Utusan Presiden Gus Miftah puji kerukunan umat beragama di Mataram
Mataram (ANTARA) - Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah), memuji kerukunan umat beragama di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat yang dinilainya sangat baik dan dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
"Di Mataram, Pak Kakanwil berkenan mengajak saya ke lima tempat ibadah yang ada di Mataram. Alhamdulillah, saya bisa bertemu dengan Romo di Gereja Santa Maria," ujar Gus Miftah di Mataram, Rabu.
Ia mengatakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo yang tertuang dalam Asta Cita adalah penguatan toleransi dan moderasi beragama. Karena itu, menjaga kerukunan menjadi tanggung jawab bersama sebagai warga negara.
"Menjadi kewajiban kita bersama sebagai warga negara untuk senantiasa menjaga kerukunan, karena saya meyakini Indonesia maju akan terwujud jika masyarakatnya rukun," ucapnya didampingi Kepala Kanwil Kemenag NTB Zamroni Aziz.
Gus Miftah juga mengucapkan terima kasih atas sambutan yang diberikan pihak gereja dan berharap toleransi di Mataram terus terjaga.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada Romo yang telah menerima kunjungan kami. Mudah-mudahan toleransi ini tetap terjaga dan membawa kebaikan bagi bangsa Indonesia. Amin," kata Gus Miftah.
Dalam momentum peringatan kemerdekaan, Gus Miftah menegaskan bahwa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia merupakan hasil kontribusi seluruh agama dan suku di Indonesia.
"Salah satu pelajaran dari kemerdekaan ini adalah bahwa yang berkontribusi memerdekakan bangsa ini bukan hanya satu agama atau satu suku, melainkan semua agama dan semua suku di Indonesia. Tidak hanya Islam, tetapi juga saudara-saudara Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya," terang Gus Miftah.
Ia menambahkan bahwa kemerdekaan harus dimaknai sebagai simbol kerukunan dan persatuan bangsa.
"Momentum ini harus kita memaknai sebagai simbol kerukunan dan persatuan bangsa. Selain itu, kami juga memohon doa dari Romo untuk Bapak Presiden," ujarnya.
Saat ditanya mengenai kondisi kerukunan umat beragama di Mataram, Gus Miftah mengaku melihat langsung suasana toleransi setelah mengunjungi pura, wihara, makam ziarah Tuan Guru Soleh Hambali, dan gereja.
"Saya tadi datang ke pura, wihara, sebelumnya juga ke makam ziarah Tuan Guru Soleh Hambali, dan sekarang berada di gereja. Saya pikir kerukunan di Mataram ini luar biasa," tutur Gus Miftah.
Ia mencontohkan keberadaan prasasti Muslim di kawasan pura sebagai gambaran kuatnya toleransi di Mataram.
"Di pura tadi kami melihat ada prasasti Muslim. Ini menggambarkan bagaimana tingkat toleransi dan kerukunan di Mataram sangat luar biasa. Artinya, kondisi ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain," jelasnya.
Menjawab pertanyaan mengenai dukungan umat beragama terhadap penyelenggaraan MotoGP di NTB, Gus Miftah mengatakan dirinya beberapa kali mendapat undangan untuk menonton ajang tersebut, tetapi belum menyempatkan hadir.
"Saya beberapa kali mendapat undangan untuk menonton MotoGP, tetapi belum ada kesempatan," ungkapnya.
Ia juga mengaku sempat berjalan di kawasan Sirkuit Mandalika pada pagi harinya.
"Mudah-mudahan pada kesempatan berikutnya saya bisa menonton. Kebetulan tadi pagi saya berjalan di sirkuit. Kalau yang lain naik motor, saya cukup jalan kaki. Mudah-mudahan sukses," katanya.