikologi busana dan politik internasional, warna tersebut menurutnya sering dikaitkan dengan stabilitas, kepercayaan, otoritas yang tenang, serta visi modern.
"Perbedaan ini memperlihatkan sebagai satu kesatuan tim dengan karakter dan fungsi yang sengaja di buat tidak monolitik," kata Dana.
Sedangkan penggunaan kopiah memiliki akar sejarah politik yang sangat sekuler dan nasionalis di Indonesia. Ia mengatakan hal itu jauh melampaui simbolisme ritual agama tertentu sebagai identitas nasionalisme.
Aksesori berupa pin garuda dengan bendera merah putih mencerminkan identitas resmi negara yang menegaskan komitmen mutlak pada ideologi bangsa.
"Posisi pin di kerah kiri dekat jantung melambangkan nasionalisme yang mendalam dan tanggung jawab konstitusional," tambah Dana.
Dihubungi secara terpisah, Desainer sekaligus Advisory Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma melihat adanya peluang untuk membangun gaya modern statesman melalui gaya busana Gibran.
"Suit navy yang digunakan sudah sangat formal dan rapi, tetapi masih bisa dikembangkan menjadi lebih contemporary dan memiliki karakter Indonesia," ujar Ali.
Ali melanjutkan pengembangan pakaian itu tidak harus menggunakan ornamen tradisional secara literal. Sentuhan Indonesia justru bisa dibuat sangat halus melalui struktur jaket, pilihan kain, tekstur, kancing, detail kerah, lining, atau aksen wastra yang hanya terlihat ketika diperhatikan lebih dekat.
"Menurut saya, pemimpin Indonesia harus mampu tampil sejajar dengan pemimpin dunia dalam bahasa fashion, tetapi tetap membawa identitas Indonesia. Karena pakaian seorang pemimpin bukan sekadar pakaian, ia juga merupakan bagian dari soft power dan representasi bangsa," ucap Ali.