Selain Diprotes Masalah Layanan di Indonesia, Hyundai juga Didemo Pekerja di Korea Selatan karena AI

Selain Diprotes Masalah Layanan di Indonesia, Hyundai juga Didemo Pekerja di Korea Selatan karena AI

Jum'at, 21 Agustus 2026, 22:18 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Belum usai menghadapi polemik layanan konsumen terkait Hyundai Ioniq 5 milik influencer Aa Juju, Hyundai Motor kini kembali menghadapi persoalan. Sekitar 3.000 pekerja Hyundai Motor menggelar pemogokan kerja di depan kantor pusat perusahaan di Seoul, Korea Selatan, pada Jumat (21/8/2026).

Aksi tersebut merupakan pemogokan pertama dalam satu dekade terakhir. Para pekerja yang tergabung dalam serikat pekerja Hyundai Motor memprotes kebuntuan negosiasi upah sekaligus menyuarakan kekhawatiran terhadap ancaman otomatisasi di lingkungan kerja.

Aksi mogok berdampak langsung terhadap kegiatan manufaktur Hyundai Motor. Berdasarkan laporan kantor berita Yonhap, gangguan produksi mencapai 55.200 kendaraan dengan estimasi kerugian sebesar 2,3 triliun won.

Perselisihan dengan pekerja berlangsung ketika Hyundai Motor juga menghadapi tekanan terhadap kinerja penjualan. Perusahaan memperkirakan target penjualan global berpotensi tidak tercapai akibat persaingan ketat dari produsen otomotif China di pasar Eropa dan penurunan penjualan di pasar domestik.

Serikat pekerja mengajukan sejumlah tuntutan dalam negosiasi dengan manajemen. Tuntutan tersebut antara lain kenaikan batas usia pensiun, peningkatan bonus tahunan dari 750 persen menjadi 800 persen dari gaji pokok, serta jaminan perlindungan lapangan kerja di tengah meningkatnya penggunaan otomatisasi.

Kekhawatiran pekerja semakin kuat setelah Hyundai Motor berencana mengoperasikan robot humanoid di fasilitas produksi Georgia, Amerika Serikat, pada 2028. Teknologi tersebut juga direncanakan diperluas ke berbagai fasilitas manufaktur Hyundai di dunia.

Serikat pekerja menilai penerapan kecerdasan buatan tidak hanya berpotensi memengaruhi pekerja di lini perakitan, tetapi juga dapat berdampak terhadap divisi penelitian dan teknik otomotif.

Perwakilan pekerja menegaskan penolakan terhadap ancaman otomatisasi dan menyatakan kekhawatiran terhadap masa depan tenaga kerja. Serikat pekerja juga masih membuka ruang untuk melanjutkan negosiasi upah, tetapi siap kembali mempertimbangkan aksi mogok apabila tidak mendapatkan proposal yang dinilai berorientasi pada masa depan.

Persoalan pekerja ini muncul ketika Hyundai masih menghadapi sorotan terkait pelayanan konsumen di Indonesia. Polemik tersebut bermula dari pengalaman influencer Aa Juju menggunakan Hyundai Ioniq 5 yang dibelinya secara tunai.

Aa Juju sebelumnya membagikan sejumlah keluhan mengenai kendala kendaraannya di media sosial. Persoalan yang disampaikan mencakup mobil yang sempat tidak dapat melakukan pengisian daya cepat atau fast charging, masalah setelah kendaraan diparkir paralel dalam waktu lama, hingga mobil yang sempat mati.

Keluhan tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan antara Aa Juju dan supervisor sales di salah satu dealer Hyundai. Rekaman percakapan keduanya viral dan memunculkan sorotan terhadap kualitas pelayanan kepada konsumen.

Head of Public Relation PT Hyundai Motors Indonesia Rouli Sijabat menyatakan perusahaan telah menerima masukan tersebut dan melakukan penanganan serta penelusuran secara menyeluruh. Evaluasi tidak hanya diarahkan pada persoalan teknis kendaraan, tetapi juga pengalaman konsumen ketika berinteraksi dengan tim sales dan layanan purnajual.

Baca Juga: Viral Ioniq 5 Aa Juju Bermasalah Usai Parkir Paralel, Ini Respons Hyundai

Supervisor sales yang terlibat dalam perdebatan tersebut juga telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui bahwa sikap pelayanan yang ditunjukkannya tidak semestinya.

Dengan demikian, Hyundai saat ini menghadapi dua persoalan berbeda. Di Indonesia, perusahaan masih menelusuri polemik terkait pengalaman konsumen Ioniq 5. Sementara di tingkat global, Hyundai Motor menghadapi aksi pekerja yang mempersoalkan upah, perlindungan pekerjaan, dan rencana peningkatan otomatisasi.

Manajemen Hyundai Motor menilai kerja sama antara perusahaan dan pekerja menjadi penting untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah perubahan industri otomotif global dan transisi menuju teknologi mobilitas masa depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.