5 Fakta Matcha Lokal Indonesia, Rasanya Lebih Pahit dari Matcha Jepang!
Jakarta -
Matcha tak hanya dari Jepang. Indonesia juga punya matcha lokal yang dibuat dari teh Nusantara. Begini perbedaannya!
Matcha selama ini identik dengan bubuk teh dan minuman dari Jepang. Namun, ternyata Indonesia juga punya produsen yang mengolah daun teh lokal menjadi bubuk matcha.
Salah satunya adalah Indomatcha yang diproduksi Rizal Firdaus. Lewat proses khusus sejak di kebun hingga penggilingan, daun teh Indonesia diolah menjadi matcha untuk kebutuhan kuliner.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari BBC Indonesia (25/07/2026), menariknya, matcha lokal ini punya karakter yang berbeda dari matcha Jepang. Mulai dari jenis tanaman, proses produksi, warna, tekstur, hingga rasanya memiliki ciri khas tersendiri.
Baca juga: Jualan Selama 40 Tahun, Penjual Es Krim Kelapa Ini Tak Pernah Ganti Resep
Rizal Fridaus, produsen matcha lokal, menyebut ada perlakuan khusus untuk menghasilkan Indomatcha. Foto: iStock
1. Produsen Matcha Lokal
Rizal Firdaus sudah sekitar sepuluh tahun memproduksi matcha lokal di Indonesia. Ia mengembangkan Indomatcha setelah melihat peluang untuk membuat matcha dari melimpahnya tanaman teh di Tanah Air.
Rizal mulai melakukan riset dan pengembangan sejak 2016. Setelah sekitar delapan tahun bereksperimen, ia akhirnya mulai memasarkan produk matcha buatannya secara lebih luas.
Bahan baku Indomatcha berasal dari kebun teh di Jawa Barat. Saat ini, kapasitas produksinya bisa mencapai 300 kilogram pucuk teh per hari.
Rizal bekerja sama dengan petani dan pemetik teh dalam produksinya. Produk tersebut dipasarkan ke kafe lokal dan reseller, termasuk dalam bentuk white label atau tanpa merek.
2. Jenis Daun Teh yang Digunakan
Untuk membuat matcha, Rizal tidak langsung menggunakan daun teh yang dipetik seperti biasa. Tanaman teh mendapat perlakuan khusus sejak masih berada di kebun.
Salah satunya dengan menaungi (shading) tanaman menggunakan paranet sekitar dua minggu sebelum dipanen. Teknik shading ini dilakukan untuk mengurangi paparan sinar matahari pada tanaman teh.
"Tujuannya untuk mengurangi daun dari paparan sinar matahari supaya daun tehnya memproduksi lebih banyak L-theanine," kata Rizal.
3. Proses Produksi Matcha Lokal
Setelah dipetik, pucuk teh langsung dibawa untuk menjalani proses pengolahan. Tahap pertama adalah pelayuan menggunakan uap panas atau teknik steam.
Proses steam dilakukan untuk menjaga warna daun tetap hijau. Setelah itu, pucuk teh didinginkan atau dianginkan untuk menghentikan proses pemanasan.
Daun teh yang sudah kering disebut tencah. Bahan ini kemudian masuk ke tahap sortasi untuk memisahkan tulang dan batang daun.
Setelah sortasi, daun teh digiling menggunakan batu khusus yang dibuat menyerupai alat penggiling matcha di Jepang yang didatangkan dari Majalengka. Setelah itu, matcha disaring dengan penyaring khusus.
Perbedaannya yang paling jelas ialah tingkat warna hijau dari matcha yang dihasilkan. Foto: Getty Images/iStockphoto
4. Matcha Lokal vs Matcha Jepang
Matcha lokal dan matcha Jepang memiliki sejumlah perbedaan. Salah satu yang paling mudah terlihat adalah warna bubuknya.
"Dari segi warna, memang yang Japanese matcha lebih bright," kata Rizal saat membandingkan kedua produk tersebut.
Perbedaan tersebut tidak hanya dipengaruhi proses produksi. Varietas tanaman teh dan kondisi lingkungan tempat tanaman tumbuh juga ikut menentukan karakter akhir matcha.
5. Matcha Lokal Lebih Sepat dan Pahit
Perbedaan paling terasa antara matcha lokal dan Jepang ada pada cita rasanya. Indomatcha memiliki karakter rasa yang lebih sepat dan pahit.
Karakter rasa tersebut berkaitan dengan varietas tanaman teh yang digunakan. Teh Indonesia yang banyak berasal dari varietas asamica memiliki rasa lebih sepat dibandingkan varietas sinensis.
Meski begitu, rasa sepat bukan berarti menjadi kelemahan mutlak dari matcha lokal. Karakter tersebut justru bisa menjadi ciri khas matcha lokal dan menyasar segmen konsumen yang berbeda.
Halaman 2 dari 2
Simak Video "Kuah Unik Soto Arab Betawi dan Pelepas Dahaga Glek & Go"
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/sob)