Satya Nadella: Bisnis yang Hanya Mengandalkan Satu AI Berisiko Tidak Bertahan

Satya Nadella: Bisnis yang Hanya Mengandalkan Satu AI Berisiko Tidak Bertahan

Bagikan: JAKARTA – Chief Executive Officer (CEO) Microsoft, Satya Nadella, memperingatkan perusahaan agar ti...

Bagikan:

JAKARTA – Chief Executive Officer (CEO) Microsoft, Satya Nadella, memperingatkan perusahaan agar tidak bergantung sepenuhnya pada satu model kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, strategi tersebut dapat membuat bisnis kehilangan kendali atas data, proses kerja, hingga kemampuan berinovasi, yang pada akhirnya berisiko mengancam keberlangsungan perusahaan.

Dalam wawancara di program Fareed Zakaria GPS yang ditayangkan CNN, Nadella kembali menegaskan peringatan yang sebelumnya telah ia sampaikan pada awal bulan ini. Ia mengatakan perusahaan yang menyerahkan seluruh data, riwayat interaksi, hingga perintah (prompt) kepada satu penyedia AI pada dasarnya telah "mengalihdayakan cara berpikir mereka."

BACA JUGA:


Nadella menilai perusahaan perlu mempertahankan kendali penuh atas metadata setiap kali berinteraksi dengan model AI. Menurutnya, informasi seperti riwayat operasional, konteks, memori, hingga alat bantu pemrograman sebaiknya dipisahkan dari model AI agar tetap menjadi aset perusahaan.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat memanfaatkan data yang dimiliki untuk menyempurnakan model AI berbobot terbuka (open-weight model) atau membangun sistem AI sendiri di masa mendatang.

Ia juga menyarankan perusahaan tidak terikat pada alat bantu pemrograman yang disediakan langsung oleh penyedia model AI, seperti ChatGPT Codex milik OpenAI maupun Claude Code dari Anthropic.

Sebagai alternatif, Nadella mendorong penggunaan lapisan independen yang disebut AI gateway. Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan perusahaan menggunakan berbagai model AI sesuai kebutuhan tanpa bergantung pada satu penyedia.

"Jika suatu saat salah satu model tidak lagi tersedia, perusahaan tetap memiliki kendali penuh atas sistem dan alur kerjanya," kata Nadella.

Selain persoalan ketergantungan terhadap vendor (vendor lock-in), Nadella juga menyoroti risiko persaingan yang muncul ketika perusahaan membagikan proses bisnis internal kepada penyedia AI.

Menurutnya, ketika sebuah perusahaan mengintegrasikan agen AI secara mendalam ke dalam operasionalnya, penyedia model AI berpotensi memahami cara kerja bisnis tersebut. Kondisi itu dinilai dapat membuka peluang bagi penyedia AI untuk menghadirkan layanan serupa yang bersaing secara langsung.

Pandangan tersebut sejalan dengan kekhawatiran yang sebelumnya disampaikan investor modal ventura Jason Calacanis. Pada Mei lalu, Calacanis mengingatkan para pendiri perusahaan rintisan yang tergabung dalam Y Combinator agar berhati-hati menerima kredit penggunaan AI gratis dari OpenAI.

Ia menilai penggunaan fasilitas tersebut berpotensi memberikan kesempatan kepada penyedia AI untuk mempelajari produk yang sedang dikembangkan perusahaan rintisan, kemudian menghadirkan fitur serupa secara langsung di platform mereka.

Meski demikian, Nadella membedakan pendekatan tersebut antara pelanggan korporasi dan pengguna individu. Saat ditanya mengenai perlindungan data pribadi bagi konsumen, ia mengatakan berbagi data merupakan bagian dari pertukaran nilai yang umum terjadi pada layanan digital gratis, serupa dengan model bisnis internet yang didukung iklan.

Di sisi lain, Microsoft juga memiliki kepentingan bisnis dalam ekosistem AI. Selain menjadi investor di OpenAI dan Anthropic, perusahaan tersebut menyediakan layanan infrastruktur komputasi awan serta AI gateway yang dapat digunakan perusahaan untuk mengelola berbagai model AI.

Meski memiliki kepentingan komersial, Nadella menilai fleksibilitas dalam memilih model AI akan menjadi faktor penting bagi perusahaan di tengah meningkatnya penggunaan model AI berbobot terbuka yang dinilai lebih efisien sekaligus memberi kendali lebih besar terhadap data dan alur kerja internal.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+