Apakah Validasi Bikin Anak Manja? Simak Penjelasannya

Apakah Validasi Bikin Anak Manja? Simak Penjelasannya

Validasi Emosi Bikin Anak Jadi Manja, Memangnya Iya?

CNN Indonesia

Minggu, 27 Sep 2026 17:56 WIB

Validasi emosi tak membuat anak jadi manja.
Ilustrasi. Validasi emosi tak membuat anak jadi manja. (Istockphoto/ Fizkes)

Jakarta, CNN Indonesia --

Saat anak menangis, banyak orang tua terdorong untuk memberikan validasi dan meyakinkan anak bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi, di sisi lain, beberapa orang justru beranggapan bahwa validasi bisa membuat anak jadi manja.

Pertanyaannya, apakah benar validasi bisa bikin anak manja?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jawabannya, tidak. Merangkum berbagai sumber, validasi emosi justru dapat mendukung perkembangan emosional anak.

Validasi emosi merupakan cara orang tua untuk mengakui dan memahami perasaan yang sedang dialami anak. Misalnya, ketika anak kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi, orang tua dapat mengakui bila rasa kecewa tersebut memang ada tanpa langsung menyalahkan atau mengabaikannya.

Hal ini pun berlaku bagi anak yang sedang memasuki usia sekolah. Dari perspektif psikologi, anak membutuhkan rasa aman secara emosional ketimbang tuntutan untuk selalu berprestasi.

Pilihan Redaksi

  • Anak Tiba-tiba Tidak Mau Sekolah? Ini yang Harus Dilakukan Orang Tua
  • 5 Kebiasaan Era 90-an Ini Tak Boleh Diwariskan ke Gen Alpha
  • Ini 7 Ciri Anak dengan EQ Rendah, Koreksi Sebelum Terlambat!

Tapi, memvalidasi emosi bukan berarti membiarkan semua perilaku anak. Orang tua tetap dapat memberikan batasan terhadap perilaku yang tidak tepat. Bedanya, perasaan anak tetap diakui walau perilakunya perlu diarahkan.

Contohnya, orang tua dapat mengatakan, 'Mama tahu kamu marah karena tidak boleh bermain sekarang. Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul'.

Jika diterapkan, cara tersebut bakal mendorong anak belajar bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua perilaku boleh dilakukan.

Contoh kalimat yang digunakan untuk memvalidasi perasaan anak

[Gambas:Video CNN]

Anda mungkin sedikit bingung tentang cara menggunakan kalimat yang mampu memvalidasi perasaan anak.

Sebagai referensi, berikut beberapa contoh yang bisa dicoba:

- "Ayah/Ibu melihat kamu sedang merasa sedih."
- "Wajar kamu merasa seperti itu dengan apa yang sedang kamu alami."
- "Ibu/Ayah ada di sini untuk membantu kamu melewati ini."
- "Kamu kecewa karena rencana kamu tidak berjalan sesuai keinginan, ya?"
- "Tidak apa-apa merasa sedih. Kalau sudah siap, kamu bisa cerita kepada Ibu/Ayah."

Kalimat tersebut membantu anak memahami bahwa perasaannya didengar tanpa membuat orang tua harus selalu memenuhi keinginannya.

Manfaat validasi perasaan untuk anak

Anak yang merasa didengarkan secara emosional dapat terbantu dalam mengembangkan kemampuan emosionalnya.

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh anak, antara lain:

- Kemampuan mengatur emosi yang lebih baik karena anak belajar mengenali dan memahami perasaannya.
- Kepercayaan diri dalam menghadapi emosi, sebab anak mengetahui bila perasaan yang muncul merupakan bagian dari pengalaman.
- Hubungan yang lebih sehat, alasannya karena anak terbiasa mengomunikasikan perasaan dan memahami emosi orang lain.

Jadi, validasi bukan berarti memanjakan anak. Orang tua tetap dapat menetapkan aturan dan batasan sambil menunjukkan bila perasaan anak tetap diterima dan didengarkan.

(san/asr)