Aceh Tamiang kembangkan budi daya melon pulihkan ekonomi pascabencana - ANTARA News Aceh
Aceh Tamiang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang melalui Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan mengembangkan budi daya melon untuk memulihkan perekonomian masyarakat pascabencana banjir.
"Pengembangan melon ini menjanjikan untuk menambah pendapatan petani, terlebih saat kondisi pascabanjir saat ini," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Aceh Tamiang Irwan Hadi di Aceh Tamiang, Kamis.
Menurut dia, keberhasilan pengembangan budi daya melon telah dibuktikan Kelompok Tani Melon Mutiara di Desa Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.
"Kelompok tani tersebut sukses memanen melon varietas golden dengan harga jual cukup tinggi," katanya.
Saat ini, kata Irwan Hadi, banyak petani di Aceh Tamiang bangkit melalui sektor hortikultura. Mereka menanam melon hijau new madesta premium dan melon golden alisha F1. Dua varietas melon tersebut tahan terhadap penyakit dan bernilai jual tinggi.
"Ke depan, kami berharap ada sistem pertanian melon yang menggunakan teknologi rumah kaca agar petani lebih sejahtera dan dapat menjadi contoh bagi petani muda lainnya," kata Irwan Hadi.
Baca: BPBD Aceh Tamiang percepat finalisasi data bantuan stimulan rumah
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Melon Mutiara Beni Fauzi mengatakan kelompok tani yang diketuainya mulai memanen melon pada Rabu (12/8). Panen tersebut merupakan yang perdana pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang.
"Sebelum bencana, kami sempat menyemai bibit melon, tetapi semuanya ludes terendam banjir beserta media tanamnya. Namun, kami bangkit dan menanamnya kembali hingga akhirnya berhasil panen perdana," katanya.
Beni Fauzi mengatakan tanaman melon yang ditanam mencapai 150 batang. Luas lahan yang ditanami mencapai 1.800 meter persegi dengan target panen perdana mencapai 2,5 ton.
Ia menyebutkan Kelompok Tani Melon Mutiara merupakan program corporate social responsibility (CSR) Pertamina EP Rantau. Kelompok tani beranggotakan 21 orang.
Anggota kelompok tani, kata dia, bertugas merawat tanaman mulai dari penyemaian, penyiraman, pemupukan, hingga mendapat pendampingan dari mentor teknis.
"Hasil panen melon dipasarkan langsung kepada warga sekitar maupun konsumen yang datang memesan. Kami tidak menjual kepada agen distributor karena permintaan masyarakat lokal tergolong tinggi. Harga jual Rp20 ribu per kilogram," kata Beni Fauzi.
Baca: BPDP latih 151 petani Aceh Tamiang budi daya kelapa sawit
Pewarta: Dede Harison
Editor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.