Vietnam Mau Jadi Raja Pariwisata ASEAN, Indonesia Siap Melawan?

Vietnam Mau Jadi Raja Pariwisata ASEAN, Indonesia Siap Melawan?

Jakarta -

Vietnam mengumumkan ambisi besar di sektor pariwisata. Mereka membidik 50 juta wisatawan asing pada 2030 untuk mempertahankan posisi terdepan di Asia Tenggara, di tengah persaingan dengan negara-negara tujuan wisata kawasan, termasuk Indonesia.

Target tersebut ditetapkan melalui Resolusi 26-NQ/TW yang baru-baru ini ditandatangani Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam sekaligus Presiden Vietnam, To Lam. Dalam resolusi itu, Vietnam menjadikan pariwisata sebagai bagian dari strategi baru sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.

Angka yang dipatok Vietnam tidak main-main. Pada 2030, Vietnam menargetkan 45-50 juta wisatawan mancanegara, ditambah 160 juta wisatawan domestik. Pendapatan pariwisata ditargetkan mencapai USD 80-90 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan kata lain, Vietnam sedang menantang negara-negara tetangganya-termasuk Indonesia-untuk memperebutkan posisi teratas sebagai destinasi wisata terbesar dan paling kompetitif di Asia Tenggara.

Target itu disusun Vietnam bukan hanya dengan mengejar jumlah turis. Pemerintah menyusun target itu diiringi dengan mengubah model pariwisata dari pertumbuhan berbasis kuantitas menjadi pariwisata berkualitas, pintar, hijau, dan inovatif.

Vietnam secara khusus membidik wisatawan dengan pengeluaran tinggi dan masa tinggal lebih panjang. Kualitas produk wisata, pelayanan, pengalaman wisatawan, sumber daya manusia, hingga pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian penting dari strategi tersebut.

Budaya dan identitas nasional juga ditempatkan sebagai fondasi utama. Pariwisata akan dikembangkan secara terintegrasi dengan transportasi, perdagangan, jasa, pertanian, industri kreatif, ekonomi digital hingga ekonomi malam.

Vietnam bahkan menargetkan terbentuknya ekosistem smart tourism, lengkap dengan database pariwisata nasional dan platform digital pariwisata nasional.

Tiga Kota Jadi Mesin Pariwisata

Untuk mengejar target tersebut, Vietnam menetapkan Hanoi, Ho Chi Minh City, dan Da Nang sebagai tiga kutub pertumbuhan pariwisata.
Selain itu, pemerintah menargetkan pengembangan 10 pusat pariwisata utama, 20 kawasan pariwisata nasional, 15 perusahaan pariwisata dengan merek yang mampu bersaing secara global, sekitar 1,5 juta kamar akomodasi, 2,3 juta lapangan kerja langsung, dan 3,5 juta lapangan kerja tidak langsung.

Target kontribusi pariwisata terhadap ekonomi juga cukup ambisius, yakni 10-12% PDB secara langsung pada 2030.

Tak berhenti pada 2030, Vietnam menargetkan pariwisata berkontribusi 14-15% terhadap PDB secara langsung, masuk dalam 30 besar dunia dalam daya saing pariwisata, serta menarik hingga 70 juta wisatawan asing pada 2045.

Sebagai gambaran, Vietnam mencatat 13,9 juta kedatangan wisatawan internasional dalam tujuh bulan pertama 2026, naik 13,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Untuk keseluruhan 2026, Vietnam menargetkan 25 juta wisatawan asing. Angka 50 juta pada 2030 memang masih jauh.

Bagaimana dengan Indonesia? Saat ini Kementerian Pariwisata mematok target per tahun. Kemenpar menyebut saat ini pariwisata difokuskan pada pertumbuhan berkelanjutan, dengan membidik 16 hingga 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) untuk tahun 2026, yang kemudian diproyeksikan terus meningkat hingga 17,6 sampai 19,1 juta wisman pada tahun 2027.

Sementara itu untuk pergerakan domestik, pemerintah menargetkan 1,08 miliar perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) dan mematok peningkatan hingga 1,28 miliar perjalanan pada periode berikutnya. Fokus kuantitas ini diimbangi dengan kualitas kunjungan untuk mendongkrak devisa pariwisata hingga mencapai kisaran 25,5 sampai 28,6 miliar dolar AS serta memperluas penyerapan tenaga kerja di sektor pariwisata.

(fem/fem)