Tagihan Listrik Naik Sampai 90%, Pabrik Raksasa Terancam Bangkrut

Tagihan Listrik Naik Sampai 90%, Pabrik Raksasa Terancam Bangkrut

Jakarta, CNBC Indonesia - Pesatnya demam kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) global tidak hanya mendatangkan berkontribusi pada inovasi teknologi, tetapi juga memicu krisis multi-sektor yang nyata. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah meledaknya krisis listrik akibat nafsu besar pembangunan data center AI berskala raksasa.

Dampaknya kini mulai mencekik sektor riil. Ambil contoh di Sugarcreek, Ohio, Amerika Serikat (AS)-sebuah wilayah pedesaan yang dijuluki sebagai "Swiss Kecil Ohio". Di wilayah ini, lonjakan tarif listrik melambung tinggi demi menyokong kebutuhan energi data center AI yang masif.

Korban langsungnya adalah Belden Brick Company, pabrik batu bata swasta terbesar di AS yang telah beroperasi selama 141 tahun. Perusahaan ini mengeluhkan tagihan listrik bulanannya meroket hingga 90% sepanjang tahun lalu.

Tagihan bulanan pabrik sepuh tersebut melonjak dari semula US$1.600 (sekitar Rp28 juta) menjadi tembus US$12.000 (sekitar Rp215 juta), dikutip dari Reuters. Belden Brick hanyalah puncak gunung es dari penderitaan pabrik-pabrik manufaktur lain di AS akibat ekspansi data center.

Reuters mencatat, kenaikan tagihan listrik untuk sektor pabrik terpantau melonjak jauh lebih cepat ketimbang tagihan listrik rumah tangga maupun bisnis komersial lainnya.

Ancaman Nyata bagi Industri Manufaktur AS

Kondisi ini memicu gelombang protes dan keluhan dari masyarakat hingga pemerintah daerah kepada otoritas federal. Pemerintah mendesak raksasa teknologi untuk membayar lebih besar guna menanggung beban energi tersebut. Namun, kebijakan yang diusulkan kerap menuai polemik karena menyamaratakan pabrik kecil dengan raksasa teknologi seperti Meta dan Amazon-di mana konsumsi energi perusahaan big tech bisa mencapai 50 kali lipat lebih besar dibanding pabrik manufaktur besar sekalipun.

Berdasarkan proyeksi Lembaga Energi Internasional (IEA) untuk periode 2025-2030, data center diproyeksikan bakal menguras pasokan listrik terbesar di AS hingga mencapai 203,4 terawatt-hours (twh). Angka ini jauh melampaui sektor industri di peringkat kedua yang memakan 62,6 twh, disusul sektor transportasi (58,5 twh), heat pump (37,8 twh), hingga sektor pendingin (28 twh).

Lonjakan biaya listrik dan ketidakpastian regulasi ini dinilai mengancam ambisi besar Presiden AS Donald Trump yang getol memprioritaskan kebangkitan manufaktur domestik.

Jika tekanan biaya terus berlanjut, para pelaku industri terpaksa dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga jual produk, menahan laju pertumbuhan, atau bahkan mempertimbangkan opsi relokasi pabrik ke wilayah lain. Belden Brick sendiri mengaku telah menaikkan harga batu bata hingga 4%, namun margin keuntungannya tetap saja tergerus.

Tanggapan Pemerintah dan Pelaku Industri

Menanggapi situasi ini, pihak Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Trump telah mengambil langkah antisipatif. Langkah tersebut mencakup fasilitasi penandatanganan "ikrar perlindungan bagi pelanggan listrik" oleh perusahaan teknologi awal tahun ini, serta instruksi pembangunan pembangkit listrik baru di wilayah PJM yang didanai langsung oleh raksasa teknologi.

Di sisi lain, para pendukung industri data center berdalih bahwa ekspansi masif ini justru mendorong investasi yang selama ini tertunda pada modernisasi jaringan listrik AS. Mereka juga menyoroti faktor lain seperti penonaktifan pembangkit listrik tua dan keterbatasan kapasitas transmisi sebagai pemicu kenaikan biaya.

Pertumbuhan data center saat ini "membuat kita akhirnya harus bergulat dengan keputusan-keputusan sulit yang memang mau tidak mau harus kita hadapi," ujar Aaron Tinjum, Wakil Presiden bidang Energi di Data Center Coalition.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]