Saham Big Banks Melemah Usai BI Tahan Suku Bunga, Simak Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Analis memberikan rekomendasi saham emiten perbankan di tengah keputusan BI yang menahan suku bunga acuan di level 5,75% (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID β JAKARTA. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar kompak ditutup di zona merah setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 22 Juli 2026.
Selain mempertahankan BI Rate, BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan.
BI juga memperluas sejumlah kebijakan insentif guna meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA), serta meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang maupun perbankan.
Baca Juga: Zurich Waspadai Sejumlah Faktor yang Bisa Pengaruhi Kinerja Asuransi Properti
"Keputusan BI-Rate dan kebijakan lain dimaksud merupakan bagian terintegrasi dari bauran kebijakan Bank Indonesia yang tetap konsisten," ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (22/7/2026).
Meski demikian, keputusan tersebut belum mampu mengangkat saham-saham bank.
Pada perdagangan Rabu (22/7/2026), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kompak ditutup melemah.
Saham BBCA turun 0,38% ke level Rp6.500 per saham dari harga pembukaan Rp 6.525. Secara year to date (YTD), saham BBCA masih terkoreksi 19,50%.
Saham BMRI juga melemah 1,34% ke level Rp 4.420 per saham setelah sempat dibuka menguat di level Rp 4.490. Sejak awal tahun, saham BMRI telah turun 13,33%.
Hal serupa terjadi pada saham BBNI yang turun 0,28% menjadi Rp 3.610 per saham dari harga pembukaan Rp 3.640. Secara YTD, saham BBNI telah melemah 17,39%.
Adapun saham BBRI ditutup turun 1,63% ke level Rp 3.020 per saham setelah sempat dibuka di level Rp 3.080. Sejak awal tahun, saham BBRI telah terkoreksi 17,49%.
Baca Juga: Pergadaian Dapat Jalankan Pinjaman Berbasis Dokumen, Ini Kata Gadai ValueMax
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pelemahan saham-saham perbankan lebih dipengaruhi aksi ambil untung (profit taking) setelah reli yang cukup kuat dalam beberapa sesi terakhir dibandingkan dampak keputusan BI.
Menurutnya, keputusan BI mempertahankan suku bunga sudah sepenuhnya sesuai ekspektasi pasar sehingga tidak memberikan kejutan (no surprise effect) bagi investor.
"Pelemahan saham-saham perbankan lebih dipengaruhi oleh aksi profit taking setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa sesi sebelumnya. Di sisi lain, keputusan BI mempertahankan suku bunga memang sesuai ekspektasi pasar sehingga tidak memberikan katalis baru," ujar Nafan kepada Kontan.
Ia menambahkan, perhatian investor kini mulai bergeser ke prospek pertumbuhan kredit, perkembangan biaya dana (cost of fund), kualitas aset, hingga kinerja keuangan perbankan semester II-2026.
Menurut Nafan, keputusan BI mempertahankan BI Rate secara keseluruhan masih menjadi sentimen netral hingga positif bagi saham perbankan.
"Stabilnya BI Rate memberikan kepastian bagi pelaku pasar dan menjaga stabilitas sektor keuangan. Namun dalam jangka pendek, respons harga saham terbatas karena keputusan tersebut sudah diantisipasi investor," katanya.
Selanjutnya, pergerakan saham bank akan lebih dipengaruhi realisasi laba, pertumbuhan kredit, perkembangan likuiditas, serta arah biaya dana masing-masing bank.
Baca Juga: Permintaan Kredit Belum Pulih, Kredit Menganggur Perbankan Masih Menumpuk
Ia bilang, bank-bank besar seperti BBCA dan BMRI relatif lebih diuntungkan karena memiliki komposisi dana murah (current account saving account / CASA) yang tinggi sehingga tekanan biaya dana lebih terkendali.
Sementara itu, BBRI masih menarik karena ditopang segmen mikro yang memiliki margin bunga bersih (net interest margin / NIM) relatif tinggi, meski kualitas kredit tetap perlu dicermati. Adapun BBNI dinilai berpotensi memperoleh manfaat apabila pertumbuhan kredit korporasi tetap solid.
Nafan menambahkan, saham-saham bank besar masih menjadi salah satu tujuan utama investor asing ketika arus modal kembali masuk ke pasar saham Indonesia.
"Likuiditas yang tinggi, fundamental yang solid, profitabilitas yang konsisten, serta bobot yang besar dalam indeks menjadikan sektor perbankan sebagai pilihan utama ketika arus dana asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Meski demikian, dalam jangka pendek tetap dapat terjadi rotasi sektor maupun aksi ambil untung," ujarnya.
Nafan merekomendasikan accumulative buy untuk BBCA dengan target harga Rp 7.900, BMRI Rp 4.720, BBRI Rp 3.220, BBNI Rp 4.020, serta BRIS Rp 2.260.
Senada, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan, pelemahan saham perbankan lebih mencerminkan aksi ambil untung setelah penguatan sepanjang Juli dibandingkan respons terhadap keputusan BI.
Selain keputusan suku bunga, menurutnya investor juga mencermati pandangan BI mengenai prospek nilai tukar, kondisi likuiditas, serta arah kebijakan moneter ke depan.
"Investor saat ini juga cenderung menunggu katalis berikutnya seperti musim laporan keuangan kuartal II 2026, pembahasan APBN 2027, dan keberlanjutan arus dana asing," ujarnya.
Andrey memandang keputusan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75% merupakan sentimen netral hingga sedikit positif bagi sektor perbankan karena memberikan kepastian bahwa tekanan kenaikan suku bunga kemungkinan telah mencapai puncaknya.
Dengan demikian, tekanan terhadap biaya dana diperkirakan mulai mereda, meski perbaikan margin bunga bersihΒ NIMΒ masih berlangsung secara bertahap karena proses penyesuaian suku bunga aset dan liabilitas membutuhkan waktu.
Menurut Andrey, bank dengan porsi CASA yang besar akan lebih mampu mempertahankan profitabilitas dalam lingkungan suku bunga tinggi.
"BBCA tetap menjadi pilihan paling defensif karena memiliki struktur pendanaan yang sangat kuat. Sementara BMRI dan BRIS juga berada dalam posisi yang baik berkat pertumbuhan kredit yang sehat dan kualitas aset yang terjaga. BBTN juga memiliki prospek positif melalui ekspansi kredit pensiun yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi," jelasnya.
RHB Sekuritas pun masih mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan.
Baca Juga: Intip Strategi SMF untuk Capai Target Laba pada Tahun 2026
Ke depan, Andrey memperkirakan, pertumbuhan kredit industri perbankan tetap berada di kisaran 10%β11% pada 2026. Sementara tekanan terhadap NIM diperkirakan mulai mereda apabila biaya dana semakin stabil.
"Dengan fundamental yang tetap kuat dan valuasi yang masih atraktif, kami tetap optimistis terhadap prospek saham-saham bank besar dalam jangka menengah," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag
- saham bank
- Saham Bank Big Four
- Saham Bank Besar
- Saham Bank Jumbo
- Kinerja Saham Bank