Singapura ungkap langkah untuk perkuat dukungan bagi keluarga

Singapura ungkap langkah untuk perkuat dukungan bagi keluarga

Singapura (ANTARA) - Singapura akan memperkuat dukungan bagi keluarga dengan meningkatkan cuti pengasuhan anak, memperluas bantuan keuangan untuk anak, mengurangi biaya prasekolah, dan meningkatkan akses perumahan, kata Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong pada Minggu (23/8).

Berdasarkan skema cuti pengasuhan anak yang baru, setiap orang tua yang bekerja akan menerima delapan hari cuti setiap tahun untuk satu anak berusia 12 tahun ke bawah, 10 hari untuk dua anak, dan 12 hari untuk tiga anak atau lebih, katanya saat menyampaikan pidato Rapat Umum Hari Nasional 2026.

Setiap bayi yang baru lahir akan menerima dukungan keuangan langsung senilai hampir 70.000 dolar Singapura (1 dolar Singapura = Rp13.943) atau 55.141 dolar AS (1 dolar AS = Rp17.705) selama masa kanak-kanaknya, termasuk kredit anak tahunan dan tambahan bantuan terkait pendidikan.

Pemerintah Singapura juga berencana untuk mengurangi biaya penitipan anak sehari penuh menjadi 150 dolar Singapura per bulan dan biaya perawatan bayi menjadi 300 dolar Singapura per bulan, terlepas dari pendapatan rumah tangga, sembari memberikan subsidi tambahan kepada keluarga berpenghasilan rendah.

Pemerintah juga akan meningkatkan batas pendapatan rumah tangga untuk perumahan publik bersubsidi dan meningkatkan prioritas bagi keluarga yang baru pertama kali memiliki anak dalam mendapatkan unit hunian baru, sebagai bagian dari langkah yang lebih luas untuk membantu warga Singapura membangun keluarga.

Lebih lanjut, pemerintah Singapura akan menaikkan batas pendapatan untuk unit hunian Build-to-Order bersubsidi menjadi 16.000 dolar Singapura dari 14.000 dolar Singapura dan untuk kondominium eksekutif menjadi 18.000 dolar Singapura dari 16.000 dolar Singapura.

Wong mengatakan langkah-langkah tersebut bertujuan untuk mendukung orang tua sepanjang perjalanan mereka membesarkan anak, daripada memusatkan bantuan hanya pada masa kelahiran.

Pewarta: Xinhua
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.