AAUI: Tren Data Center Bisa Menjadi Peluang bagi Industri Asuransi Umum
ILUSTRASI. Data center dianggap sebagai salah satu peluang pertumbuhan baru bagi industri asuransi umum karena memiliki target fantasis (Dok/Microsoft)
Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren data center makin menunjukkan peningkatan belakangan ini, seiring perkembangan kebutuhan infrastruktur cloud, kecerdasan buatan, dan digitalisasi enterprise yang terus meningkat.
BRI Danareksa Sekuritas memprediksi, kapasitas data center terpasang di Indonesia akan mencapai 3,5 gigawatt pada 2030, dari sekitar 580 megawatt pada semester I-2026.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengatakan, peningkatan pembangunan data center sebagai salah satu peluang pertumbuhan baru bagi industri asuransi umum.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan menjelaskan, data center memiliki karakter yang berbeda dari properti komersial biasa, karena merupakan infrastruktur kritis dengan nilai investasi yang besar, konsentrasi aset yang tinggi, serta tuntutan operasional hampir tanpa henti.
Baca Juga: OJK Beri Izin Usaha Berskala Nasional ke Gadai Mulia Sejahtera & Solusi Gadai Pintar
Budi menyebut tren itu terlihat dari pertumbuhan kapasitas data center di berbagai kawasan. Secara global, dia menjelaskan jumlah fasilitas data center terus meningkat, terutama didorong oleh pertumbuhan cloud computing, artificial intelligence, streaming, e-commerce, dan kebutuhan penyimpanan data.
Budi menuturkan, Amerika Serikat masih menjadi salah satu pasar terbesar, sedangkan Asia Pasifik, termasuk Singapura, Jepang, India, Malaysia, dan Indonesia, menjadi kawasan dengan ekspansi yang cukup pesat.
Untuk Indonesia, dia menyampaikan pembangunan data center juga terus berkembang, seiring meningkatnya ekonomi digital, kebutuhan cloud, serta investasi pada infrastruktur artificial intelligence.
Berdasarkan laporan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Investment Report 2024 yang diterbitkan oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), ekonomi digital dan investasi pada infrastruktur digital, termasuk data center, terus menjadi bagian penting dari perkembangan ekonomi digital di kawasan ASEAN.
Selain itu, Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau BKPM juga mencatat bahwa sektor pusat data menjadi salah satu bidang yang menarik minat investasi, seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital, cloud computing, dan kecerdasan artifisial di Indonesia.
Menurut Budi, peluang segmen data center bagi asuransi umum tidak hanya berasal dari perlindungan bangunan. Namun, dia bilang sejak tahap konstruksi, instalasi peralatan, pengujian dan commissioning, sampai data center beroperasi, terdapat berbagai risiko yang membutuhkan perlindungan asuransi.
"Oleh karena itu, makin berkembangnya ekosistem data center, cloud, dan artificial intelligence di Indonesia dapat menciptakan kebutuhan asuransi yang cukup luas," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Bagi industri asuransi, Budi menjelaskan peluang tersebut juga perlu dilihat dalam jangka panjang. Dia bilang data center bukan sekadar menghasilkan premi pada saat pembangunan, melainkan dapat menjadi recurring business ketika fasilitas tersebut sudah beroperasi, kapasitasnya bertambah, maupun ketika perangkat dan infrastrukturnya terus diperbarui.
Baca Juga: OJK Cabut Izin Usaha Perusahaan Pembiayaan PT Credit Saison Indonesia Finance
Lebih lanjut, Budi menyampaikan ada sejumlah produk asuransi umum yang dapat masuk ke segmen data center. Dia bilang perlindungannya dapat diberikan melalui beberapa jenis asuransi sesuai tahapan dan karakter risikonya.
Pada fase pembangunan, produk yang bisa terlibat, antara lain Construction All Risks atau Erection All Risks, termasuk kemungkinan perlindungan Delay in Start-Up atau Advance Loss of Profit. Ketika sudah beroperasi, perlindungan dapat mencakup Property All Risks, Machinery Breakdown dan Electronic Equipment Insurance untuk berbagai peralatan kritikal, serta Business Interruption apabila kerusakan menyebabkan terhentinya kegiatan operasional.
Selain itu, Budi menerangkan terdapat juga kebutuhan Cyber Insurance, Public atau General Liability, perlindungan pengangkutan atau marine cargo untuk peralatan bernilai tinggi, serta bentuk perlindungan lain yang disesuaikan dengan aktivitas dan eksposur masing-masing data center.
"Dengan demikian, kebutuhannya sebenarnya merupakan kombinasi antara property, engineering, liability, cyber dan business interruption," kata Budi.
Sebagai informasi, AAUI mencatat, total premi industri asuransi umum mencapai Rp 58,19 triliun pada semester I-2026. Nilainya terkontraksi 0,5%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, total klaim yang dibayarkan industri asuransi umum pada semester I-2026 sebesar Rp 6,18 triliun. Nilainya meningkat 29,2%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag
- Asuransi
- Asuransi Umum
- Data Center
- AAUI
- bisnis data center
- Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)