Saham Bank Kompak Melemah, Ini Sentimen Penggeraknya di Pekan Ini

Saham Bank Kompak Melemah, Ini Sentimen Penggeraknya di Pekan Ini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham perbankan kompak terkoreksi pada penutupan perdagangan Senin (7/9/2026). Di jajaran bank besar, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 0,59% ke level Rp 3.370 per saham.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 1,12% menjadi Rp 6.625, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang turun 0,68% ke Rp 4.390 dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkoreksi 0,76% ke Rp 3.910 per saham.

Di kelompok bank digital, saham PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) turun tipis 0,21% menjadi Rp 4.670 per saham. Saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) turun 2,22% ke Rp 264, sedangkan PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) melemah 0,85% menjadi Rp 234 per saham.

Baca Juga: Perbarindo Dorong Sinergi dan Daya Saing BPR

Sementara itu, saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) turun 2,86% menjadi Rp 1.020 per saham. Adapun saham PT Bank Raya Indonesia Tbk (ARGO) menguat 1,31% ke level Rp 155 per saham.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai, prospek saham perbankan pada pekan ini masih cenderung positif, terutama pada saham bank berkapitalisasi besar.

"Secara teknikal terdapat potensi konsolidasi maupun koreksi jangka pendek akibat profit taking. Pelemahan pada perdagangan Jumat lalu menurut saya masih tergolong koreksi yang sehat dan belum mengubah outlook positif sektor perbankan," kata Ekky kepada Kontan, Senin (7/9/2026).

Karena itu, Ekky menilai strategi saat ini adalah buy on weakness saat terjadi koreksi, dibanding mengejar harga setelah rally.

Menurut Ekky, pergerakan saham bank pekan ini akan dipengaruhi nilai tukar rupiah, aliran dana asing, serta ekspektasi suku bunga global. Minat investor asing terhadap saham bank juga mulai kembali terlihat.

Selain itu, Ekky mengatakan kenaikan cadangan devisa Indonesia menjadi US$ 146,5 miliar pada Agustus 2026 turut menjadi sentimen positif bagi stabilitas eksternal dan rupiah.

Dari dalam negeri, Ekky menilai pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai sekitar 13,58% secara tahunan pada Juli 2026 juga menjadi katalis positif. Begitu pula dengan perpanjangan penempatan dana SAL Rp 200 triliun di bank-bank Himbara hingga Juli 2027 yang berpotensi menjaga likuiditas dan menekan cost of fund.

Baca Juga: SMI Salurkan Pembiayaan Syariah Rp 50,15 Miliar untuk Layanan Air Minum Cilacap

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sentimen eksternal, khususnya data tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat. Ekky mengatakan jika ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali menguat, tekanan terhadap rupiah dan aliran dana asing dapat meningkat dan memicu koreksi jangka pendek saham bank.

Ekky merekomendasikan BBRI dengan strategi buy on weakness. Area beli awal BBRI berada di kisaran Rp 3.300-Rp 3.350 per saham. Sementara jika koreksi berlanjut, area akumulasi berikutnya berada di Rp 3.230-Rp 3.260. Adapun target harga BBRI berada di kisaran Rp 3.400-Rp 3.430 untuk jangka pendek dan Rp 3.500-Rp 3.520 sebagai target utama.

Selain BBRI, Ekky menilai BMRI masih menarik sebagai alternatif, terutama untuk menangkap pertumbuhan kredit dan tambahan likuiditas di kelompok Himbara.