Self-Collection Jadi Cara Skrining HPV yang Lebih Praktis dan Minim Rasa Cemas!

Self-Collection Jadi Cara Skrining HPV yang Lebih Praktis dan Minim Rasa Cemas!

Masih takut skrining HPV? Kenali pentingnya deteksi dini kanker serviks dan metode Self-Collection yang lebih nyaman, praktis, dan privat. Pernah kepikiran untuk melakukan skrining HPV, tapi akhirnya mengurung...

Masih takut skrining HPV? Kenali pentingnya deteksi dini kanker serviks dan metode Self-Collection yang lebih nyaman, praktis, dan privat.

Pernah kepikiran untuk melakukan skrining HPV, tapi akhirnya mengurungkan niat karena masih takut atau merasa belum siap? Tenang, kamu nggak sendirian. Nyatanya, masih banyak perempuan yang menunda skrining kanker serviks bukan karena nggak peduli dengan kesehatan, melainkan karena rasa cemas, malu, hingga khawatir dengan hasil pemeriksaannya.

Padahal, semakin cepat melakukan skrining, semakin besar peluang untuk mendeteksi perubahan sel sejak dini sebelum berkembang menjadi kanker serviks. Kabar baiknya, kini proses skrining juga semakin mudah berkat adanya tes DNA HPV dengan metode Self-Collection, yang memberikan pilihan lebih nyaman dan privat bagi perempuan. Lalu, kenapa sebenarnya masih banyak yang ragu melakukan skrining? Dan benarkah metode Self-Collection bisa membantu perempuan lebih berani mengambil langkah pertama? Simak penjelasan dari Dr. dr. Tofan Widya Utami, SpOG, Subsp. Onk berikut ini.

Baca juga: 3 Langkah Sederhana Memulai Skrining Kanker Serviks dengan Tes HPV DNA Tanpa Rasa Takut

Kenapa masih banyak perempuan takut melakukan skrining HPV?

cek hpv

Menurut dr. Tofan, hambatan terbesar bukan karena perempuan tidak peduli terhadap kesehatannya. Justru, berbagai penelitian menunjukkan bahwa alasan yang paling sering muncul berasal dari kombinasi faktor psikologis, budaya, hingga akses layanan kesehatan. Salah satu ketakutan yang paling umum adalah rasa cemas jika hasil pemeriksaan menunjukkan HPV positif.

Padahal, hasil positif bukan berarti seseorang sudah menderita kanker serviks. Dalam banyak kasus, hasil tersebut menunjukkan adanya infeksi HPV yang masih memerlukan evaluasi lebih lanjut. Selain itu, banyak perempuan juga merasa tidak nyaman membayangkan pemeriksaan panggul menggunakan spekulum.

Pemeriksaan ini sering dianggap invasif, memalukan, atau bahkan menyakitkan, terutama bagi mereka yang belum pernah menjalani pemeriksaan ginekologi sebelumnya. Masih ada pula anggapan bahwa skrining belum diperlukan jika tubuh terasa sehat. Padahal, infeksi HPV umumnya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga seseorang bisa saja terinfeksi tanpa menyadarinya.

Tak hanya itu, beberapa faktor lain yang juga kerap menjadi penghalang antara lain, takut terhadap stigma karena HPV merupakan infeksi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual, kurangnya dukungan dari pasangan atau keluarga, keterbatasan waktu, sulit mengakses fasilitas kesehatan, dan kekhawatiran mengenai biaya pemeriksaan. Menurut dr. Tofan, berbagai penelitian bahkan menunjukkan bahwa rasa takut, malu, dan cemas menjadi salah satu penyebab utama rendahnya angka skrining kanker serviks di berbagai negara.

Justru saat belum ada gejala adalah waktu terbaik untuk skrining

cek hpv

Banyak orang berpikir bahwa pemeriksaan baru diperlukan ketika sudah muncul keluhan. Padahal, konsep skrining justru berbeda. β€œTujuan utama skrining adalah menemukan kelainan atau penyakit sedini mungkin sebelum muncul gejala,” jelas dr. Tofan.

Sebagian besar perempuan yang mengalami infeksi HPV maupun lesi prakanker tidak merasakan keluhan apa pun. Tidak ada nyeri, tidak ada perdarahan, bahkan aktivitas sehari-hari tetap berjalan seperti biasa. Ketika gejala mulai muncul, penyakit sering kali sudah memasuki stadium yang lebih lanjut.

Yang perlu diketahui, perjalanan infeksi HPV hingga berkembang menjadi kanker serviks umumnya berlangsung dalam waktu yang cukup panjang, yaitu sekitar 10–20 tahun, bahkan bisa mencapai 30 tahun pada sebagian kasus. Artinya, terdapat kesempatan yang sangat besar untuk mendeteksi perubahan sejak dini melalui skrining.

Baca juga: Lagi Viral, Apa Benar Sleepmaxxing Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak? Ini Faktanya!

Karena itu, perempuan tidak perlu menunggu merasa sakit atau memiliki gejala tertentu untuk melakukan pemeriksaan. Justru ketika kondisi tubuh masih sehat, itulah waktu terbaik untuk mulai skrining.

Self-Collection, pilihan skrining yang lebih nyaman dan privat

cek hpv

Salah satu inovasi yang kini membantu meningkatkan partisipasi skrining adalah metode Self-Collection atau self-sampling. Melalui metode ini, perempuan dapat mengambil sendiri sampel dari saluran vagina menggunakan alat berupa swab atau sikat kecil sesuai petunjuk. Sampel tersebut kemudian akan diperiksa di laboratorium menggunakan teknologi DNA HPV berbasis PCR untuk mendeteksi tipe HPV risiko tinggi.

Yang perlu dipahami, metode pemeriksaannya tetap menggunakan teknologi laboratorium yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada cara pengambilan sampel. Jika sebelumnya pengambilan sampel dilakukan oleh tenaga kesehatan menggunakan spekulum saat pemeriksaan panggul, kini perempuan dapat mengambil sampel sendiri. Dalam implementasi program skrining di Indonesia saat ini, proses Self-Collection tetap dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan atau kader yang telah mendapatkan pelatihan.

Menurut dr. Tofan, metode ini diharapkan mampu mengurangi hambatan yang selama ini membuat banyak perempuan menunda skrining. WHO sendiri sejak tahun 2021 telah menyatakan bahwa Self-Collection dapat digunakan sebagai alternatif pengambilan sampel apabila menggunakan tes DNA HPV yang telah tervalidasi. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa akurasi metode ini hampir setara dengan sampel yang diambil tenaga kesehatan apabila menggunakan pemeriksaan DNA HPV berbasis PCR yang tervalidasi.

Kenapa Self-Collection membuat lebih banyak perempuan berani skrining?

Menurut dr. Tofan, jawabannya sederhana: karena metode ini menghilangkan banyak hambatan yang selama ini membuat perempuan enggan melakukan pemeriksaan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketika perempuan diberikan pilihan Self-Collection, angka partisipasi skrining meningkat secara signifikan, bahkan pada beberapa penelitian bisa mencapai hampir dua kali lipat, terutama pada mereka yang sebelumnya belum pernah melakukan skrining.

Ada beberapa alasan mengapa metode ini lebih mudah diterima, di antaranya memberikan rasa privasi yang lebih baik, mengurangi rasa malu saat pemeriksaan, nggak perlu membayangkan penggunaan spekulum yang sering dianggap menakutkan, membantu perempuan yang memiliki keterbatasan waktu, dan membuat perempuan merasa memiliki kendali lebih besar terhadap proses pemeriksaan.

Meski demikian, dr. Tofan menegaskan bahwa Self-Collection bukan berarti seluruh proses dilakukan sendiri tanpa pendampingan sistem kesehatan. Apabila hasil tes DNA HPV menunjukkan hasil positif, pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan sesuai pedoman nasional agar dokter dapat menentukan langkah penanganan yang tepat.

Jangan tunggu rasa takut hilang dulu

Rasa takut memang wajar. Namun, menurut dr. Tofan, jangan sampai rasa tersebut justru membuat kita kehilangan kesempatan untuk melindungi kesehatan diri sendiri. β€œKanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling bisa dicegah melalui vaksinasi HPV sebagai pencegahan primer dan skrining sebagai pencegahan sekunder,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kanker serviks hampir selalu tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, menunggu sampai muncul keluhan justru berarti melewatkan kesempatan terbaik untuk menemukan perubahan sejak dini.

Pesan dr. Tofan sederhana namun penting: jangan menunggu sampai benar-benar merasa siap. Saat ini sudah tersedia pilihan skrining yang lebih nyaman melalui metode Self-Collection, sehingga perempuan bisa mulai mengambil langkah pertama tanpa harus terus dibayangi rasa cemas.

Baca juga: Meskipun Nggak Punya Gejala, Kenapa Harus Skrining Kanker Serviks secara Rutin?

Pada akhirnya, skrining bukan dilakukan untuk mencari penyakit, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri. Semakin cepat dilakukan, semakin besar peluang untuk mendeteksi perubahan lebih awal dan mencegah kanker serviks berkembang di kemudian hari.

Jadi, kalau selama ini kamu masih berkata, β€œNanti saja kalau sudah siap,” mungkin sekarang saatnya mengubahnya menjadi, β€œAku mulai sekarang, demi kesehatan masa depan.”

Images: Dok. iStock