10 Mitos dibalik indahnya Gunung Gede yang masih dipercaya pendaki
Jakarta (ANTARA) - Gunung Gede menjadi salah satu destinasi pendakian paling populer di Indonesia. Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang meliputi wilayah Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi, Jawa Barat, gunung dengan ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menawarkan panorama alam yang memikat, mulai dari hutan tropis, air terjun, hingga hamparan bunga edelweis di Alun-Alun Suryakencana.
Selain terkenal karena keindahan alamnya dan akses yang relatif mudah dijangkau dari Jakarta, Gunung Gede juga menyimpan beragam kisah yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar maupun komunitas pendaki. Berbagai cerita tersebut berkembang menjadi mitos yang hingga kini masih dikenal dan dihormati sebagai bagian dari budaya pendakian.
Meski tidak memiliki dasar ilmiah, mitos-mitos tersebut umumnya mengandung pesan moral, etika, serta ajakan untuk menghormati alam selama berada di kawasan konservasi.
Berikut 10 mitos yang paling dikenal di Gunung Gede Pangrango.
1. Larangan mendaki saat sedang haid
Salah satu mitos yang paling sering terdengar adalah larangan bagi perempuan yang sedang menstruasi untuk mendaki Gunung Gede. Dalam berbagai cerita, pendaki yang sedang haid dipercaya lebih mudah mengalami gangguan, seperti tersesat atau mengalami kejadian yang dianggap tidak biasa selama perjalanan.
Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan antara menstruasi dan kejadian mistis di gunung. Karena itu, sebagian besar pendaki modern memandang kepercayaan tersebut sebagai bagian dari tradisi lokal yang patut dihormati tanpa harus diyakini sepenuhnya.
2. Pantang berbicara kasar selama pendakian
Pendaki juga kerap diingatkan untuk menjaga ucapan selama berada di jalur pendakian. Menurut cerita yang berkembang, berkata kasar atau mengucapkan kalimat yang tidak sopan dapat mengundang hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk membuat pendaki tersesat.
Di balik mitos tersebut, terdapat pesan yang bersifat universal, yakni menjaga etika, menghormati alam, serta menciptakan suasana pendakian yang nyaman bagi seluruh anggota kelompok.
3. Kandang Badak disebut sebagai kawasan angker
Pos Kandang Badak merupakan salah satu titik persinggahan utama sebelum menuju puncak Gunung Gede maupun Gunung Pangrango. Kawasan ini sering diselimuti kabut tebal dan memiliki beberapa percabangan jalur.
Kondisi tersebut membuat sebagian pendaki mengaitkannya dengan berbagai cerita mistis dan menyebutnya sebagai gerbang menuju alam gaib. Namun, secara logis, kabut yang pekat dan jalur yang bercabang memang dapat meningkatkan risiko pendaki kehilangan arah apabila tidak berhati-hati.
4. Dilarang membawa pulang benda dari gunung
Mitos lain yang cukup populer adalah larangan mengambil batu, tanaman, atau benda apa pun dari kawasan Gunung Gede. Konon, orang yang melanggar pantangan tersebut akan mengalami kesialan atau gangguan selama perjalanan pulang.
Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, pesan yang terkandung di dalamnya sejalan dengan prinsip konservasi, yakni tidak mengambil apa pun dari alam selain kenangan serta tidak meninggalkan apa pun selain jejak.
5. Legenda Eyang Suryakencana
Nama Eyang Suryakencana hampir selalu muncul dalam berbagai kisah yang berkembang di Gunung Gede. Sosok ini dipercaya sebagian masyarakat sebagai leluhur atau penjaga spiritual kawasan Alun-Alun Suryakencana.
Beberapa pendaki mengaku pernah mengalami pengalaman yang dikaitkan dengan sosok tersebut, mulai dari melihat penampakan misterius hingga mendengar suara langkah kuda pada malam hari. Meski demikian, kisah Eyang Suryakencana lebih dikenal sebagai bagian dari legenda yang memperkaya budaya masyarakat sekitar Gunung Gede.
6. Pendaki yang hilang secara misterius
Kasus pendaki yang tersesat di Gunung Gede sering dikaitkan dengan cerita bahwa seseorang "disembunyikan" oleh penghuni gaib gunung sehingga sulit ditemukan.
Namun, faktor seperti kabut tebal, kondisi cuaca yang berubah cepat, jalur yang bercabang, serta kelelahan menjadi penyebab yang lebih dapat dijelaskan secara logis. Mitos ini pada akhirnya menjadi pengingat agar pendaki selalu mematuhi prosedur keselamatan selama melakukan pendakian.
7. Larangan memetik bunga edelweiss
Bunga edelweiss atau bunga abadi menjadi salah satu daya tarik utama Alun-Alun Suryakencana. Dalam cerita yang berkembang, memetik bunga tersebut dipercaya dapat mendatangkan kesialan.
Saat ini larangan tersebut tidak hanya menjadi mitos, tetapi juga telah diatur dalam ketentuan konservasi karena edelweiss termasuk tanaman yang dilindungi. Pendaki yang merusaknya dapat dikenai sanksi sesuai peraturan yang berlaku.
8. Suara gamelan gaib pada malam hari
Sebagian pendaki mengaku pernah mendengar suara gamelan ketika bermalam di kawasan hutan sekitar Alun-Alun Suryakencana. Suara tersebut dipercaya berasal dari perkampungan gaib yang konon berada di kawasan Gunung Gede.
Di sisi lain, ada pula yang menjelaskan fenomena tersebut sebagai efek suara angin, resonansi alam, atau persepsi pendengaran yang dipengaruhi kelelahan selama pendakian.
9. Kisah Pasar Setan
Cerita mengenai Pasar Setan juga menjadi salah satu legenda yang paling terkenal di Gunung Gede. Beberapa pendaki mengaku mendengar suara ramai menyerupai aktivitas pasar, seperti percakapan orang, langkah kaki, maupun hiruk-pikuk yang terdengar samar dari tengah hutan.
Meski belum pernah dapat dibuktikan secara ilmiah, kisah tersebut terus diceritakan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari cerita rakyat yang berkembang di kawasan Gunung Gede Pangrango.
10. Warga gaib di Alun-Alun Suryakencana
Hamparan padang edelweiss di Alun-Alun Suryakencana juga tidak lepas dari berbagai cerita mistis. Sebagian orang percaya kawasan tersebut memiliki penghuni tak kasat mata yang hidup berdampingan dengan alam.
Beberapa pendaki mengaku pernah melihat sosok berpakaian putih, cahaya misterius, atau mendengar suara langkah kaki dan percakapan di tengah malam meski kondisi sekitar sedang sepi. Cerita-cerita tersebut terus hidup sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat sekitar.
Di balik berbagai mitos yang berkembang, Gunung Gede tetap menjadi salah satu tujuan pendakian favorit di Indonesia berkat keindahan alam dan kekayaan ekosistemnya. Terlepas dari apakah seseorang mempercayai kisah-kisah tersebut atau tidak, seluruh pendaki tetap diimbau untuk menjaga etika, mematuhi aturan yang berlaku, menghormati budaya masyarakat setempat, serta ikut menjaga kelestarian Taman Nasional Gunung Gede Pangrango agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.