The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Beri Sinyal Pengetatan Lanjutan - Makro Katadata.co.id

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Beri Sinyal Pengetatan Lanjutan - Makro Katadata.co.id

Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada Rabu (16/9) waktu setempat. Kenaikan menjadi yang pertama sejak Juli 2023 dan membuka peluang kenaikan lanjutan seiring inflasi yang dinilai masih tinggi.

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan langkah tersebut diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target bank sentral. Menurut dia, tekanan harga masih terjadi di berbagai kategori barang dan jasa dengan laju inflasi tahunan yang masih berada di atas 3% dalam periode enam hingga 12 bulan terakhir.

“Kami mengurangi tingkat akomodasi kebijakan agar kondisi keuangan dan kredit lebih sesuai dengan tujuan akhir kami,” kata Warsh dalam konferensi pers.

“Tindakan hari ini menunjukkan bahwa kami serius menjaga stabilitas harga.”

Warsh menilai data inflasi pada musim panas tahun ini belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Karena itu, The Fed memandang pengetatan kebijakan masih diperlukan.

Pernyataan Warsh mengenai pengurangan tingkat akomodasi kebijakan turut menarik perhatian pelaku pasar. Kepala Ekonom Amerika Serikat Morgan Stanley Michael Gapen menilai pernyataan tersebut mencerminkan sikap hawkish bank sentral.

“Jika ketua The Fed menilai kebijakan saat ini masih akomodatif, berarti masih ada pekerjaan yang harus dilakukan,” kata Gapen dikutip dari Bloomberg, Kamis (17/9).

Usai pengumuman tersebut, pasar langsung bereaksi. Imbal hasil obligasi Treasury bertenor dua tahun naik ke level 4,73%, atau lebih dari 12 basis poin dibandingkan sebelum pengumuman. Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun juga berbalik naik dan menembus level 5%.

Kepala Strategi Makro TD Securities Oscar Munoz mengatakan The Fed kini lebih fokus pada risiko inflasi dibandingkan perlambatan ekonomi.

“Jelas bahwa The Fed saat ini lebih mengkhawatirkan inflasi. Itulah alasan mereka menaikkan suku bunga hari ini dan tampaknya masih ada kenaikan yang akan dilakukan,” kata Munoz.

Beri Sinyal Hawkish

The Fed juga merilis proyeksi suku bunga terbaru yang menunjukkan kecenderungan pengetatan berlanjut. Median proyeksi pejabat The Fed untuk suku bunga pada akhir 2026 naik menjadi 4,1% dari sebelumnya 3,8%.

Sebanyak 16 pejabat memperkirakan masih akan ada setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan proyeksi pada Juni lalu.

Untuk 2027, median proyeksi menunjukkan tidak ada kenaikan suku bunga tambahan. Namun, delapan pejabat masih mendukung kenaikan sebesar 25 basis poin hingga akhir 2027 dibandingkan posisi saat ini. Hanya 18 dari 19 pejabat The Fed yang menyerahkan proyeksi suku bunga untuk 2026 dan 2027.

Keputusan The Fed diambil setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan inflasi inti Agustus tumbuh lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi mulai meluas dan tidak lagi hanya dipengaruhi oleh tarif perdagangan serta dampak perang Iran terhadap harga energi.

Keputusan menaikkan suku bunga juga berseberangan dengan sikap Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga dan mengancam meningkatkan perang dagang jika hal itu tidak dilakukan.

Meski kembali menaikkan suku bunga, The Fed tetap menilai kondisi ekonomi AS masih kuat. Warsh mengatakan perekonomian Negeri Paman Sam itu menunjukkan ketahanan yang baik dan belum menghadapi pengetatan kondisi keuangan yang dapat menghambat pertumbuhan.

“Perekonomian Amerika tampaknya sedang menguat,” kata Warsh. “Dengan ketahanan tersebut dan potensi yang lebih besar, saya melihat optimisme di antara anggota FOMC dalam dua hari terakhir.”

Dalam pernyataan pasca-pertemuan, para pejabat The Fed juga menggambarkan kondisi ekonomi secara positif. Mereka menyebut pertumbuhan produktivitas dan investasi modal tetap kuat, sementara penciptaan lapangan kerja masih mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja.

Namun, para pejabat kembali menyatakan inflasi masih berada di level tinggi. The Fed pun menunda satu tahun perkiraan pencapaian target inflasi 2% dari sebelumnya menjadi pada 2029.