AAUI Ungkap Klaim Bencana NTT-Kalimantan Sementara Tembus Rp20 Miliar

AAUI Ungkap Klaim Bencana NTT-Kalimantan Sementara Tembus Rp20 Miliar

Jum'at, 04 September 2026, 18:00 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Ketua Bidang Keuangan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Sunarso mengatakan bahwa menurut pantauan melalui aplikasi SENA oleh MAIPARK, nilai klaim sementara akibat bencana di wilayah yang terdampak Gempa dan Kathutla tercatat masih berada di bawah Rp20 miliar. Sementara, data dari Jasindo menunjukkan nilai kerugian yang lebih besar yakni mencapai Rp50 miliar.

“Kalau kami berdasarkan data yang ada di kami (lewat aplikasi SENA), memang masih di kisaran sekitar di bawah Rp20 miliar. Tapi di Jasindo dia juga punya aplikasi, kalau nggak salah mereka baru sementara ini sudah di kisaran Rp50 miliar total kerugiannya,” ujar Sunarso dalam Konferensi pers AAUI Triwulan II Tahun 2026, Jumat (4/9/2026).

Angka tersebut belum dapat menjadi nilai akhir. Hingga kini, proses kerugian dan penilaian oleh adjuster masih berlangsung.

“Tapi itu belum pasti, karena juga masih berjalan survei bersamaan juga dengan adjuster,” ujarnya.

Dari pendataan tersebut, Ketua Umum AAUI Budi Herawan menyoroti minimnya objek bencana yang memiliki perlindungan asuransi. Hal itulah yang membuat dampak ekonomi yang harus ditanggung masyarakat dan daerah semakin besar ketika bencana terjadi.

“Jadi kalau kita bicara akibat daripada kebakaran hutan, tentunya terhadap masyarakat dampaknya tentunya ini sangat-sangat besar. Sehingga yang dikhawatirkan bagi kami tentunya mengganggu ekonomi dari daerah sehingga akhirnya juga berdampak ke industri asuransi. Jadi itu yang menjadi PR kita semua,” ujarnya.

Selain itu, AAUI mencatat masih banyak bangunan, terutama aset pemerintah, yang belum memiliki perlindungan asuransi. Sunarso menyebut kondisi tersebut ditemukan dalam pemantauan terhadap wilayah terdampak.

“Memang di sana banyak bangunan, khususnya bangunan pemerintah atau apa yang belum ada cover asuransinya,” katanya.

Bicara soal bencana, jika berkaca dari bencana banjir yang melanda Sumatera beberapa waktu lalu, Direktur Eksekutif AAUI Cipto Hartono mengatakan data riset internasional menunjukkan protection gap bencana Indonesia pada saat itu berada pada kisaran 95% hingga 99%. Dari angka tersebut, porsi perlindungan asuransi masih berada di bawah 5% setiap kejadian bencana alam.

“Jadi Indonesia itu termasuk di negara di mana tingkat protection gap-nya cukup tinggi. Data terakhir yang kita dapat dari riset internasional kita masuk di rank 95% sampai 99% protection gap,” ujar Cipto.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri