25 mahasiswa dari 14 negara berkesempatan belajar ukir Jepara
Jepara (ANTARA) - Sebanyak 25 mahasiswa dari 14 negara mendapat kesempatan mempelajari seni ukir kayu khas Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, secara langsung dengan para pengukir lokal.
Para mahasiswa tersebut belajar mengukir di Galeri Jepara Wood Carving, Kamis, dengan didampingi 23 instruktur pengukir.
Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto di Jepara, Kamis, mengharapkan interaksi langsung antara mahasiswa asing dan pengukir dapat memperkenalkan budaya ukir Jepara kepada masyarakat internasional.
"Harapan kami mereka dapat menjadi duta budaya masyarakat Jepara di negaranya masing-masing," ujarnya.
Dia menjelaskan keberlanjutan seni ukir Jepara membutuhkan penguatan regenerasi.
Minat generasi muda untuk mempelajari sekaligus meneruskan keterampilan mengukir, ujar dia, perlu terus ditumbuhkan.
Baca juga: Pemkab Jepara perluas pasar mebel ke Timur Tengah dan Afrika
Ia mengatakan seni ukir Jepara telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2015.
Oleh karena itu, pengenalan seni ukir kepada mahasiswa asing diharapkan turut menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.
Salah satu mahasiswa asal Afganistan, Sayed Rahman Hamid, mengaku baru pertama kali memegang pahat untuk belajar mengukir kayu.
Aisha Jumma Mussa, mahasiswa asal Tanzania mengakui sebelum mengikuti pelatihan, dirinya mencari informasi mengenai seni ukir Jepara melalui internet.
Setelah mencoba secara langsung, ia menilai mengukir membutuhkan ketekunan dan keterampilan khusus.
Salah satu instruktur, Rumini, mengatakan para peserta terlebih dahulu dikenalkan dengan pola ukiran Jepara sebelum mempelajari tahapan dasar mengukir, sedangkan teknik dasar yang diajarkan, yakni ngrancapi, nglemahi, ngekoli, dan nyoreti.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Summer Course 2026 Buja Sejana 2 yang digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Koordinator kegiatan, Wati Istanti, mengatakan program tersebut mengajak mahasiswa mempelajari budaya maritim melalui pembelajaran selama tiga bulan dengan metode "blended".
"Supaya mahasiswa tidak sekadar tahu secara daring, kami mengajar secara luring untuk melihat dan mempraktikkan langsung," ujarnya.
Pihaknya membuka peluang kerja sama lanjutan dengan para praktisi ukir Jepara. Kerja sama tersebut dapat melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, industri, UMKM, pemerintah, serta para praktisi.
Baca juga: Fadli: Seni ukir Jepara miliki nilai ekonomi dan artistik tinggi
Baca juga: 1.508 anak keluarga pengukir mebel Jepara terima beasiswa PIP
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.