Jasindo Sebut Data Center Jadi Sektor yang Dicermati dalam Memberikan Perlindungan
ILUSTRASI. Sekretaris Perusahaan Jasindo Brellian Gema Widayana (Dok./Jasindo)
Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren data center makin menunjukkan peningkatan belakangan ini, seiring perkembangan kebutuhan infrastruktur cloud, kecerdasan buatan, dan digitalisasi enterprise yang terus meningkat. BRI Danareksa Sekuritas bahkan memprediksi kapasitas data center terpasang di Indonesia akan mencapai 3,5 gigawatt pada 2030, dari sekitar 580 megawatt pada semester I-2026.
PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) menilai perkembangan infrastruktur data center di Indonesia turut mendorong kebutuhan terhadap pengelolaan risiko yang makin komprehensif. Hal itu mengingat karakteristiknya yang melibatkan aset bernilai tinggi, teknologi yang kompleks, serta tuntutan kontinuitas operasional.
"Alhasil, perkembangan tersebut merupakan salah satu sektor yang dicermati Jasindo dari perspektif pengelolaan risiko dan kebutuhan perlindungan asuransi," ujar Sekretaris Perusahaan Jasindo Brellian Gema Widayana kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Gema mengatakan pendekatan Risk Management Partnership akan difokuskan pihaknya, dengan tetap mengacu pada prinsip prudent underwriting, serta mempertimbangkan karakteristik dan eksposur risiko, risk appetite, kapasitas perusahaan, maupun kapasitas reasuransi.
Baca Juga: Strategi Asuransi Jasindo Perkuat Lini Properti pada Kuartal IV-2026
Menurutnya, kebutuhan perlindungan dapat disesuaikan dengan tahapan pembangunan hingga operasional data center. Pada tahap pembangunan, dia bilang perlindungan yang dapat dilakukan, antara lain Contractor’s All Risks (CAR), Erection All Risks (EAR), maupun perlindungan peralatan selama proses pengangkutan.
Pada tahap operasional, perlindungan dapat mencakup Property All Risks, Machinery Breakdown, Electronic Equipment Insurance, serta gangguan usaha dan tanggung gugat pihak ketiga sesuai kebutuhan dan profil risiko.
Dalam proses asesmen, Gema mengatakan data center memiliki sejumlah karakteristik yang perlu diperhatikan, antara lain nilai aset dan peralatan, kebutuhan listrik dan sistem pendinginan, proteksi kebakaran, lokasi dan potensi bencana alam, kualitas pemeliharaan, serta kesiapan business continuity dan disaster recovery, serta kepatuhan terhadap persyaratan dan ketentuan yang berlaku.
Baca Juga: Jasindo Sebut Program PLTS 100 GWp Bisa Menjadi Peluang Pertumbuhan bagi Asuransi
Oleh karena itu, Gema menerangkan pendekatan Risk Management Partnership menjadi penting untuk memastikan risiko dipahami dan dikelola secara tepat. Dia menyebut kolaborasi antara pemilik atau operator, perusahaan asuransi, risk engineer, dan reasuradur dapat membantu membangun struktur perlindungan yang sesuai dengan profil masing-masing risiko.
"Dengan pendekatan tersebut, asuransi tidak hanya berperan dalam memberikan perlindungan ketika terjadi kerugian, tetapi juga mendukung ketahanan dan keberlangsungan operasional," ungkap Gema.
Sebagai informasi, berdasarkan laporan keuangan, Jasindo mencatatkan premi sebesar Rp 1,77 triliun per Agustus 2026, sedangkan klaim mencapai Rp 1,61 triliun. Adapun tingkat Risk Based Capital (RBC) sebesar 141,60%.
Baca Juga: Dongkrak Pertumbuhan Kontribusi di Semester II-2026, Ini Strategi Jasindo Syariah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News